Ingin Latihan Karate Lagi



TERTAWAKAN saja, dalam usia kepala 4, sekarang 43 tahun, masih ingin berlatih karate lagi. Padahal tulang sudah kaku, usia sudah tak muda lagi, asam kurat kerap kumat, sendi terkadang nyeri, tubuh tak lentur lagi. Yang utama, sudah lupa semua gerakan dasar yang puluhan tahun lalu dipelajari. Belajar karate sejak Juli 1994, cuma sampai kelas 2 SMU Al Fatah, dan sabuk hijau padahal sudah menguasai gerakan kata secara lancar untuk sabuk biru, bahkan iseng ikut belajar tahap gerakan kata untuk sabuk cokelat yang sulit bersama teman-teman dari SMU Negeri 1 Limbangan (sekarang berubah nama jadi SMAN 13 Garut) yang rajin latihan.

Mengapa saya ingin latihan karate lagi? Alasannya sederhana, saya harus olahraga namun ingin yang bikin hepi. Yoga atau joging bukanlah pilihan saya. Gerakan yoga susah dan pakai acara semacam meditasinya, kalau joging alias lari pagi rasanya terlalu merepotkan bagi saya yang malas banget keluar rumah da sibuk sebagai ibu rumah tangga sekaligus penulis lepas dan narablog. Lagipula, saya harus jaga rumah soalnya trauma dengan kasus ada yang bongkar gembok kala mati lampu. Gemboknya sudah diganti baru, namun traumanya tak mudah hilang.


Bagi saya karate adalah olahraga yang menyenangkan. Perpaduan antara gerak dan melatih otak. Soalnya kita harus mengingat semua gerakan dalam karate saat berlatih. Yang utama lagi, karate itu membuat tubuh kita sehat karena mengombinasikan banyak gerakan anggota tubuh, berikut tangan dan kaki. Ada jeda dalam setiap gerakan dan harus dilakukan dengan cara yang tepat. Awal mula mempelajarinya lumayan susah juga, saya banyak salahnya. Mana tak bisa mendengar perintah sensei (guru). Cuma mengikuti gerakan teman lain secara spontan dan diupayakan sama meski kadang lambat karena lupa atau gugup.

Sungguh saya ingin berlatih karate lagi, kiranya bisa membuat badan sehat dan massa tulang tak susut karena osteoporosis. Karate juga bisa melatih otak agar fokus, barangkali bisa mencegah kepikunan lebih awal soalnya saya merasa alami demensia digital (pikun karena terlalu banyak mengakses informasi secara digital). Soal demensia digital semoga bisa saya bahas dalam tulisan baru di lain waktu -- jika ingat, saking seringnya menyerap informasi lalu mudah pula melupakan kala berganti informasi baru, ha ha.

Kala remaja saya tak alami masalah dalam berlatih karate, tubuh saya masih lentur karena usia baru merekah ranum. Sekarang mah rasanya sudah cukup renta, ha ha. Entah apakah tulang bisa terima kala persendian digerak-gerakkan sesuai jurus dalam kata yang penuh semangat. Takutnya patah tulang atau salah urat lalu jejeritan manja memanggil anak dan suami agar mengusap-usap sendi yang nyeri, ha ha.

Berlatih karate bisa dilakukan di rumah dan ada banyak video serta gambar gerakan. Saya bisa pilih mana yang pernah dipelajari lalu dipraktekkan. Soalnya ada banyak aliran dalam karate dan itu akan membuat sedikit perbedaan. 

Saya ikut aliran shotokan dari LEMKARI (Lembaga Karate-do Indonesia)-FORKI (Federasi Olahraga Karate Indonesia) karena sekolah memang mengambil yang itu. Ada teman masa kecil saya yang tetangga di Bandung ikut karate juga kala SMU di sekolahnya, namun beda lembaga: INKAI (Ikatan Karate-do Indonesia).

