Keluarga Samawa



 JUDUL di atas merupakan komentar teman Facebook pada status saya. Mulanya saya tak paham dan tak tahu bagaimana cara menanggapinya, sampai ingat postingan seseorang di WAG pekan lalu tentang itu. Bedanya, dalam WAG (WhatsApp Group) ada penjelasan atas akronim samawa yang berarti sakinah mawaddah warrahmah sehingga saya bisa cepat memahaminya. Sedang komentar teman FB saya yang merupakan teman masa SMU/SMA cukup singkat saja: keluarga samawa.


Mungkin sang teman pikir saya memahami maksudnya sehingga tak perlu memberi penjelasan, dan saya terlalu gengsi untuk bertanya karena doi tukang bercanda. Doi bisa ngakak lantas meledek di ruang publik kalau tahu saya kudet (kurang update). Untunglah ke-kudet­-an saya cuma sebentar. Timbunan memori dengan cepat memproses makna kata. Sakinah mawaddah warrahmah.

Ya, kalimat dalam bahasa Arab pun bisa diakronimkan sebagaimana kalimat dalam bahasa lain, dan hal itu seakan dianggap wajar bagi pengguna media sosial. Dan ironisnya, arus percepatan informasi membuat sebagian warganet berpikir bahwa orang lain pun memiliki pemahaman sama; sudah update!

Padahal masih banyak yang kudet, apalagi jika menyangkut akronim. Jangankan akronim dari bahasa asing dan daerah, akronim dalam bahasa nasional kita saja kerap tak dipahami. Jelas bukan semata kudet melainkan ketidakbiasaan saja untuk memahami dan memakai akronim, apalagi jika jarang daring (dalam jaringan/online).

 
Akronim adalah gabungan kata, bisa dari beberapa kata dalam suatu kalimat yang dirangkai untuk disingkat. Pemilihan rangkaian singkatan itu biasanya dari awal kata seperti sa- untuk sakinah. ada juga yang campuran antara awal kata dengan akhir kata, atau akhir kata semua. Itu menunjukkan bahwa akronim bisa merupakan kreasi kata manasuka bagi pemakainya.

Kreasi manasuka yang dilakukan pemakai bahasa seakan menunjukkan bahwa bahasa mesti luwes mengikuti selera pemakainya. Dan penggunaan bahasa pun bergerak cepat sesuai arus informasi yang beredar di media massa sampai media sosial. Namun media sosial dengan jejaringnya memberi pengaruh signifikan bagi penyebaran informasi karena lebih menyentuh secara massal sekaligus personal. Seperti dalam WAG.

Perkara mengapa samawa mendadak populer sebagai bahasa kekinian, bisa dirunut dari segi praktisnya. Pemakai bahasa memilih mengakronimkan deret kata dalam kalimat panjang itu menjadi ringkas dan tiga suku kata saja, barangkali, dengan pertimbangan lebih efisien.

Bahasa pun berperan untuk menjadi penyampai kepraktisan. Perkara akronim tak bisa diprokontrakan karena berkaitan dengan sebagian besar pemakai. Dengan kata lain, pemakai akronim merasa nyaman berakronim karena merasa ada kesesuaian minat dan harapan. Minat yang dimaksud berkaitan dengan rasa menjadi bagian dalam ruang lingkup pergaulan secara lebih luas, dan dunia maya memberi kemungkinan untuk itu. Sedang harapan berkaitan bahwa apa yang disampaikan masuk dalam ranah pemahaman orang lain pula.

Kerap kali akronim muncul lantas hilang sesuai tren yang sedang terjadi. Ya, bahasa mengenai tren atau musimnya. Sama seperti bahasa prokem yang tren kala saya remaja lewat media majalah dan novel remaja. Lalu bahasa gaul yang tren kala saya dewasa lewat sebaran media audio-visual dan internet. Dan sekarang tren bahasa alay di era milenial kala anak saya sudah besar dan gawai adalah benda sekaligus gaya hidup penopang keseharian.


Pada hakikatnya bahasa adalah penyampai gagasan dan pemikiran, sebaran gagasan lewat bahasa akan mengalami perubahan signifikan dari masa ke masa. Ketika saya masih setia menjadi pembaca majalah Annida eceran pada tahun 2002-2005, kalimat sakinah mawaddah warrahmah dalam cerpen maupun artikel lain tidak disingkat. 

