Selasa, 01 Oktober 2019

Cara Mengatur Pemgeluaran Keuangan untuk Keluarga Buruh Bangunan

cara mengatur keuangan


SAYA sedih ketika suami membuat masalah yang memengaruhi keuangan keluarga kami. Seenaknya tanpa meminta pertimbangan istri, izin dulu pada bosnya untuk urus kebun selama sepekan padahal kerjaan proyek bikin rumah sedang berlangsung dan sibuk. Alasan suami menjengkelkan saya, dan barangkali bikin dia malah beroleh tambahan “diliburkan” paksa dari bosnya, 1 pekan lebih tidak kerja setelah izin sepekan. Entah hari lainnya soalnya sampai sekarang tiada kabar mengenai pekerjaan padahal proyek belum selesai.


Sungguh saya khawatir dia dipecat, tidak dapat kepercayaan lagi karena kerap berulah minta izin. Urus kebun di Cikareo, urus asam dari kebun Pak Wawan di Batukakapa karena Pak Wawan minta disegerakan dipanen, lalu kemarin izin urus kebun di Ciarus tanpa bilang dulu pada saya. Itu tindakan tidak etis yang bisa mengurangi nilai diri, mengakibatkan kesusahan pada anak dan istri. 

Baiklah, saya marah pada suami. Zaman sekarang cari kerja itu susah, lalu bagaimana jika tenaganya tidak dipakai lagi karena tidak punya kompetensi yang diinginkan para bos mana pun. Tidak ada lagi tukang yang mau menjadikannya sebagai asisten alias laden karena kinerjanya ada cela. Semestinya mampu membaca situasi, jangan meninggalkan pekerjaan untuk alasan tidak darurat apalagi sampai berhari-hari.

Sungguh saya malu karena tindakan suami sakarepna itu seakan ada yang tidak beres dalam komunikasi kami. Saya hanya tahu suami kerja, menjalani rutinitas yang sama setiap hari karena tanggung jawab. Tapi suami kerap tidak mendiskusikan hal yang berkaitan dengan uang atau pekerjaan. Juga tidak bilang kalau ada yang tidak beres atau ganjalan.

Saya tidak tahu mengapa suami sampai memutuskan minta izin beberapa hari meski saya tegur karena khawatir. Dia ngotot butuh waktu lama karena tanggung tidak akan cukup waktu urus kebun. Saya tanyakan apakah karena ditanya oleh pemilik kebun jadi gitu, malah dibantah. Kekhawatiran saya pada akhirnya terbukti. Intuisi istri kuat karena berkaitan dengan sikap.

Jika suami berbohong dengan bilang tidak ada yang menyuruhnya, mungkinkah terpengaruh omongan orang lain yang ingin menggarap kebun itu, jadi tidak enak dan membuat keputusan nyesek?

BACA  JUGA:  Cara Belajar yang Efektif untuk Anak Usia Dini

Sudah 10 tahun lebih saya hidup bersama suami, paham bahwa dia masih bersikap dan bersifat kurang dewasa jika menyangkut profesionalisme karena kurangnya wawasan dan pemahaman interaksi. Hal demikian bisa membuat saya frustrasi.

Ya, saya risau karena rezeki kami tidaklah berlebihan, bisa cukup sesuai standar kami atau malah terkadang pas-pasan. Sesuatu di mata orang lain bisa dianggap kurang karena tiada perubahan peningkatan taraf hidup, semisal mampu beli barang yang bagi kami mahal.

Saya risau karena rasanya telah membuat kesalahan dalam pengelolaan penghasilan suami. kami tidak punya utang kredit barang atau hal lainnya, tidak juga utang ke warung karena pola hidup kami asal bisa makan. Lebih ke sandang dan pangan. sandang itu hanya untuk biaya sekolah anak. Risau karena ada hal darurat di luar perkiraan saya. Uang upah suami telah habis sebelumnya untuk listrik, air, gas, beras, huut (dedak untuk pakan ayam), dan hal lainnya. Tabungan di bank sedikit dan itu dari honor job content placement blog saya.

