Kamis, 29 Desember 2022

Rengganing dan Camilan Tradisional Garut

Rengganing mentah basah

Ini disebut rengganing, ya. Beda dengan rangginang. Gak tahu juga mengapa nama keduanya agak mirip. Entah pula siapa yang duluan ada.
Rang atau reng? He he he....

Keduanya ginang-ganing, sama-sama renyah setelah digoreng  mekar merekah sekaligus mudah patah alias jadi remah.
Namun di kampung Cipeujeuh ini pada mulanya tidak kenal rengganing. Sampai ada Bi Dede Ihin yang orang Sukabumi diboyong suaminya beserta keempat anaknya pindah rumah pada tahun 1990-an.

Beliau punya keahlian bikin rengganing yang bisa dijual kepada para tetangga kampung. Semacam kerupuk berbentuk mie kecil namun dengan tekstur agak kasar karena terbuat dari tepung beras dan tepung tapioka (aci) dengan beragam bumbu dan pewarna makanan agar gurih serta menarik perhatian. .



Prosesnya sama seperti membuat kerupuk. Campur bahan, uleni sampai kalis dan mudah dibentuk dengan cara digiling pakai alat sederhana. Lalu dikukus dan dijemur kering sebelum digoreng.
Sengaja bikin status ini karena barangkali teman-teman bosan lihat iklan busana muslim dan aksesoris lain. 😀

Meski ujungnya sama, untuk jualan. Namun baru ide bisnis yang entah kapan bisa saya wujudkan,  karena terkendala modal serta peralatan untuk jualan di Opaklogy jenama saya.

Kini banyak yang menguasai cara membuat  rengganing. Biasanya perajin sini atau yang bisa bikin ramai membuat orderan atau untuk konsumsi pribadi saat jelang lebaran.

Ada juga yang menjualnya dengan cara keliling atau titip, namun pemasaran mentok di tempat alias stagnan karena bersifat musiman, keperluan hajatan, atau hanya untuk oleh-oleh saja.

Yah, keinginan saya sederhana, berjualan sambil bantu warga sekitar dengan memasarkan produk camilan mereka lewat Opaklogy. Jualan secara daring (online) di media sosial bahkan lokapasar jika sudah mapan.

Semoga suatu saat kelak ide bisnis yang masuk semifinalis 25 besar lomba Difabisa Astra bisa diwujudkan.

Selasa kemarin dalam acara Awarding Difabisa scara streaming di Zoom  saya gagal masuk finalis 5 besar karena konsepnya  kurang matang dibandingkan dengan teman-teman peserta lain yang sudah menyiapkan contoh produk ide bisnis mereka dan lancar bicara.

Tidak aoa-apa. Saya bisa berproses dan belajar banyak hal dari sejak ikut acara zoom meeting ibu Inklusif Difabelpreneur Class sampai pengajuan proposal hingga penjurian 25 besar lewat zoom. .

Foto dan video rengganing mentah basah diambil di rumah Bi Nyai Heri. Baru dikukus dan dijemur di tampah besar. Itu  entah untuk konsumsi sendiri atau pesanan.

Rengganing goreng
Rengganing Goreng


Rengganing kuning yang sudah digoreng foto lama dari stoples Bhunda Ayu waktu main ke rumahnya bareng Rana.

Setiap tekstur rengganing buatan warga berbeda. Ada yang renyah pisan mirip kerupuk karena lebih banyak takaran tapioka. Ada yang lebih banyak tepung berasnya.
Ada yang rasa terasi atau bawang, ada yang pakai pewarna makanan atau putih doang.

Yang jelas di kampung ini rengganing umurnya lebih muda daripada rengginang atau rangginang? Apalagi dibandingkan dengan opak singkong (kicimpring) dan opak ketan sangrai yang barangkali paling tua.
Cuma, entah muda mana rengganing atau opak elod. 🤣

Keberadaan pabrik penggilingan aci (tapioka)  memanfaatkan air ampas tapioka dan tepung tapioka sebagai bahan untuk membuat opak elod.

