Minggu, 14 April 2019

Kita yang Tidak pada Tempatnya


PERSOALAN bertukar tempat dalam menyusun kata atau kalimat yang dilakukan sebagian masyarakat seakan lumrah karena kerap dan banyak. Selain itu, ada semacam pembiaran bagi yang demikian sehingga lambat laun masyarakat awam pun ikut-ikutan karena lupa kaidah bahasa atau tak paham. Padahal kebanyakan dari mereka merupakan orang terdidik, pelajar dan mahasiswa, sampai profesional lainnya.


Lupa kaidah yang telah diajarkan di bangku sekolah atau kuliah adalah hal yang memprihatinkan. Seperti contoh kasus “kami” dan “kita” yang bertukar tempat. Semisal menyebut diri dengan kita padahal yang dimaksud “bukan dia dan yang diajak bicara”, melainkan dia dan teman atau orang dalam kelompoknya, atau malah dirinya sendiri doang.

Lalu mengapa merasa harus ber-kita?

Kita dalam KBBI 5 adalah kata benda (nomina) untuk kata ganti orang pertama jamak; aku dan engkau (sekalian).

Namun “kita” kerap dipilih untuk konteks penyebutan yang salah, seakan “kita” lebih populer, enak diucapkan, bahkan berkesan akrab. “Kita” yang mestinya merujuk pada kami atau aku pada akhirnya bisa membuat jengah. Si pembicara menyebut “kita” pada lawan bicaranya padahal ia cerita soal kegiatan yang diikutinya dengan teman-teman (atau dirinya sendiri doang), Si pembicara ber-kita padahal ia tidak mengikutsertakan lawan bicaranya. Hal demikian bisa membingungkan lawan bicara karena “sadar” tidak terlibat.


“Kita” juga kerap digunakan dalam tayangan acara televisi, seperti kata seorang teman (karena saya disabilitas pendengaran). Jika pembawa acara saja ber-kita terus pada penontonnya padahal tidak menyertakan penonton dalam suatu kegiatan, lama-lama hal itu akan dianggap biasa atau malah wajar.

Semisal, “Kita akan hadir kembali setelah acara iklan berikut ini.”; “Kita telah melakukan investigasi mendalam pada kasus tersebut.”; “Acara ini terselenggara berkat kerja sama kita yang didukung sponsor”; dan hal lainnya.

Tiga contoh kalimat di atas adalah pengandaian terhadap bentuk kalimat dengan “kita” yang tidak tepat. Bagi yang paham itu akan menjengkelkan karena terus-menerus dilibatkan padahal tidak tertlibat. “Saya tidak ikut jadi pembawa acaranya, Mbak!”; “Saya tidak ikut melakukan investigasi tersebut, Mas!”; “Saya tidak merasa telah bekerja sama dengan Anda dan sponsornya, Pak!”; dan sebagainya juga.

Apa sulitnya menggunakan “kami”?

Kami saja dalam KBBI 5 mudah dipahami artinya: kata ganti orang pertama jamak (orang yang diajak bicara tidak termasuk di dalamnya).

Yang menjadi masalah dalam penjelasan “kami” dan “kita” adalah orang pertama jamak, itu memang sama namun artinya dibedakan. Kami sebagai penyebut untuk si pembicara dengan orang lain yang terlibat, sedang kita sebagai penyebut untuk si pembicara dengan melibatkan lawan bicara; adalah semacam rumus bahasa yang sebenarnya mudah dan memudahkan.

Sedang aku adalah: 1. kata ganti orang pertama tunggal (biasanya digunakan dalam percakapan yang akrab, seperti antara kawan sepermainan atau sekampung, adik dan kakak, orang tua terhadap anaknya, juga dalam doa; 2. diri sendiri.


Ironi berbahasa bisa merambah wilayah penyebutan diri yang salah, membuat logika seakan terasa bias karena dari awal penyusunan kalimat itu sudah bisa menimbulkan salah paham dan salah tafsir. Ironisnya, penyebut tidak merasa telah melakukan kesalahan, malah oke-oke saja ber-kita tidak pada tempatnya.

Jika media massa cetak, daring (dalam jaringan), audio, bahkan audio-visual tetap melakukan praktik “kita” pada konteks yang tak semestinya, maka itu bisa jadi kebiasaan yang sulit dihilangkan. Dan alasan yang dilontarkan akan macam-macam karena telanjur nyaman.