Baiklah, saya telah membuat kesalahan dengan pengeluaran kami. Pola hidup sederhana tetapi kurang matang dalam alokasi dana. Sudah sisihkan uang sekian di dompet untuk hal darurat. Akan tetapi, jika suami tidak kerja terpaksa diambillah. Makanya saya sedih karena merasa gagal mengatur uang, apalagi setelah baca artikel teman sesama anggota WAG Fun for Blogwalking. Mbak Izzatun Nisa cerita soal pengalamannya yang ceroboh kelola uang zaman masih kerja, lalu membagikan infografis yang diperolehnya dari akun Instagram keuangan. Infografis itu bermanfaat sekali unjtuk diaplikasikan saya meski nilainya berbeda.

Berapa Harusnya Istri Buruh Bangunan Mengatur Cash Flow?


Upah suami tidak besar dan dibayar harian sesuai hari dan jam kerjanya. Bisa kerja 6 atau 7 hari dalam sepekan. Biasanya dibayar per 10 hari setelah masa kerja. Satu bulan bisa 24 hari masa kerja, dan jika ingin beroleh 30 hari masa kerja dengan 3 kali penerimaan gaji bisa sebulan lebih masanya.

Katakanlah bulan Juli dia kerja full sebulan dengan libur pada setiap Jumat, jadi hanya beroleh 24 hari upah kerja. Untuk 30 hari ada sambungannya di bulan Agustus. Upah laden untuk 1 hari kerja secara standar adalah 70 ribu rupiah dari pukul 7 pagi sampai 4 atau setengah 5 sore. Karena dibayar per 10 hari maka setiap bulan tidak pasti akan dapat berapa sebab ada masa harus berhenti dulu jika bahan belum datang atau ada hal lainnya.

Cash flow berarti arus kas, aliran uang yang masuk dan keluar. Cash flow kami mestinya pakai patokan bisa 10 hari, bisa 6 hari, bergantung siapa yang punya proyeknya. Cash flow yang baik adalah gaji dipotong sekian persen untuk beberapa pos utama berupa:

1. Sosial                        5%
2. Dana darurat            10%
3. Biaya hidup              40%
4. Tabungan                30%
5. Gaya hidup              15% 

Jika cash flow 10 harian, maka pengaturan saya mestinya begini:

GAJI                             %                         70.000 x 10 =700.000
1. Sosial                       5%                       35.000
2. Dana Darurat          10%                     70.000
3. Biaya hidup            40%                     280.000
4. Tabungan               30%                     210.000
5. Gaya hidup             15%                     105.000
Total                                                                    700.000
       
Saya sedih dan menyesal telat tahu info penting mengenai cara kelola uang yang baik dan benar, tidak memakai patokan pemisahan persentase. Saya hanya langsung alokasikan untuk beli sembako dan tagihan, berikut beras dan gas. Tidak memisahkan untuk tabungan secara khusus, apalagi sosial dan dana darurat. Segalanya bercampur jadi satu.

Bingung Cara Mengatur Pos Keuangan?

Iya, saya bingung cara mengatur pos di atas. Seharusnya sudah saya lakukan kala suami masih kerja dan beroleh penghasilan tetapnya karena rutin kerja dengan rajin.

Itu untuk 10 hari atau lebih, harus diupayakan ada sisa. Jika pos sosial untuk sumbangan tetangga hajatan maupun keperluan lain hanya 5%, berarti saya cuma bisa beri amplop 1 kali pada 1 hajatan saja. Sisanya untuk disimpan agar bisa diakumulasikan hal lain. Jadi jika 10 hari mendatang ada hajatan lagi saya cuma bisa hadir pada 1 saja, jika tidak ada hajatan berarti aman tersimpan untuk masa mendatang dan keperluan lain. Tapi biasanya tiap bulan ada iuran ronda dan kematian, atau iuran mendadak jika ada yang terlkena musibah jadi kami ikut menyumbang. Kadang saya gunakan uang pribadi dari honor menulis untuk sedekah.




Membuat anggaran dana darurat itu penting. Kita tidak tahu hal apa yang akan terjadi. Apakah mendadak harus gunakan dana darurat untuk kebutuhan anak atau sekadar beli lampu yang mati? Atau untuk beli token listrik 450 kwh seharga 20 ribu untuk 1 bulan lebih, bayar air, maupun  berobat? 10% dari total upah 10 hari berarti hanya 70.ribu rupiah saja, senilai upah kerja suami 1 hari.