Selain akan mengurangi esensi makna kalimat, juga dirasa tak etis atau tak terpikirkan sama sekali untuk mengutak-atiknya. Namun kala berkomunikasi secara luas bisa dilakukan lewat ponsel pintar dengan layar sentuh atau tombol pijit (keypad), ada kecenderungan untuk menyingkat kata, termasuk kalimat dengan alasan lebih cepat dan ringkas. Ya, cepat mengetik pakai jari tangan (yang kebanyakan pakai jempol), ringkas agar jari tak pegal karena terlalu banyak memijit.

Jika ada yang beranggapan bahwa bahasa disalahgunakan pemakainya untuk tujuan tertentu, secara sosiolinguistik bahasa bisa diakronimkan dengan tujuan praktis. Kerap kali bahasa harus takluk pada kehendak pemakainya, namun bahasa tidak bisa diobrak-abrik kaidah bakunya.


Akronim bukanlah bahasa baku, kerap merupakan hal nonbaku. Sesuatu yang ada dan berdampingan dengan kita sebagai alat penyampai komunikasi, meski pada orang tertentu akronimnya tidak sampai pada yang dituju karena tidak dipahami.

Akronim, bagi sebagian orang, bisa jadi dianggap sebagai lucu-lucuan dalam berbahasa. Ringkas dan unik serta seakan menjadi semacam kode rahasia bagi pihak tertentu sedang pihak lain bisa jadi kewalahan karena tidak paham atau harus mengira-ngira maknanya.

Bahasa adalah hasil kesepakatan bersama antara para penggunanya dalam jangkauan yang lebih luas. Dan ketika ada yang menggunakan akronim semacam samawa, itu adalah ekspresi bahasa yang mencerminkan zamannya. Tiada lagi rasa risih untuk menyingkat kalimat dalam bahasa Arab sebab kebebasan berpendapat merupakan hal lumrah dan jamak.

Bagi sebagian orang, akronim bisa jadi mengganggu karena tidak komunikatif, seakan ekslusif karena hanya dipahami orang tertentu yang selalu mengikuti kekinian. Akronim juga menjebloskan orang untuk salah paham. Anda bisa mengira bahwa samawa itu semacam nama kuliner atau tempat atau apa saja. Dan ketika telah tahu maknanya, Anda bisa menggunakannya atau mengabaikannya atau malah terganggu.

Ya, singkatan samawa seakan mengurangi atau menghilangkan esensi makna. Itu seakan mengingatkan pada jembatan keledai agar lebih mudah menghafal warna pelangi.***

Rohyati Sofjan, narablog di https://www.rohyatisofjan.com. Mukim di Balubur Limbangan, Garut. Karyanya banyak tersebar di media massa cetak dan daring sejak tahun 1999. Antologi buku terbarunya ODE TO ROY, Kisah para Pembaca Balada Si Roy (Epigraf, 2018) dan Bergerak Tak Berasap (2019).
 
#Bahasa #Lingua #linguistik #Akronim #Samawa #Samara  
~Gambar hasil paint sendiri

Komentar

  1. Penggalan buat akronim terkadang memang membingungkan, kalau mau mengambil setiap suku kata pertama dari tiga kata tersebut mestinya samara, karena "wa" artinya "dan", berarti rahmah tidak ter"pakai" atau tercecer....hihihi...jadi malu sendiri, ga kepikiran sebelumnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha, iya. Campursari sekarang mah, Beda banget dengan dulu kala internet belum mudah diakses.
      Soal samawa dan samara, itu pilihan personal. Cuma karena dalam bahasa Indonesia setiap penulisan yang ada syakalnya (dibaca ganda), seperti wau lalu ra dengan tanda syakal dibaca warra-, meski dalam huruf Arab dipisah namun jika dilatinkan maka akan digabungkan. Jadi saya ikuti kaidah penulisan huruf sesuai syakal-nya ada atau tidak. Entah apakah itu sudah betul, namun karena warrahmah di satukan, maka ada yang mengambil wa sebagai bagian dari akronimnya. Wallahua'lam. Soalnya saya tak begitu paham bahasa Arab, he he.
      Terima kasih koreksinya, Mbak Lantana.