Apa pun perbedaannya, saya tetap suka karate. Bagi saya gerakan karate itu keren banget, apalagi seragamnya yang putih-putih dibalut obi (sabuk) aneka warna sesuai kemahiran dasar yang telah dikuasainya lewat ujian kenaikan sabuk, membuat karateka tampak keren dan berwibawa.

Hem, rasanya saya belum layak disebut sebagai karateka, soalnya disuruh kumite (adu tanding) saja bakal keok karena tak tega memukul lawan sampai malah kena tendang teman dari SMUN 1 Limbangan, ha ha. Tepat ke selangkangan yang terlarang. Benar-benar konyol dan saya juga salah tak melakukan antisipasi pertahanan karena kagok ditonton sekian teman dari sekolah sendiri dan sekolah negeri yang selalu digabung latihannya agar ramai. Kejadiannya di panggung beton Alun-alun Limbangan, Garut. Benar-benar memalukan, mana ada subjek cinta platonis jilid 4 yang menyaksikan, ha ha.

Mengapa Ikut Latihan Karate?
Saya ini penggemar film laga, film yang ada gerakan bela dirinya. Boleh silat, kungfu, taekwondo, aikido, kickboxing, bahkan karate. Dulu kerap disuguhi film karate yang dibintangi Chuck Norris dan saya terpesona pada gerakannya yang lincah kala memukul atau menendang. Tendangan putarnya keren banget. Ada lagi “Karate Kid” yang dibintangi aktor ganteng idola para remaja tahun ’80-an dan ’90-an, Ralph Macchio. Lalu sekian film lainnya yang saya lupa judul dan pemainnya namun saya tak lupa kostum serta gerakannya yang gesit memukau. Berharap bisa belajar karate juga. Cuma, di mana?

Allah Mahabaik, kala saya, alhamdulillah bisa diterima lagi untuk belajar inklusif di sekolah yang penghuninya anak-anak berpendengaran normal semua, pada hari pertama belajar saya tertarik pada kegiatan nun di halaman sekolah yang dipisah jarak entah berapa meter. Ada sekumpulan anak-anak berlatih karate di halaman kelas 3. Seragam putih mereka begitu mencolok, sayang saya hanya bisa melihat punggungnya saja, tak terlalu jelas karena ada sebidang kebun mengalang. 

Sejak itulah saya tahu ada ekskul karate di sekolah dan ingin ikutan. Saya mencoba mencari info mengenainya, dari teman atau guru (lupa), diberi tahu bahwa latihan diadakan setiap Ahad pada pukul 8 pagi tepat waktu. Baik. Saya bilang pada orang tua ingin berlatih karate di sekolah, bapak sangat senang sekali dan mengizinkan. Baginya karate lebih baik daripada pencinta alam karena khawatir anak gadisnya gimana. Padahal anak gadisnya ingin bisa merasakan sensasi jadi jagoan dengan karate meski kecewa tak bisa naik-turun gunung dan berkemah, ha ha.

Ada ekskul pramuka juga, namun saya tak berminat. Jadi, pada hari Ahad pagi yang cerah dan tralala, saya berangkat dari rumah (lupa apa naik mobil omprengan yang ongkosnya untuk anak sekolah cuma 150 rupiah atau ojek yang bayar 500 rupiah, lalu disambung naik sado dari perempatan pangkalan mobil omprengan dan ojek ke Pasar Balubur Limbangan). Saya pakai baju olahraga biasa karena belum punya seragam karate. Tas serut Exsport saya yang imut menyimpan baju itu.

Coba tebak, apa yang terjadi di sana?

Cowok yang saya taksir pada pandangan pertama dan dicanangkan sebagai subjek cinta platonis jilid 4 pun ternyata ikut karate juga, sudah sabuk kuning karena ikutnya sejak kelas 3 SMP Al Fatah. Jelas saya pengen jingkrak-jingkrak kegirangan.

Loh?