Lalu yang terberat bagi saya adalah anggaran biaya hidup, bagaimana cara memisahkannya sesuai pos kebutuhan tersendiri? Beras saja 1 kg seharga 10 ribu di toko kampung, Suami biasa membeli 5 atau 10 kg beras dan tidak jelas kami menghabiskannya untuk berapa hari karena saya biasa menggunakan 3 cangkir kecil untuk menakar beras.

280 ribu rupiah itu harus dibagi untuk beras, bahan dapur, mandi, mencuci, lalu apa lagi? Bagaimana dengan gas dan jajan anak? Di sinilah saya bimbang. Uang saku Palung ke sekolah biasa 2 ribu atau 3 ribu rupiah, di rumah jajan 3 ribu atau 2 ribu rupiah. Sehari untuknya 4 atau 5 ribu rupiah. Sepertinya biaya hidup kami harus disesuaikan dengan kemampuan finansial. Mungkin kalau bisa belanja 10 ribu di warung dekat rumah tidak masalah karena ada sisa, sulitnya jika suami ingin rokok dan kopi atau saya ingin jajan.

Sepertinya pos yang sulit diprediksi adalah biaya hidup. Kebutuhan naik-turun sesuai bagaimana kami menjalani hari. Saya tidak tega jika keluarga kami tidak bisa menyeduh teh manis, atau membeli susu untuk Palung. Susu itu penting, haruskah ambil dari anggaran gaya hidup?  

Menabung butuh kesabaran dan ketelatenan, sayangnya saya kerap tidak telaten dalam menabung. Jika setiap gajian kami bisa menyisihkan 210 ribu dalam waktu 20 kali gajian bisa sisihkan uang 4.200.000, itu bisa dibelikan laptop baru. Sedihnya masa kerja suami jelas tidak akan bisa mencapai target itu karena akan ada masa untuk berhenti dulu jika proyek selesai atau menunggu bagian lain untuk mengecor dan membuat rangka bangunan.

Baiklah, ke depan jika suami bekerja lagi saya harus bertekad langsung menabungkan uangnya ke tempat aman, agar tiada godaan untuk menggunakannya meski sekadar belanja ke toserba kecamatan. Sayang jika suami bekerja keras tetapi hasil menguap karena saya tidak bisa menahan diri dari perilaku wajar yang ternyata dilarang.

Lupakan belanja roti dan selai atau keju di toserba, atau sekadar mie instan maupun spageti kemasan untuk Palung. Itu bukan untuk kami! Gaya hidip wajar membeli bahan pangan untuk keseharian harus ditiadakan dan mulai gaya hidup hemat sekaligus sederhana demi tujuan jangka panjang ke depan. Belanja ke toserba itu hanya bisa dilakukan sebagai bonus dari sekian persen honor menulis saya atau job blog.

Anggaran gaya hidup hanya 15% atau setengahn dari tabungan itu bisa untuk beli pulsa, setiap bulan biasa habis 2 kali untuk paket puas 20 ribu. Berarti 46 ribu sebulannya untuk ponsel Andromax Prime yang biasa dijadikan hotspot. Atau 53 ribu jika harus isi ponsel Andromax B dengan paket data 10 giga dari voucher seharga 30 ribu. Mungkin sisa anggaran gaya hidup bisa digunakan untuk jajan anak dan saya, maupun ayahnya yang ingin rokok dan kopi.

Lupakan turun gunung ke kota kecamatan untuk belanja di pasar maupun toserba, gunakan saja uang saya untuk itu. Tentu tidak boleh semuanya dan harus berupaya keras menabung dari penghasilan pribadi demi masa depan.

Saya tahu berat untuk hidip sebagai keluarga buruh bangunan, kami tidak punya sesuatu yang disebut harta benda berharga. Hidup hanya demi menjalani rutinitas harian, bukan berarti hanya diam.  
      

Rezeki dari Asam


Ketika suami harus memanen asam di kebun Pak Wawan dan mengangkut berkarung-karung ke rumah untuk kemudian diambil empunya kebun, suami beroleh izin untuk memanen sisanya agar bisa dijual sendiri. Alhamdulillah dapar 500 ribu lebih. Bersihnya diberikan pada saya 450 ribu setelah dipotong upah untuk tetangga yang bantu mengupas kulit asam.