Nyaman demikian adalah hal yang berkesan egois, bahkan merusak. Merusak kaidah bahasa sampai logika berpikir masyarakat. Tanpa kaidah maka cara berbahasa akan seenaknya sesuai keinginan penutur, padahal kaidah dibuat dengan susah payah demi kebaikan penutur juga, demi menjaga ketertiban bahasa dari unsur salah paham atau salah tafsir.

Meng-kita-kan sesuatu yang semestinya kami, akankah bisa dihilangkan dari kebiasaan masyarakat? Butuh partisipasi massal untuk itu, dan semuanya bermula dari diri kita sendiri untuk tak gatal ber-kita secara salah tempat karena latah. Dan untuk itu butuh rasa MALU. Ya, malu karena berbahasa tidak semestinya.


“Kita” adalah contoh kata sederhana untuk menyebut diri secara jamak, namun kata “kita” berdampak psikologis. Jika kerap dituturkan secara salah dan didukung media massa bahkan para tokoh pesohor. Publik akan ikut-ikutan alias latah karena merasa bahwa hal itu wajar. Dan alangkah menyedihkannya jika hal demikian masuk pula dalam ranah pendidikan, ketika pengajar ikut ber-kita untuk hal yang semestinya kami (atau aku!).

Mungkinkah kita (kau dan aku) bisa menanamkan rasa malu jika salah memilih kata, salah dalam menggunakan bahasa?**

#Bahasa #Linguistik #Kita #Kami #ArtiKitadanKami
~Gambar hasil paint sendiri

46 komentar:

  1. Makasih banyak ilmunya, Mbak. Daging banget. Meski salah kalau dipakai terus lama-lama diikuti juga sama yang lain dan dianggap wajar ya

    BalasHapus
  2. ewoww.... ilmu-nya akhirnya keluar juga,hahahah.... berkualitas tingkat tinggi sekali tulisannya Mbak....

    tapi ngomong2 tuiisan diatas, dapat inspirasi dari blog mana yach, blog saya yach,hahahah.....

    Kita dan Kami itu memang berbeda.... "kan kita memang berbeda, Tapi satu jua, Satu Indonesia.hahahah....

    BalasHapus
  3. Hal simpel yang rasanya semua orang pernah mempelajarinya di sekolah, tapi dari tua sampai muda sering sekali melakukan kesalahan dalam menggunakannya. Pembelajaran yang bagus, Bu. Simpel tetapi bermanfaat.

    BalasHapus
  4. Saya pernah membaca artikel BBC yang mengatakan "why no-one speaks Indonesia's language" saya protes, apakah benar Bahasa Indonesia tidak lagi digunakan? Barangkali ini dimaksud oleh wartawan BBC itu ketika mewawancara warga Negara Indonesia di Indonesia dan berbicara Indonesia tapi tidak merasakan berbahasa Indonesia, karena semua menyadari bahwa mereka tidak berbahasa Indonesia baku.
    Contoh sederhana dalam penggunaan kata "kita" dan "kami", saya harus berhati-hati siapa lawan bicara saya, terutama pengguna Bahasa Melayu, saya harus tahu dimana posisi saya di saat dia mengatakan kita orang (torang), dia orang (dorang) atau kamu orang (korang). Disaat dia katakan kita orang (torang), lawan bicara belum tentu terlibat, kalau terlibat=kita, kalau tidak terlbat=kami. Begitu juga kalau saya berhadapan dengan yang biasa menggunakan Bahasa Inggris, kalau yang dimaksudkannya WE, kata yang diucapkannya bisa KITA atau KAMI.

    BalasHapus
  5. Tulisan yang bermanfaat.. Berbeda tetapi kerap selalu diprotes hingga akhirnya memutuskan untuk membiarkan meski terkadang semua itu ada salahnya..😄😄

    Kau dan aku selalu berbeda, Mengapa berkesan seirama..😄😄

    BalasHapus
  6. Kalau begitu, mari kita mulai dari sekarang untuk lebih bijak menggunakan "kita" dan "kami"

    Nah, kalau kalimat di atas gimana tuh, mba?
    Sudah tepatkah penempatan kata "kita"nya?

    BalasHapus
  7. Iya nih, udah salah kaprah banget pada hobi menggunakan kata 'kita' untuk kata yang seharusnya 'kami'. Susah banget mbaaa memperbaikinya. Sudah memberitahu pada mereka yang menulis seperti itu, kayaknya enggak mempan.