      Hapus
  2. Wah saya suka ketinggalan Bun untuk bahasa akronim ini. Apalagi di zaman sekarang yang bahasanya kekinian alias banyak bahasa akronimnya hahaha. Tapi memang bahasa akronim dipergunakan tergantung kepada siapa dan untuk apa ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, Bun. Akronim khas anak muda sekarang kerap membingungkan dan tak semua saya tahu. Bahasa kode paling rumit abad ini, ha ha. Karena tak ada panduan kaidahnya jadi lebih ribet daripada kode morse ala pramuka.

      Hapus
  3. Pertama kali denger sih bingung, tapi sering saya lihat di sosmed jika ada yg unggah foto pengantin ,bnyak yg komentar bilang samawa. Oh...jadi ngerti deh kepanjanganya meskipun gak harus nanya. Ternyata samawa itu , sakinah mawaddah warohmah. Seperti yg di ucapkan pak penghulu di pidato resepsi pernikahan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sama. Bingung kalau ada hal baru karena kita tak tahu bahwa bahasa asing pun bisa disingkat. Konyol namun kreatif, ha ha.
      Pak penghulu mah baik, tetap harus sebutkan kalimat panjangnya secara utuh jika menikahkan orang. Mungkin kalau ikut-ikutan tren bisa mengurangi berkahnya.

      Hapus
  4. bener juga ya mba rohyati, penggunaan akronim jadi mengurangi makna dari kata tersebut. Bahkan orang-orang sekarang menyingkat kata "samawa" gak hanya melalui tulisan aja. tapi saat berucap langsung juga menyebutnya "samawa".

    contohnya saat saya dan teman2 datang ke acara pernikahan, lalu temen2 saya menyalami pengantin sambil berkata "semoga samawa yaa".. gitu mba. udah jarang banget orang yang mendoakan lengkap "sakina mawaddah wa rohmah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh, padahal ucapan panjang yang lengkap adalah doa. Ketika kita terbiasa ber-samawa, maka kata itu hanya akan menjadi kata, bukan doa. Padahal jika diucapkan secara lengkap maka akan menjelma untaian da dan keberkahan bagi penerima serta pemberi ucapannya.

      Hapus
  5. aku masih nulis lengkap mba, rasanya masih asing aja kalau disingkat :D suka yang lengkap hihi..
    tapi nggak jadi kenapa2 sih kalau ada bbrp orang yang lebih suka menyingkat..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya asing, samawa atau samara kesannya cuma ucapan basa-basi bukan doa. Salutlah pada yang tetap mempertahankannya secara utuh. Bukankah ucapan baik yang serupa doa itu ada pahalanya.

      Hapus
  6. Nah ketahuan dech,,,,,,SKILL menulisnya akhirnya keluar juga. Asyeeeeekk.. dapat ilmu Gratisss....!!!

    Menurut saya " Samawa " ini adalah sambungan dari kisah sebelumnya Mbak, yaitu CLBK. tahu kan CLBK... ?

    Setelah beberapa tahun dari " samawa' ....lahirlah lagu " selimut Tetangga " " JERA " dan lagu - lagu lainnya seperti " Bang Toyib " .

    * Maaf, koment saya butuh pemahaman tingkat tinggi,hanya yang berpengalamanlah yang akan mengerti,hahahaha.... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Balas koment sendiri ahhhhh.....!!! soalnya yang punya blog sedang sibuk PANEN JAGUNG, heheheh....

      Hapus
    2. Ya ampun, Kang Nata. Apa kaitannya itu? Ha ha ha. Setelah menikah lalu lahirlah buah hati sampai perlu pinjam selimut tetangga karena kehabisan stok selimut sendiri yang dijemur susah kering da musim hujan mana selimutnya tebal? Gitu? Ha ha.
      Duh, maaf. panen jagung belum. Kemarin komputer seharian tak bisa dinyalakan sampai tadi alhamdulillah menyala asal tekan tombol powernya jangan ngotot amat da arus listrik lemah di dalam netbook uzur.
      Kang Nata rajin banget bertandang, benar-benar penasaran atau geregetan karena belum dapat kiriman jagung? Saya mau saja kirim asal ada mesin teleportasi soalnya ongkir jasa kurir mahal sekali. Jagung sekarung bisa berkilo-kilogram ditambah tongkolnya. Benar-benar tak efisien, ha ha.
      Saya doakan, deh, semoga ada tetangga dekat rumah yang baik hati kirim jagung hasil kebunnya. Bukan saya pelit, cuma harus irit karena Kang Nata bukan tetangga dan jaraknya jauh banget, jatah jagung muda sekarung itu dibagikan suami ke saudaranya. Yang di pekarangan depan sudah gabis dibabat, Kang. Yang ada cuma fotonya doang, hu hu. Kasihan Kang Nata yang malang ngidam jagung.