Uang segitu besar artinya untuk beli beras, dan kebutuhan harian. Sayangnya saya gagal menerapkan arus keluar masuk uang karena lagi-lagi biaya campur aduk. Suami tetap tidak kerja juga, saya senewen dan tiga  kali jajan seblak 3 ribu rupiah. Harus beli gas, pulsa, sembako, dan jajan anak. Belum lagi rokok dan kopi. Sehari 2 kali merokok dan ngopi bisa habis 5 ribu rupiah. Itu sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit… boros!

Jadinya pencatatan yang saya lakukan gagal diterapkan jika tidak adanya pemasukan rutin. Uang seakan masuk untuk pada akhirnya keluar. Lagi-lagi saya merasa gagal. Suami yang sudah bekerja keras memanen dan mengangkut berikut mengupas asam, keringatnya habis dikuras urusan perut dan segala hal lainnya.

Uang sebesar itu mestinya bisa cukup untuk kami, ternyata ada hal yang terpaksa dikeluarkan karena sebelumnya tidak ada pos anggaran. Gas, pulsa, beras, dan huut adalah hal yang harus diutamakan selain belanja dapur.

Saya bikin pos anggaran dari uang 450 ribu rupiah itu:

Asam                                     %                                             450.000
1. Sosial                                5%                       22.500
2. Dana darurat                    10%                     45.000
3. Biaya hidup                      40%                     180.000
4. Tabungan                         30%                      135.000
5. Gaya hidup                      15%                      67.500

Tapi ternyata saya khilaf melakukan pencatatan pengeluaran secara detail. Makanya, ketika ada uang 50 ribu yang hilang dari dompet untuk tabungan saja jadi bingung. Ke mana memangnya? Anak dan suami tidak akan lakukan hal itu karena diselipkan di buku tabungan. Sedang di rumah banyak anak kecil yang suka main dan saya ceroboh taruh dompet di lemari tidak terkunci. Semoga saja mereka tidak ambil uang orang. Semoga kami beroleh ganti yang lebih baik lagi.

Belajar dari itu, saya beli buku khusus untuk melakukan pencatatan, tidak di buku lama bekas Palung karena takut tercecer. Hanya buku tulis biasa dan beberapa amplop untuk menyimpam pos keuangan. Semoga pencatatan yang saya lakukan bisa lebih rutin dan bisa meminimalkan kehilangan atau kebocoran. Juga jika ada yang aneh bisa diketahui.

Alhamdulillah, hari ini suami kembali kerja. Semoga untuk waktu yang lama di tempat biasa bareng bosnya. Sepertinya bos pemilik rumah sudah merasa cukup memberi pelajaran kepada suami, sekaligus kesempatan untuk mengurus kebun di Ciarus agar bisa fokus pada pekerjaan utama serta tidak khawatir dengan omongan orang lain yang ingin garap kebun milik keluarga Ipah sahabat saya.

Kami tidak punya tanah untuk rumah apalagi kebun, namun doakan semoga suatu saat kelak ada rezeki untuk beli tanah tempat rumah dan kebun serta sawah, agar kami bisa tenang sebagai keluarga yang sehari-hari bergulat dengan dunia pertanian. Suami memang hanya buruh kasar serabutan tetapi punya rasa cinta pada keluarga dan tanggung jawab yang besar.

Salam,
@rohyatisofjan (Twitter dan Instagram)

Cipeujeuh, 30 September-1 Oktober 2019
#SHSTOktober1 #keluarga #keuangan #cashflow #caramengaturposkeuangan #poskeuangan 

Sumber referensi:

28 komentar:

  1. Wah menarik nih. Thanks for share kak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sawangsulna, Kang Asep. Semoga bermanfaat.

      Hapus
    2. Sawangsulna, Kang Asep. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  2. penghasilan dari asam lumayan Mom. n_n mungkin itu yang terpikir oleh Bapak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, tetapi memanennya tidak mudah dan sangat berisiko, harus naik ke atas pohon dan menggoyang-goyangkannya sampai buah asam berjatuhan dari dahannya. Harus hati-hati sekali.