    BalasHapus
  8. Saya terkadang masih suka campur campur dengan penggunaan kata 'kita' dan 'kami' padahal penempatan katanya berbeda ya mba, makasih mba sudah diingatkan :)

    BalasHapus
  9. Jadi ingat Ruben Onsu dulu suka bilang, "Kita? Lo aja kali, gue enggak!"

    Kalimat itu kan terkenal banget dulu. Gak tau deh sekarang masih ada yang pakai atau enggak. Kesannya memang kayak becanda. Tetapi, kalau buat yang mengerti, kalimat Ruben itu ada benarnya. Kita dan kami memang berbeda

    BalasHapus
  10. saya paling suka pakai kata 'kita' mba.
    bahkan kalau dihitung-hitung, penulisan 'kita' baik di blog maupun di medsos banyak banget.

    kata itu saya pakai juga sebagai pengganti 'kamu' biar lebih sopan aja, gak terkesan menggurui.

    Tapi masih dalam konteks yang benar ya mba, kan 'kita' yang saya maksud adalah aku dan kau, suka dancow *eh hahahahhahahah

    Tapi emang sih, sering banget zaman sekarang saya denger kata 'kita' untuk penyebutan 'kami'

    Dan salut banget pada mba Rohyati, seharusnya lebih banyak lagi narablog dengan pengetahuan seperti ini yang membuat kami-kami jadi mengerti untuk mengembalikan bahasa Indonesia di tempatnya yang sebenarnya

    BalasHapus
  11. Jujur saja saya tahu aih perbedaannya dimana cuma gimana ya,,susah untuk dijelaskan wkwk

    BalasHapus
  12. saya yang paling sering itu di "kami" in mba. misalnya dia sendiri gak bisa hadir di acara saya lalu ngabarin. bu maaf kami ga bisa hadir. Saya pikir dia dan teman2 nya ga bisa hadir ternyata kami itu untuk dirinya sendiri.

    BalasHapus
  13. Kebanyakan karena sudah terbiasa dan benar adanya pembiaran ya mbak jadi banyak yang ikut0ikutan padahal itu salah.
    Kadang aku juga bingung sih mbakm tapi makasih ya tulisannya jadi lebih ngerti deh sekarang :)

    BalasHapus
  14. Saya membacanya juga jadi tersindir nih. Kata yang tampaknya sederhana ,tapi punya makna dan maksud yang berbeda.
    Kita, kami, aku dan saya. Wah bulet sebenarnya.

    BalasHapus
  15. Well noted bun, kadang akutuh masih suka salah salah penggunaan kata kita dan kami, setelah baca tulisan ini jadi semakin tercerahkan dan harus bisa menempatkan kata dengan tepat ya bun.. terima kasih sharingnya yag sangat bermanfaat ini

    BalasHapus
  16. Saya sebagai penulis pemula selalu belajar untuk hal ini mbak. Apalagi bentuk-bentuk yang membuat artikel menjadi pleonasme. Semoga ke depannya banyak orang lebih peka terhadap KBBI dan mau belajar terus apalagi bagi seorang penulis.

    BalasHapus
  17. Wah iya ya Bu, baru sadar saya kalau selama ini banyak penggunaan kita dan kami yang kurang tepat posisinya. Makanya ya sampai ada percakapan gaul yang seperti ini, "Apa? Kita? Lu aja kali!" Maksudnya karena ya itu, ada orang-orang yang menggunakan kata kita tapi tidak sadar kalau itu justru maksudnya melibatkan lawan bicaranya yang padahal aslinya nggak ikut terlibat apa-apa.

    BalasHapus
  18. Mbaaak aku suka banget baca tulisannya karena memang masih suka gemes kalau ada yang nulis kita dan kami. padahal belum tentu saya diajak di situ juga, kenapa disebut kita ����

    BalasHapus
  19. iya betul mba. tapi kadang ga sadar sih bilang kami, pdahal kita, dan sebaliknya. seringnya by lisan sih yg eror itu

    BalasHapus
  20. Mbak Rohyati ini spesialis bahasa Indonesia yang sangat detai dan taat kaidah, hehe. Terimakasih sharing ilmunya, Mbak. Manfaat banget

    BalasHapus
  21. Sudah kadung melekat ya Mba, aku juga sedang membiasakan untuk menggunakan Kami. Memang salah kaprah aslinya yo mba.