Jadi air ampas hasil endapan tapioka tidak terbuang percuma. Bisa dimanfaatkan untuk diolah sebagai bahan camilan. Bahkan produksi olahan elod yang sudah dimasak dengan berbagai cara dan bumbu sebagai sebring (seblak kering), termasuk menjanjikan. Membantu perekonomian warga desa untuk mandiri.

Ada banyak warga yang menguasai cara membuat camilan khas kampung. Dari opak-opakan sampai sebring-sebringan.

Namun, tidak semua memiliki cara untuk memasarkan produk mereka sehingga hanya warga tertentu yang gigih serta ditunjang sarana dan jaringan relasi mampu eksis.

Rutin memproduksi dan memasarkan. Meski sistemnya dengan cara titip ke warung atau pasar atau dijajakan keliling kampung. Bahkan kadang kirim ke luar kota.
Jalan, alangkah panjang membentang. Serupa bayang-bayang dan penuh tikungan sampai lubang mengangga yang siap menjatuhkan.

Tidak ada yang mulus untuk menjalani suatu proses.

Lagi-lagi menulis status panjang bernada serius. Apa sebaiknya dijadikan pos blog saja agar mudah dicari jika dibutuhkan atau untuk dibaca ulang?  Dengan tambahan.

Terkadang kita melihat keberhasilan orang lain sebagai sesuatu yang final. Lupa ada proses untuk berhasil, bahkan alami kegagalan. Yang bisa berulang.

Terkadang sesuatu yang dipikirkan lama sehingga menjadi cita-cita tidak selalu bisa segera diwujudkan. Akan datang suatu masa ketika terjadi saja apa yang dicita-citakan menjelma nyata,  bahkan tanpa disadari karena setiap hari menjalani proses untuk menjadi.

Barangkali sudah banyak yang mulai meninggalkan opak-opakan tradisional karena dianggap ribet cara membuatnya  sekaligus makan waktu lama. Namun ada filosofi yang diajarkan makanan tradisional tentang kesabaran mengolah sesuatu, sekaligus ketekunan dan kecepatan. Hanya saja harus bisa menyesuaikan dengan perubahan zaman.

Lihat saja pembuatan opak ketan, singkong, elod, rangginang,  rengganing, bahkan sebring. Para pembuatnya sistematis bekerja dengan cekatan, karena ada durasi waktu dalam proses membuat dan mematangkannya.

Kalau datang ke Desa Ciiwangi, selalu ada perajin camilan tradisional dan kekinian di setiap kampung. Beberapa telah sukses, beberapa lagi masih berupaya menggapai kesuksesan dalam segala keterbatasan.

Sebuah desa yang luasnya membentang dari ujung timur, barat, utara, dan selatan. Dengan luas wilayah yang akan membuatmu takjub.
 

Ternyata diam-diam ada sumber daya untuk menggerakkan roda perekonomian agar tidak stagnan digerus zaman.

Hanya dengan makanan!

Tulisan tentang elod akan saya tulis di lain kesempatan. 

Balubur Limbangan, Garut, 29 Desember 2022

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah singgah, silakan tinggalkan jejak komentar sebagai tanda persahabatan agar saya bisa lakukan kunjungan balik. Komentar sebaiknya relevan dengan isi tulisan. Nama komentator tidak langsung mengarah ke URL pos blog agar tidak menambah beban jumlah link pemilik blog ini. Jangan sertakan link hidup dan mati, apalagi iklan karena termasuk spam.Terima kasih banyak. Salam. @rohyatisofjan

Rengganing dan Camilan Tradisional Garut

Ini disebut rengganing, ya. Beda dengan rangginang. Gak tahu juga mengapa nama keduanya agak mirip. Entah pula siapa yang duluan ada. Ran...