Ha ha, saya norak, ya. Senang banget bisa jumpa doi setiap hari di sekolah, sosoknya yang tinggi tegap itu terasa macho bagi saya yang imut mungil-kurus kecil. Jadi tambah semangat latihannya, dong, karena gebetan ikut ekskul yang sama dan jadi senpai (senior). Namun jangan mikir saya ini akan bergenit-genit, pada cowok yang ditaksir, biasa kaku da malu. Senyum apalagi ngomong saja tak bisa. Inilah saya, ha ha. Sebatas secret admirer dari kejauhan semata.
 


Pokoknya hari pertama latihan yang banyak salahnya itu sangat mengesankan saya. Sensei dari luar cakep, namanya tak usah disebutkan, ha ha. 

Saat itu latihan belum digabung dengan anak negeri, namun masih banyak yang ikut, terutama kakak kelas. Rasanya anak kelas 1 yang ikut cuma sedikit, entah mengapa. Saya satu-satunya murid perempuan yang ikut karate dari anak kelas 1 sampai kemudian berhasil mengajak Ai Nurrohmah sobat sebangku untuk ikut juga. Sayang Ai-nya tak mau melanjutkan karena takut olahraga itu akan membuat selaput daranya robek. Saya malah bingung karena tak memikirkan hal itu sama sekali, yang penting senang bisa ikut ekskul karate, dapat nilai plus di mata sensei-sensei yang guru olahraga dan wali kelas kami, punya banyak teman, bisa meningkatkan rasa percaya diri, sehat, dan bisa selalu diam-diam memperhatikan sang subjek, ha ha.

Kalau penasaran, kurang kerjaan, atau sekadar suka baca yang panjang, silakan baca novelet yang terinspirasi dari kisah cinta platonis saya, dan konyolnya ada adik kelas yang malah menjadikan saya sebagai subjek cinta platonisnya juga, ha ha.


Aduh, rasanya saya kian melantur sampai tulisan panjang ini malah jadi bahas nostalgiaan masa remaja. Mau disabet obi? Enggak mau, ha ha. Omong-omong soal sabuk karate, ada kisah konyolnya juga. Sudah saya rencanakan untuk ditulis, nanti saja. Selesaikan yang ini dulu.

Tentang Karate
Saya pikir bahas karate itu akan panjang, makanya pakai rem tangan untuk bahas kenangan karate di sekolah, masih berpeluang untuk dibikin tulisan baru. Tulisan ini saja sudah lebih dari 1 ribu kata. Jadi, saya akan cerita sekilas tentang karate agar tulisan ini bisa menambah referensi pengetahuan bukan curhat gaje (curahan hati enggak jelas).

Berdasarkan sumber dari Wikipedia, karate berasal dari kata kara (kosong) dan te (tangan), Sensei Gichin Funakoshi mengubah nama yang semula tote (tinju Cina) menjadi karate karena rasa nasionalisme. Secara filosofis karate berarti ilmu beladiri yang mengandalkan tangan kosong. Diadaptasi dari Cina namun dikembangkan oleh orang Jepang sendiri dengan beragam aliran (shotokan, goju-ryu, shito-ryu, dan wado-ryu).  

Dalam karate ada tiga latihan gerakan utama yang harus dikuasai para karateka dengan baik: kihon, kata, dan kumite. Lumayan susah juga, sih, namun menyenangkan untuk dipelajari. Olahraga itu mengenai tahap-tahap dari dasar, lanjutan, sampai praktik.

Kihon adalah gerakan dasar utama, semacam pondasi sebelum menguasai gerakan tingkat lanjutan dalam kata (jurus) dan kumite (adu tanding). Menguasai kihon dengan baik adalah hal yang paling mutlak. 

Jadi, kalau saya hendak belajar karate lagi, harus mulai dengan kihon dulu. Menguasai semua cara bagaimana memukul dan menendang dengan ragam variasinya secara berulang-ulang.