    BalasHapus
  22. Senangnya bisa belajar lagi penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mentang mentang udah gak ada ujian bahasa, saya jadi suka belepotan juga nih saat menggunakan bahasa Indoonesia. Makasih pengingatnya mbak

    BalasHapus
  23. Bener mbak ini. Udah ada semacam salah kaprah. Makanya kan, lalu ada celetukan : "Kita? Lo aja kali?!" Hehe. Mesti diubah meski sulit ya.

    BalasHapus
  24. Hahaha ini hal simpel yang memang sering salah ya. Aku sudah paham betul perbedaannya dari dulu, tapi saat prakteknya yaaaa tetep aja kadang salah. Kecuali dalam penulisan ya harus bener. Tapi kalau cuma nulis komentar atau ngobrol gitu ya bebas deh.

    BalasHapus
  25. Saya masih beljar nulis nih dan suka masih kebolak balik juga dalam penggunaan kata.

    BalasHapus
  26. Aku jadi inget pejabat orba zaman dulu kalau nyebut "kami" pakai "kita" haha.
    Ya emang susah ya kalau bahasa obrolan suka gtu. Tapi aku selalu pakai "kami" dan "kita" pada porsinya lho baik dlm percakapan/ tulisan hihihi

    BalasHapus
  27. Lama kelamaan saya juga mulai melupakan penulisan kata ganti kami dan kita. Apalagi pemilihan untuk mengganti aku dengan kami atau kita. Pelan pelan saya juga ingin belajar menulis dengan kaidah yang sesuai dengan KBBI. Malu dengan anak anak, apabila mereka nanti belajar bahasa di kemudian hari. Terima kasih banyak Mbak Yati, artikelnya sangat bermanfaat sekali.

    BalasHapus
  28. Wah udah kayak buka buku bahasa Indonesia nih blognya mba Rohyati. Eyd bener tulisannya. Keren mbak

    BalasHapus
  29. Alhamdulillah selama ini saya sudah betul pemakaiannya, tapi kadang malah ada ngetawain kalau lagi pakai kata kami, katanya aneh hahhaa

    BalasHapus
  30. Wah, aku nih masih suka salah pake kata kami dan kita di kalimat. Jadi kudu mikir dulu. Belom biasa kayaknya. Kalo udah biasa, mungkin gak gitu lagi ya, Bun. :)

    BalasHapus
  31. Seringkali gemas Kak kalau mendengar orang bicara pakai 'kita' padahal harusnya 'kami' (merujuk pada dia dan teman-temannya non lawan bicara). Jadi syedih wkwkwkw. Btw tapi kalau di Makassar akan beda ya Kak, karena Kita bisa jadi Kau begitu.

    Out of Topic, saya suka tampilan baru Kakak kece di blog ini. Lebih clean dan lebih rapi karena pos-nya di-justify. Terus tidak terlalu melebar. Pokoknya keren!

    BalasHapus
  32. Trims ulasannya mba. Pada beberapa orang menyatakan kalo menggunakan "kami" terkesan egois dan kurang menghargai lawan bicara. gitu sih hehehe

    BalasHapus
  33. Ada gambar skemanya mungkin akan lebih baik...
    Memang sudah sering penggunaan kata "kita" yg tidak pada tempatnya .

    BalasHapus
  34. ada benernya juga mbak, cuman, itulah indonesia :D

    BalasHapus
  35. Ah aku jg seringnya lupa nih dalam penggunaannya..tapi kadang berpikir supaya ada bounding yg kuat gituu...hehe

    BalasHapus
  36. Ahhh.. infonya bagus banget mba, sebagai pengingat, kadang masih sering kebalik-balik make kata kita dan kami...

    BalasHapus
  37. Ea,....akhirnya mbak rohyati sofyjan bersuara kembali, beberapa kali ke blog ini tidak ada update terbaru dan sekarang ada lagi,....hore @jadi seneng

    Betul banget itu mbak rohyati memang kaidah bahasa ada baiknya selalu kita jaga agar tata bahasa yang diciptakan para pendahulu kita tetap bisa menjadi warisan yang baik

    Ada kalanya tata bahasa baku, mulai dari penggunaan kata hingga bahasa menjadi perhatian serius rakyat indonesia, terutama para anak muda

    Cuma yang menjadi pertanyaan saya sekarang masih adaloh orang yang menggunakan bahasa lama indonesia