      Hapus
    3. Cuma bercanda dong Mbak prihal JAGUNG-nya, ngak serius kaleee....heheheh.

      Tapi klau masih ada, boleh juga,hahahha.... :)

      Hapus
    4. Ha ha ha, becandanya bikin saya bingung dan tak tega soalnya kita tak tetanggaan dan belum ada mesin teleportasi untuk kirim jagung ke Sumatra Selatan. Entah puluhan tahun atau ratusan tahun mendatang, apakah akan ada mesin teleportasi agar bisa mudah kirim barang atau berpindah tempat, ha ha. Kalau itu terjadi, kita malah tak sempat merasakan karena sudah keburu beristirahat abadi.

      Hapus
  7. Haha aku hampir selalu menggunakan kata itu huhu

    Kedepannya maybe bakal lebih dikurangi deh

    Thank you for reminding us! <3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bisa dikurangi dan ucapkan kalimat panjangnya dengan semoga agar berkah bagi kedua belah pihak. Kalau beroleh doa yang banyak pastinya pasangan itu akan bahagia bangetm he he.
      You are welcome. :)

      Hapus
  8. Baru sadar saya akan efeknya .
    Kalau saya pribadi, menggunakan kata-kata terkini itu liat sikon sih.
    Kalau sama teman, bisa dipastikan saya bilang samawa, tapi kalau sama orang belum kenal, pasti pakai bahasa yang benar hahaha.

    Tapi memang sebaiknya kita menulis tanpa disingkat ya, terutama yang disingkat itu bahasa Arab.
    Kadang artinya malah aneh.

    Kayak banyak yang nyingkat 'Assalamu'alaikum' dengan 'ass'
    sangat gak sopan tapi tetep masih banyak yang nulis gitu.

    Terus terang, sejak kenal mba Rohyati, kosa kata saya dalam berbahasa Indonesia yang baik jadi nambah, dan jadi tau kalau ngomong sama si sulung saya kudu pakai bahasa yang benar, biar gak hilang bahasa asli kita :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha, saya paling sebal baca pesan yang dimulai dengan ass, emangnya yang menulis tak sadar arti lain dari itu dalam English? Mengapa tak tulis assalammualaikum saja. Saya tak akan singkat kata, tidak juga dengan mikum. Aneh saja bukan fanatisme. Masyarakat selalu memiliki keinginan untuk bebas berbahasam kita boleh mengikutinya jika dirasa cocok, namun kalau terasa janggal tak usahlah ikut-ikutan.
      Yang penting kita bisa memilah akronim mana untuk dipakai dan mana yang tidak, seperti salam yang disingkat itu kesannya si pengirim salam lagi mengumpat, ha ha.
      Terima kasih Mbak Rey mau menyimak padahal saya pikir tulisan yang bahas bahasa itu akan membosankan. Duh, semula saya takut tak ada yang baca karena orang lebih suka yang standar saja. Saya tetap suka menulis bahasa yang menjadi fenomena dalam masyarakat penuturnya. Asyik dan lucu, sih. Ha ha.

      Hapus
  9. Wuah menurutku sih ini, yaaa .. masyarakat Indonesia itu demen banget, atau malah bisa disebut kreatif ... bikin singkatan kata :).
    Awal pertamanya bikin bingung juga bacanya tapi lama kelamaan karena seringnya melihat tulisan seperti itu, akhirnya jadi terbiasa.
    Contoh singkatan diantaranya :
    • NasGor = nasi goreng
    • Burjo = bubur kacang ijo
    • Mikung = bakmi kangkung

    Laaah .. ini napa contoh-contohnya yang kutulis nama makanan semuanya yaaaa .. hahaha ..
    Melirik jarum jam, ternyata memang saatnya jam makan dan aku terasa lapaaar ... wwwkkkk

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkkwkw yang Burjo itu bikin saya selalu gagal fokus jadi bujo alias bullet journal.
      Trus baru dengar tuh mikung, semacam kisah Luna Maya Syahreino yak? wakkakaka

      Hapus
    2. Saya pikir burjo itu nama orang, Mas. Maklum di kecamatan mah pedahang bubur sini tak pakai singkatan, ha ha. Jadi aneh saja. Kalau nasgpr mah rasanya srandar sebagai akronim jadi tak membingungkan, sedang mikung bikin saya bingung, apa kayak menikung? He he. Belum pernah coba mie kangkung. Kayaknya enak. Saya sudah makan namun lapar lagi baca komen Mas karena mie adalah makanan favorit saya, ha ha.
      Yah, Mbak Rey, burjo kayak yang punya Mbak Ewa Febri, ya? Ha ha. Bullet journal versus bubur kacang ijo itu beda jauh meski akronimnya sama. Yang satu untuk catatan, yang lainnya untuk dimakan sambil bikin catatan, ha ha.