Berulang-ulantg adalah suatu cara untuk membuat otak bekerja, pun ragam gerakan yang berbeda memaksa stimulasi otak agar bisa mengingat gerak secara serentak. Kihon mengenal beragam tahapan dalam gerak. Kita mulai dulu dengan yang ringan seperti memukul lurus ke depan dengan satu tangan kanan dan kiri dikepal. Setiap gerak mengenal ritme. Tidak heran saya sangat suka kala berada dalam barisan, rasanya kompak dan serempak. Namun seperti biasa, karena saya tak bisa mendengar aba-aba dari sensei, saya kerap lambat jadi harus perhatikan bahu teman yang di depan. Karena bahu adalah sinyal akan gerak, sekaligus mudah dilihat, ha ha.

Ah, membahas karate ternyata bisa panjang juga. Jadi khawatir yang baca bosan. Saya harus praktikkan agar keinginan ini tak sebatas niat. Sayang bengkak di pangkal paha saya belum sembuh benar malah kambuh parah dan harus segera diperiksa ke puskesmas kecamatan. Semoga saja tak parah. 

Saya khawatir dengan tiga kemungkinan terburuk: kelenjar getah bening, kista, atau kanker. Semoga Allah menyembuhkan dan tak memberi penyakit berat. Semoga hanya cedera biasa yang alami peradangan karena sebelumnya ditekan sahabat untuk memastikan, ditekannya lama seakan memencet segala; ditambah saya makan makanan yang tak baik bagi kesehatan seperti baso ikan dan seblak karena mengandung zat kimia; serta konyolnya demi suami rela, maaf, bercinta sekali karena sudah dua pekan saya sakit sehingga tak bisa melayani suami dengan baik. Seharusnya menahan diri dulu sampai sembuh benar. Lagipula, obat kimia kerap bersifat pseudo, menyamarkan rasa sakit, jadi tak sadar apakah bengkaknya akan parah atau tidak.


Setiap orang punya cara untuk berlahraga, kalau kemudian saya ingin latihan karate lagi, lebih pada minat dan daya gunanya. Saya ini orangnya pembosan, selalu butuh tantangan agar tak bosan. Karate telah mengajarkan saya keselarasan gerak dan kerja otak, kombinasi yang saya butuhkan untuk tetap sehat tubuh dan pikiran. Saya sadar tak bisa menghindar dari pengerutan otak. Membaca saja rasanya tak cukup, ada sesuatu yang harus jadi tambahan.

Orang mungkin hanya melihat karate sebagai olahraga keras dan ada berantemnya, namun bagi ibu rumah tangga cinta damai macam saya, segala gerak dalam karate itu indah. Terstruktur serta mengenal beragam tahapan. Bahkan dalam kihon saja, bagi kohai (junior pemula alias adik tingkat) yang sabuk putih, dimulai dulu dengan satu gerakan sederhana. Entah itu pukulan atau tendangan, mengenal tahapan sesuai sabuk yang melilit tubuh. 

Karate itu gerakan yang cepat, tangkas, lentur, dan menyehatkan jika dilakukan secara tepat.

Adakah yang pernah ikut karate juga? Atau olahraga beladiri lain? Bagaimana rasanya? Mau berbagi di dalam kolom komentar? Terima kasih. Yoi (siap)?

Salam karate. Kyae! (semacam teriakan dalam karate agar bersemangat, he he.)  
Cipeujeuh, 8-9 Maret 2019
#Karate #Olahraga #NostalgiaRemaja #SHSTMaret3
~Foto koleksi pribadi, video dari Youtube

https://www.youtube.com/watch?v=VTwnnvuhHZY

 


GERAKAN KATA DALAM KARATE DARI 1 SAMPAI 5

Komentar

  1. Kalau saya belum pernah ikut karate, baik itu tekniknya maupun dasarnya. Jadinya bisa belajar deh melalui blog ini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih. Saya cuma menuangkan pengalaman ditambah nostalgiaan. Sebenarnya jauh dari kata informatif karena kebanyakan curhat ngalor ngidul, he he.