      Hapus
  3. Wah, semangaaatt Mbaaaa
    InsyaAllah ada rezeki dari arah yg tdk disangka2
    ALLAH MAHA BAIK, Mbaaa
    Rezeki bakal datang berkah dan melimpah, aamiiinn
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    BalasHapus
  4. aku pun skrg rempong banget ngatur keuangan, bahkan sampai bikin challenge, gimana caranya smpai bsa nabung

    BalasHapus
  5. Semangat Mbak... Terima kasih banyak udah ngeingetin saya juga buat lebih telaten mencatat cash flow. Selama ini saya males... jadi pencatatan keuangan amburadul *tutupmuka* Pastinya saya harus berbenah supaya keuangan keluarga tidak kacau.

    Terima kasih, sekali lagi.

    Semangat! semoga berkah dan insyaALlah dapat rezeki dari jalan yang tak disangka-sangka :)

    BalasHapus
  6. Mbaaaaa... masha Allah...
    terimakasih sudah menulis ini ya mba, banyak hal yang bikin saya malu.
    Pertama, saya selalu mengeluh seolah hidup saya paling susah, padahal ada yang lebih menantang hidupnya ketimbang saya.

    Suami saya juga gitu mba, beliau kurang pandai merencanakan sesuatu, kurang pandai memutuskan sesuatu karena pola pikirnya nggak mikir ke depannya gimana.

    Alhamdulillah ya mba, rezeki Allah ada dari mana saja.

    Pun juga terimakasih sharing mengatur pos keuangan.
    Saya banget nih, bingung ngaturnya. Sampai-sampai udah 10 tahun nikah belum juga bisa bijak mengatur keuangan huhuhu

    Semoga berkah selalu ya mbaaaa sayang :*

    BalasHapus
  7. Beruntung sekali ya punya teman yang bisa berbagi ilmu. Semoga rezekinya barokah selalu

    BalasHapus
  8. mba masya Allah, semangat terus ya. semoga dengan ikhtiar mba mengatur pos keuangan keluarga, bisa jadi jalan mengundang rizki termasuk dari blog ini :)

    BalasHapus
  9. Semangat Mbak... hahahaha.. jujur saja, soal kesalahan dalam urusan keuangan mah, saya sering banget. Nyonye juga demikian.

    Cuma, ada kalanya sebagai suami, saya juga tidak mau si yayang khawatir kalau tau detail dan pertimbangan saat melakukan sesuatu atau mengambil keputusan. Terkadang, saya juga terpola untuk "melindungi" dia, bukan karena alasan apa-apa.

    Kadang apa yang saya lakukan ternyata salah, tetapi tidak jarang benar.

    Kerap tidak memberitahukan secara rinci sesuatu didasarkan bukan karena apa-apa, tetapi karena ada hal yang terpaksa disimpan agar tidak "menyakiti" atau membuat khawatir orang yang kita sayang..

    Memang hasilnya, ada semacam miskomunikasi, tetapi terkadang pilihan itu harus diambil..

    Yang semangat ya mbak

    BalasHapus
  10. Semangat Mbak!
    Kakakku juga pekerja bangunan dan ya alhamdulillah ada aja rejekinya. Ngerti sih bagaimana muter uang buat keluarga. Kudu pinter2 Istri ngatur keuangan. Alhamdulillahnya Kakakku udah gak ngerokok. Kalau kerja dan dikasih rokok, lumayan bisa dijual

    BalasHapus
  11. Apapun yang terjadi di keluarga, kita sebagai istri harus selalu siap untuk menari solusi.
    semangat ya mbak...
    insyaAllah kita, perempuan, pasti setrong selalu

    BalasHapus
  12. Mantap mba bisa serinci itu akupun pengen banget loh atur sedemikian rupa sayangnya aku suka keburu napsu pengen belanja deuh jadi sedih betap borosnya aku sementara mba hebat sekali semoga suami juga berhenti rokok ya mba lumayanlah dana rokoknya buat yang lain :) semangat mba

    BalasHapus
  13. MasyaAlloh. Terima kasih sudah mengingatkan cash flow. Semoga ada rezeki lain yang datang dari arah tak disangka. Kalau kita yakin rezeki Alloh luas, hitungan matematika dan ekonomi tak ada apa-apanya. Berdoa dan berusaha untuk berolehnya, niatkan dengan bismillah setiap akan mengeluarkan uang sebagai ibadah agar berkah. Semoga Teteh sekeluarga dicukupkan rezekinya. Aamiin.