      Hapus
  10. Neng Rinne baru tau kalo samawa itu punya efek negatif padahal eneng suka ngomong samawa pas nikahan saudara

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga setelah ini bisa mengucap lebih lengkap lagi ya, Neng. :)

      Hapus
  11. Jujur diantara banyak blog,salah satu blog yang saya suka gaya penulisannya adalah blog mbak rohyati sofjan ini,bahasanya itu loh,ringan banget,mudah dimengerti dan mudah untuk dicerna dari tiap katanya.memang betul sekarang ini sering ada penggunaan bahasa-bahasa baru,bahasa jaman now,contoh
    1.Loe yang harusnyakan kamu
    2.gue harusnya saya
    3.meneketehe harusnya tidak tahu
    4.otw harusnya sedang dalam perjalanan
    5.merengek harusnya tidak baik atau kurang bagus
    Dan sebenarnya masih banyak lagi yang lainnya,ya mungkin bahasa-bahasa itu muncul karena zaman juga ya,tiap generasi punya gayanya masing-masing tapi sebaik-baiknya perubahan adalah perubahan yang terus menjaga budaya bangsa,bahasa adalah seseorang yang menunjukkan siapa kita dan dari mana kita berasal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setiap generasi punya gaya bahasanya masing-masing. Selalu ada yang unik. Cuma kala internet belum menyebar luas, bahasa gaul penyebarannya terbatas lewat bacaan, radio, dan televisi. Dulu radio pemah ngetop dengan bahasa gaulnya, kayak Prambors atau Oz. Sekarang internet memudahkan siapa saja mengakses bahasa baru secara merata.
      Terima kasih telah mengapresiasi isi blog saya, Bang. Alhamdulillah jika ada ilmu berfaedah yang bisa saya bagi.
      Sebagai generasi muda tentunya punya banyak timbunan kosakata unik dan kreatif, ya? Ayo keluarkan dalam tulisan di blog! Semangat!

      Hapus
  12. Memang gak semua kata disingkat itu bisa sama makna dengan kata aslinya, apalagi samawa ini, artinya kan bisa beda sekali lagian itu adalah sebuah doa. Alangkah baiknya jika tidak disingkat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mbak Iid. Doa yang baik adalah doa yang mudah dimengerti.

      Hapus
  13. Banyak banget skg akronim yang baru-baru, simpelnya mungkin bisa memudahkan pengucapan.
    di jogja juga mbak, nama2 jalan itu disingkat
    seperti : Jakal (jalan kaliurang), Jamal( Jalan magelang), Jokteng(pojok benteng), Alkid(alun-alun kidul)dan masih banyak lagi.
    tapi klo untuk nama tempat mungkin supaya lebih enak diucapkan kali yah hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enak diucapkan, namun bagi turis atau pendatang pasti membingungkan. Bagaimana jika nyasar jika dikasih alamat yang diakronimkan? Jadi ingat dulu teman-temanku selalu menyebut tempat tinggal kami dengan Baksum yang artinya Babakan Sumedang, entah apakah ada yang kelimpungan cari Baksum, ha ha.