      Hapus
  2. Kalau aku suka renang meski nggak tinggi karena dulu zaman SD les renang dan sampai saat ini masih rajin renang karena olah raga lainnya membosankan. Dulu pernah sih berhenti renang beberapa tahun, tapi rasanya nggak enak, kayak nggak sehat.

    Yuk Kak berlatih Karate lagi...
    Keren lagi, latihan Karate-nya di sekolahan, ada ekskul dan eh ada cowok yang ditaksir. Haha...

    Semoga Kakak mau latihan Karate lagi dan semoga nggak ada kejadian gembok dibuka paksa lagi.

    Semangat Kak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Renang itu asyik, sayang saya malah tak bisa renang. Pernah belajar tetapi tak bisa-bisa juga. Entah mengapa terasa sulut bagi saya. Mungkin karena belajarnya di irigasi yang tak terlalu dalam, ha ha. Pernah di kolam renang juga sayang tak ada yang mengajarkan caranya. Saya telanjur patah hati untuk belajar berenang karena tak bisa-bisa. Sudah dicoba ke pemandian air panas, kayaknya harus ditemani suami agar doi bantu prgangi saya dan ngajarkan, ha ha.
      Mbak Enyd mah bagus bisa renang. Lanjutkan, ya. Biar tetap sehat dan bugar.
      Insya Allah, saya akan mulai belajar kihon dulu sebagai dasar. Berikut mencari video pemanasan. Saat ini belum memungkinkan karena ada pembengkakan yang mengganggu. Nuhun.

      Hapus
    2. Aku awal belajar renang karena waktu masih kecil terpaksa untuk terapi air dan pernafasan (nggak ada riwayat sakit sesak sih), tapi nafasku termasuk pendek dan tidak teratur. Jadi gampang capek.
      Finally, sampai sekarang kebiasaan.
      Olah raga apa pun sebenarnya lebih nyaman dibiasain dari kecil, kalau sudah dewasa gini suka kaku banget. Aku saja mau belajar karate nggak bisa karena kaku dan akhirnya malas.

      Semangat ya Kak! Semoga segera bisa latihan karate lagi. Hidup sehat! Yeey...

      Hapus
  3. Cie ..cie ..cieee ...
    Ternyata ngga nyangka ya cowok gebetan ikutan latihan karate juga :D.

    Kalau kak Rohyati pernah punya pengalaman tertendang oleh teman seperguruan, aku ketendang oleh salah satu guru karateku.
    Aku diminta sigap nangkis tendangannya malah sibuk memperhatikan gayanya..., daaan ... aku terjungkal ke belakang, kepalaku terasa sakit.
    Sampai dirumah aku langsung diminta berhenti ngga ikut latihan lagi oleh nenekku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha, tak nyangka, ya. Setidaknya bikin semangat latihan karena bisa lihat doi di dojo sekolah.
      Guru karate Mas Hino rasanya kebangetan, masa nendang pada murid (ka) yang belum siap. Mestinya lakukan semacam pemanasan dulu dan berjarak dari kepala, yang itu sadis rasanya.
      Di sekolah saya sensei kala mengajarkan cara berkelahi atau membela diri juga dengan pelan dan memastikan ka-nya sudah benar-benar siap agar tak celaka.
      Rasanya tindakan nenek sudah benar juga karenba khawatir cucu kesayangannya celaka jika yang mengajar sembrono. Butuh tahapan atuh untuk mengajarkan cara membela diri, sang ka tak akan melamun takjub pada gerakan sensei-nya.
      Mas Hino masih latihan karate lagi? Atau terpikir untuk belajar dari Youtube saja?