    Contohnya menteri kelautan kita, sri pujiastuti yang mana dalam setiap kali wawancara ke publik selalu menggunajan ejaan lama, seperti ditekanken, ada kata ken

    Begitupun bapak prabowo #bukan kampanye, pemilu bukan berakhir,....yang mana sering kali menggunakan ejaan lama, kira-kira bahasa ini boleh tidak ya kita lestarikan dan kita gunakan, walaupun bahasa indonesia baru sudah ada

    Walaupun begitu ada baiknya kita tahu sejarah, beda adalah sebuah rasa dan pelengkap, ia tidak mbak, ibarat kopi tanpa gula kan pahit

    Begitu juga bahasa lama tanpa bahasa baru hambar rasanya, karena sebaik-baiknya sebuah bangsa adalah bangsa yang tidak pernah melupakan hasil karya para pendahulunya 😀

    BalasHapus
  38. Kirain sama loh artinya penggunaan kata KAMI dan KITA itu, ternyata memiliki arti berbeda.

    Ngomong-ngomong,
    Cukup lama kak Rohyati menghilang kegiatan bloggingnya, tau-tau hadir dengan wajah blog baru yang ketje abis ...
    Mantul iniii ...

    Eh#, ketje dan mantul masuk dalam KBBI tidak, yaa ..
    Xixixi 😁

    BalasHapus
  39. Kadang sering menggunakan kata kami di blog saya, karena merasa pernah melakukan hal itu bersama sama dan tidak sendiri. Terima kasih ya mba kunjungannya. Suka pas baca blog mba Rohjati, tulisannya keren dan enak dibaca. Salam kenal ya mba

    BalasHapus
  40. Cie...cie...wajah baru...
    Apa saya yang baru BW lagi? Alias kurang update. Hihi...
    Selamat ya Teh...

    BalasHapus
  41. Jujur saya gak pernah terbalik menggunakan kata 'kami' dan 'kita'. Tapi saya baru tau kalau ada orang yang menyebut dirinya sendiri dengan istilah 'kita' dana ada orang yang salah menyebut 'kami' dengan lawan bicara. Mbak perhatian banget mbak sama konteks bahasa. Lulusan Sarjana Bahasa Indonesia ya mbak?

    BalasHapus
  42. aku sering salah soal ini. pdhl dulu pernah diingetin ama salah seorang editor muda temen baikku :D. tp ttp aja kdg suka lupa.ini peer sih supaya next nya aku lbh bener nempatin kata 'kita' dan 'kami'

    BalasHapus
  43. Oh, jadi itu toh bedanya kita sama kami. Baru tau saya. Nice nice :D.

    BalasHapus
  44. Pertama kali dengar 'kita' sebagai 'kami/saya' tahun 1977 di Jakarta. Bahasa [sebagian] anak muda/bocah.

    Mungkin karena pengaruh dari orang dewasa yang sering mengucap 'kita orang' ('kite orang')—khas logat Betawi, untuk menyebut 'kami/aku'.

    BalasHapus
  45. Terlihat sepele, tapi sudah berkerak di masyarakat.

    Mungkin anggapan penggunaan 'kita' melambangkan kebersamaan, kehangatan dan solidaritas dibandingkan dengan penggunaan kata 'kami' yang cenderung merasa eksklusif, privat, dan tertutup.

    Itulah sebabnya bahasa Indonesia dinobatkan menjadi bahasa yang sangat mudah dipelajari, namun sulit digunakan dengan penutur aslinya. Aneh memang 😂

    BalasHapus
  46. Wah bun mantep ikh ilmunya. Cocok nih bunda jadi guru bahasa indonesia ��. Saya juga jadi ngerasa diingatkan juga soal bahasa

    BalasHapus

Terima kasih sudah singgah, silakan tinggalkan jejak komentar sebagai tanda persahabatan agar saya bisa lakukan kunjungan balik. Komentar sebaiknya relevan dengan isi tulisan. Nama komentator tidak langsung mengarah ke URL pos blog agar tidak menambah beban jumlah link pemilik blog ini. Jangan sertakan link hidup dan mati, apalagi iklan karena termasuk spam.Terima kasih banyak. Salam. @rohyatisofjan

Rindu Pangandaran? Jadikan Traveloka Xperience sebagai Pegangan

Suasana Pantai Barat Pangandaran Menjelang Senja PANGANDARAN adalah rumah ketiga saya, setelah Bandung sebagai tanah kelahiran dan ...