      Hapus
  14. Betul, Kakak, banyak sekali singkatan yang muncul sejak zaman internet merambah bumi hahaha. Waktu pakai mIRC saya bingung dengan ASL PLS. Apaan sih? Oh ternyata Age Sex Location, Please. Terus disingkat lagi 27/M/Jkt (Usia 27, lelaki, Jakarta), contohnya. Awalnya memang super bingung sampai harus bertanya ke petugas warnet hahaha. Dan seterusnya mulai terbiasa dengan ASL PLS, F/M, KUL/KER, dan lain sebagainya. Termasuk SAMAWA. Ini saya awalnya juga bingung, sampai kemudian paham maksudnya. Nah, saya sendiri tidak suka pakai kata samawa, lebih suka menulis: Semoga langgeng sampai kakek-nenek, ya! :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha, diajak nostalgiaan pada mIRC. Iya, bingungin banget. Saya juga tak paham dan tak tahu cara jawabnya. Ngapain harus tanya soal usia, jenis kelamin dan lokasi segala, ya? Bikin capek saja, ha ha. Sekarang mah kita bebas, tiada mIRC yang cara komunikasinya aneh dan seolah kepo. Ada Facebook yang menampangkan profil kita dengan gamblang, juga WA yang tak kenal basa-basi langsung bisa ngobrol dengan teman lama maupun baru.
      Cuma, istilah BRB kayaknya masih bisa digunakan, ya. Relevan kalau lagi ngobrol di WA harus ditinggal dulu.

      Hapus
  15. Sekarang memang banyak yang memakai akronim ini, dan aku juga sering tidak paham. Apalagi akronim kekinian seperti baper, mager itu, dulu awalnya ya bingung saja kalau ada yang menulis seperti itu. Setelah tanya sana sini akhirnya sekarang ya tau dikit2 :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, butuh waktu untuk memahami akronim zaman sekarang. Namun lebih mudah da bisa googling. Saya juga tak paham mager, kirain sejenis pagar, ha ha.

      Hapus
  16. Iya aku kadang suka bingung kalau nemu akronim akronim yang asing atau belum pernah aku temui. Biasanya kalok nemu akronim yang asing, aku berselancar deh di google. Kadang aku mendapatkan penjelasan dari google soal akronim yang bagiku asing itu. Tapi kadang juga nggak nemu. Mungkin akronim yang nggak ada penjelasannya di google itu, adalah akronim hasil kreasi sendiri kali ya mbk alias nggak ngikutin aturan ttg akronim yang berlaku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, akronim yang tak terdapat di Google belum terindeks atau belum ada yang tulis untuk dibahas. Mungkin tak penting, he he.

      Hapus
  17. Kalau untuk bahasa Indonesia, saya gak masalah dengan akronim sebatas yang gak aneh-aneh, ya. Tetapi, kalau untuk bahasa Arab, saya agak mikir boleh atau tidak. Sependek pengetahuan saya, bahasa Arab kan beda satu huruf aja bisa beda arti. Atau ada juga yang menyingkatknya jadi aneh. Kayak Assalamu alaikum, jadi ass

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mbak. Soalnya beda huruf akan beda makna. Saya juga kerap kesal kalau disapa assalammualaikum yang disingkat, ha ha.

      Hapus
  18. Tentang "samawa" ini, kalau meminjam istilah MJ, Michael Jackson, namanya "you are not alone", mba.

    Aku juga baru tahu kog. Biasanya familiar dengan "samara" dan yang satunya lagi, asmara, hahaha.

    Juga idem dengan mba Rey, baru aja dengar di sini nih, mikung, hahaha.
    Biasanya, nikung :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. He he, iaya, ada banyak istilah. Terserah samara atau samawa. Beda jauh atuh dengan asmara, ha ha.

      Hapus
  19. saya juga kalau ngetik di hp pengennya nyingkat kalimat jadi akronim (beberapa kalimat hubung seperti dengan, karena, dll) tapi kalau lagi nulis untuk resmi di blog dan status saya usahakan tidak menyingkat kata akronim. Baru tau kalau daring singkatan dari "dalam jaringan", hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mbak. Kalau di blog jangan disingkat karena akan mengganggu yang baca. Lagian blog 'kan luas ruangnya, he he.

      Hapus
  20. Betul, banyak yang sering menggunakan akronim sejenis itu, gunanya biar ringkes katanya. Haha. Padahal kalaupun ngetik lengkap juga biayanya sama aja, karena saat ini kan kita berkomunikasi dengan menggunakan paket data, bukan pulsa yang dihitung per jumlah karakter tulisan (SMS) lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, padahal zaman sudah berubah namun kebiasaan menyingkat kata tetap saja sulit diubah, ha ha.

      Hapus
  21. Samawa bagiku udah gak asing lagi. Tapi aku jarang pakai ini buat ngasih selamat ke pengantin. Karena arti sakinah mawaddah wa rohmah itu dalam banget

    Aku asal akronim umum, sesuai EBI ya gak masalah. Tapi kalau dari bahasa gaul, ini agak PR juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kalau ngasih selamat harus dengan lengkap agar berkah bagi yang diselamati dan yang mengucapkan.
      Soal kaidah akronim, sudah ada panduannya dalam EBi, kalau menyangkut bahasa campur memang PR besa bagi kita.