    BalasHapus
  14. Persentase pembukuan ini boleh aku modif dan kugunakan ya mba? Selama ini sama aja nih, aku juga asal belanja aja ga pake pengaturan gini. Jadinya uang raib ke pos2 yang harusnya tak usah ada.

    BalasHapus
  15. Aamiin, aku doakan segera punya tanah dan kebun ya supaya bisa ditanami sendiri dan panen senidri juga. AKu pun suka ngaco kok mbak gak pakai pembukuanm harusnya gak boleh begini ya

    BalasHapus
  16. Masya Allah..luar biasa nih..baru baca blog kayak gini.. saya yg suka benteok antara nabung n keinginan jd malu hati...terima kasih ..semoga rezekinya selalu lancar ya..

    BalasHapus
  17. Poatingan ini memberikan pencerahan banget Neng. Terutama mengenai cash flow dan pos pos belanja. Saya tidak tahu persentase yang seharusnya malah. Untuk ini berapa untuk itu berapa. Ternyata kalau melihat poin-poin di atas akan banyak sisa. Bisa buat dana darurat yang tiba-tiba nongol.

    BalasHapus
  18. semangaaat selalu yaaa mba. Untuk keuangan kita memang harus disiplin ya mba...dan mungkin dimasukkan juga sekian persen untuk biaya tak terduga mba, di luar biaya social dan dana darurat

    BalasHapus
  19. Apapun pekerjaan yang sedang digeluti sekarang, pengelolaan keuangan itu penting ya, apalagi untuk pekerja buruh bangunan yang pendapatannya bisa harian, mingguan atau bahkan bulanan, jika ngga pinter mengelolanya bisa habis

    BalasHapus
  20. Setuju mbak, karena mengatur keuangan itu sangat sulit apalagi disandingkan dengan selera atau keinginan. Berapapun penghasilan asal pengaturannya baik maka akan memiliki hasil yang luar biasa.

    BalasHapus
  21. Paling sedih kalau pas boncos ya Mba
    seret juga sedih hehehe, semoga keuangan kita dimudahkan olehNya dan kita pun belajar mengaturnya dengan baik. Semangat kita Mba

    BalasHapus
  22. hikkss, saya masih selalu gagal juga nih dalam menerapkan cash flow, biasanya sih di awal2 minggu aja rajin catat, selebihnya, udahlah lupa lagi seiring dengan bayar2 tagihan wajib dan belanja bulanan yg pokok.
    harus bisa atur keuangan dengan baik juga nih.

    BalasHapus
  23. Saya mulai melek mengatur cashflow ketika punya anak karena catat
    seadanya saja sebelumnya, akhirnya saya instal aplikasi catatan keuangan saja biar cashflow terkontrol. Btw semangat mba mudah2an kondisi keuangannya semakin stabil ya dan profesi blogger mba smakin berkembang :)

    BalasHapus
  24. Salut untukmu Teh. Tetep semangat!
    Kalo saya dan suami kebetulan bukan tipe pasangan yang menghitung pemasukan dan pengeluaran dengan rinci dan hanya garis-garis besarnya saja. Namun, perubahan perekonomian kami rasakan justru setelah memiliki asisten dan karyawan sejak lima tahun terakhir. Adaa saja rizki yang datang entah darimana arahnya. Saya yakin, orang-orang yang menggantungkan penghidupan pada kami itulah yang membawa berkah.

    Semoga sukses untuk kita semua.

    BalasHapus
  25. zaman berubah jadi apa jua hal rumah tangga dan kewangan perlu diambil kira


    thank you for sharing

    BalasHapus

Terima kasih sudah singgah, silakan tinggalkan jejak komentar sebagai tanda persahabatan agar saya bisa lakukan kunjungan balik. Komentar sebaiknya relevan dengan isi tulisan. Nama komentator tidak langsung mengarah ke URL pos blog agar tidak menambah beban jumlah link pemilik blog ini. Jangan sertakan link hidup dan mati, apalagi iklan karena termasuk spam.Terima kasih banyak. Salam. @rohyatisofjan

Rindu Pangandaran? Jadikan Traveloka Xperience sebagai Pegangan

Suasana Pantai Barat Pangandaran Menjelang Senja PANGANDARAN adalah rumah ketiga saya, setelah Bandung sebagai tanah kelahiran dan ...