      Hapus
  22. Wahhh saya sering pake akronim ini nih kalo ada teman yang nikah. kayaknya mulai saat ini saya harus lebih lengkap lagi nih ngucapinnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebaiknya lengkap, Mbak. Biar afdol, he he.

      Hapus
  23. seiring kemajuan zaman, semakin banyak akronim yang diucapkan banyak orang yaa, Mba, sebut saja julid, kudet, dan beberapa kata lain :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mbak. Julid sebenarnya berasal dari bahasa Sunda dan saya sempat tak paham.

      Hapus
  24. Mampir ke blog ini, saya langsung berkaca apakah penggunaan Bahasa Indonesia saya sudah benar. Banyak generasi muda yang justru kurang cakap berbahasa Indonesia, mungkin cakap tapi tifsk piawai. Saya adalah salah satunya, harus banyak belajar dama mba rohyati

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih apresiasinya, Mbak Rizka. Kita saling belajar. Saya juga belajar menulis dari blog Mbak, terutama kala mengulas sesuatu.

      Hapus
  25. Ah iya..kadangkala singkatan memang membingungkan apalagi bila tak umum dipakai. Ini kejadian pada salah satu rekan kerja yg senang menyingkat kata saat menulis pesan, tapi singkatan yg digunakan nggak umum..jadi bingung deh bacanya..hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha ha, bahasa kode rekan kerja Mbak mah. Apa termasuk programmer atau orang yang irit kata?

      Hapus
  26. Kata-kata samawah seperti gula dengan semut, ucapan yang sudah nempel dengan pengantin, walau alangkah baiknya Doa tidak disingkat hihihi

    BalasHapus
  27. Singkat menyingkat kata tidak hanya bikin bingung tapi juga bikin pusing yang mau balas. haha saya sih langsung aja nanya. "mba ini artinya apa saya ga paham disingkat singkat". mungkin masih efek dulu smsan biar hemat nulis kali ya haha kalau wa kan bebas ga dihitung perhuruf

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha, saya banget kalau ngadepin akronim ajaib biasanya bingung namun malas tanya langsung. Kadang saja. Pernah tanya apa arti gaje pada tahun 2014 lalu, dan dapat jawaban gak jelas. Oh gitu, toh. Kirain nama perkakas.

      Hapus
  28. Penggunaan bahasa itu bisa juga menunjukkan orangnya generasi tahun berapa ya mba :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Generasi dulu dan sekarang punya ciri khas berbeda soal pemilihan bahasa.

      Hapus
  29. Iya mbak, sekarang kalau ada yang baru menikah selalu saja pada bilang, samawa ya. Kalau yang ngerti ya pasti paham. Buat yang enggak kan bingung ya. Lagipula esensi doanya jadi berubah karena tidak disebutkan secara jelas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebaiknya diucapkan dengan jelas agar esensinya tak membingungkan orang lain, ya, Mbak. Lagipula agar anak kecil yang dengar jadi terbiasa ngapalin doa, he he.

      Hapus
  30. Belajar banyak tentang akronim dari artikel ini, saya kalau menemukan akronim atau bahasa baru yang tidak dimengerti biasanya suka penasaran dan cari artinya di google, khan nggak akan malu ya kalau nanya ke mbah google, bagi saya sih cukup tahu saja, kadang ikut menggunakan kadang tidak, tergantung kata tersebut apakah nyaman menggunakannya atau nggak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Lebih nyaman cari tahu sendiri di internet. Saya juga tak selalu pakai akronim soalnya peminat bahasa Indonesia jadi pakainya jika terasa pas saja.

      Hapus
  31. Saat ini memang banyak sekali singkatan yang kadang membuat aku mengerutkan kening mbak. Apalagi kalau di twiter, anak muda zaman sekarang kalau mention aku bilang : Mantul Teh! mantap betul maksudnya hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mantul dalam pandangan saya kirain cuma memantulkan bola atau sesuatu yang bisa dilempar-lempar, ternyata bisa jadi istilah baru, ya Mbak.

      Hapus
  32. Mmm.. akupun kadang menggunakan kata samawa
    hehe tapi memang ya beda kata beda maksud, jika maksudnya adalah mendoakan memang sebaiknya harus disebutkan lengkap.. seperti membaca Alqur'an harus jelas bacaan hurufnya karena beda huruf beda arti.. jadi memang harus tepat ya mba pengucapan dan tulisannya walaupun hanya sekedar tulisan status facebook

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah, Mbak. Beda kata akan beda maksudnya atau malah tak dipahami. :)

      Hapus
  33. Akuhhh tuh masih pakai samawa soale lebih singkat dan padat. Hmmm..ternyata kurang etis ya kalau di singkat gitu .Makasih sharing nya kak .

    BalasHapus
  34. Berbahasa pun kini juga makin instan caranya mba, ya itu tadi pake akronim sakkarepe dewe alias semau gue. Bahkan ucapan selamat ulang tahun pun sekarang tinggal ditulis gini : WUATB GBU. Halah halaahhh. segitunya ga mau nulis panjang-panjang ya. Suka kesel juga sih lihatnya, tapi ya gimana lagi. Anak-anak jaman sekarang emang hobinya nulis gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. WUATB GBU, duh, kebangetan juga kalimat panjang dalam bahaa Inggris disingkat demikian. Saya pikir kayak nama stasiun radio, ha ha.
      Anak muda zaman sekarang memang canggih mengikuti tren dan percepatannya.

      Hapus
  35. Kadang suka segan untuk bertanya karena takut diledek ya mbak hehehe. Biasanya akalu gak tau aku tanyanya teman dekat jadi gak akan diledek di ruang publik. Kalau Samawa dari jaman aku sekolah dulu udah sering dengar.
    Ngomongin masalah singkatan, di sini untuk nama tempat seperti mall atau nama jalan suka disingkat juga mbak, misalnya TUPAREV untuk Tujuh Pahlawan Revolusi atau Plangi untuk Plaza Semanggi hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha, iya, sama, Mbak. Kita cenderung cari jalaur aman agar tak diledek karena tak tahu arti suatu kata.
      Ohm soal TUVAREV, dari dulu saya penasaan dengan nama jalan di Cirebon itu. Ternyata merupakan akronim. Kalau Plangi mah saya tak tahu, ha ha. Makasih infonya, Mbak.

      Hapus
  36. aku kalo kepentok ga ada waktu ngucapin misalnya ke medsos, aku biasanya nulis singkat samawa tapi biasanya kalo ketemu langsung bilang panjang heheheh soalnya biar tambah mantep

    BalasHapus
  37. sekarang ini ketidak pahaman terhadap suatu kata tertentu tidak bisa serta merta dianggap kudet. Karena di era media sosial ini, trend cepat sekali berubah. Yang penting jika ingin ikut ikutan menggunakan kata-kata yang sedang trend tersebut, kita tahu dulu apa artinya... biar ga malu karena salah qiqiqiqi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hem, iaya, tren cepat bergeser. Lerap kita dibikin bingung. Soal mau pakai suatu istilah, betul banget harus tahu dulu apa artinya, ha ha.

      Hapus
  38. Sekarang orang suka pakai akronim yang terkadang jadi mengurangi esensi maknanya ya mba. Kita harus menjadi pengguna bahasa yang benar nih ya dimulai dari sekarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Ada kata tertentu yang jika diakronimkan terasa janggal dan tak pas. Bikin bingung atau mengaburkan maknanya.

      Hapus
  39. Aku sekarang hati2 banget kalo make kosa kata baru yang lagi trend khawatirnya salah nerjemahin hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha, iya, harus hati-hati banget agar tak malu-maluin.

      Hapus
  40. Sering nggak paham juga akronim yang kadang disebut atau ditulis beberapa orang. Mungkin saya yang kurang update kali ya Tapi kalo samawa sering denger sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Akronim mah gitu, Mbak. Dari masa ke masa akan membingungkan orang, ha ha.

      Hapus
  41. aku juga kadang penasaran darimana sih semua akronim2 ini bermunculan ya
    hehe padahal arti sebenarnya lebih dalam .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dari pengguna bahasa yang kreatif, he he. Kebanyakan anak muda, memang.

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah singgah, silakan tinggalkan jejak komentar sebagai tanda persahabatan agar saya bisa lakukan kunjungan balik. Salam.

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Penulis Sekaligus Narablog? Pasti Bisa!

Ingin Latihan Karate Lagi

Tahun 2018, Tahun Terbaik Saya dengan Blog