      Hapus
    2. Pastinya hehehe ...
      Ada gebetan, dulu semangat latihannya jadi makin bertambah :)

      Setelah aku ditendang oleh pelatihku dan kepalaku terbentur, aku ngga diperbolehkan lagi ikutan karate, kak.
      Sebagai gantinya aku diminta untuk ikut les berenang.
      Sebenarnya aku senang ikut latihan karate karena bayanginnya aku bakalan jadi kayak jago bela diri di film laga, kayak kang Nata eh# Jet Lee gitu .., tapi apa boleh buat aku dilarang keras melanjutkan latihan lagi.

      Hapus
    3. Kalau ada gebetan jadi asyik berlatih. Seakan termotivasi saja, ha ha.
      Yah, pelatihnya ngaco atuh, bikin ka dilarang latihan lagi. Renang asyik juga. Bikin badan lebih berisi dan jadi kotak-kotak seksi, ha ha.
      Kalau niat latihan karate agar sehebat Jet Li memang susah, akan ada aral padahal asyik jika bisa luwes bergerak.

      Hapus
    4. Hahahahaa ... apa iya sih kaak latihan berenang bisa bikin perut kotak-kotak .., perutnya sepupuku kok ngga yaa ...

      Nulis gini sambil melirik ke sepupuku, takut dia melirik apa yang kutulis.
      Bisa-bisa aku dijitak wwwkk

      Hapus
  4. Dulu waktu kelas 1 SMA pernah ikutan ekstrakurikuler di sekolah, bagus juga ikutan karate, ada banyak manfaat yang dirasakan. Dulu tubuh masih langsing mbak, kira-kira kalau udah endut gini masih bisa gerak gesit enggak ya hahaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tak masalah, kok. Jangan pikirkan soal gesitnya, yang penting latihan karate lagi. Sembari mengingat masa muda, ha ha.
      Baguslah jika karate, bisa menurunkan berat badan karena banyak gerak yang terpola. Gerak yang benar-benar telah teruji serta mengenal rutme.
      Ayo latihan karate lagi. Semoga video dari Youtube bisa menyemangati. :)

      Hapus
  5. saya ngak nyangka kalau Mbak punya keahlian beladiri, saya jadi was - was nich kalau ketemu, khawatir kena TENDANGAN SERIBU BAYANGAN , soalnya saya suka koment asal -asalan.hahahha.....

    Dulu saya pernah juga belajar beladiri, yaitu SILAT, tapi baru beberapa bulan sudah EXIT. Tempat belajarnya jauh dari rumah, ITU yang menjadi kendalanya, sedangkan saya ngak bisa jauh - jauh dari EMAK saya, soalnya saya tipe ANAK MAMI, hahahah.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha ha, tendangan seribu bayangan itu milik Wiro Sableng, doi bukan sensei saya jadi tak bisalah saya praktikkan itu, ha ha.
      Komen asal-asalam, sih, tak masalah, Kang. Bisa menghibur dan bikin ngakak yang baca. Kang Nata adalah insan kocak di jagat blog yang populer. Terbukti berapa banyaknya pengunjung dan komentator di blog Kang Nata. Da tulisannya lucu juga, sih. Polos lagi. Kentara memang anak maminya, ha ha.
      Ayo, Kang latihan silat lagi kalau punya banyak waktu luang dan ada tempat latihan yang dekat.Buat jaga-jaga kalau Wiro Sableng datang bertandang dan ngajak duel, ha ha.

      Hapus
    2. @ Kang Nata =

      Wwwkkkk ...
      Anak mami ya, kaaaang ?.
      Sama dong kalo gitu dengan diriku :D.
      Dulu aku kecil termasuk bocah yang dimanja oleh mama ..., apa-apa dikit-dikit mama daan .. ngga boleh begini begitu sama mama.
      Tapiii ..., sekarang gedenya ini aku udah diberi kelonggaran dibiarin keluyuran kemana-mana, tapi harus kegiatan positif tentunya, kayak travelling gitu.

      Hapus
  6. Wah,takut saya kalau deket-deket sama mbak rohyati sofyan,bisa dihajarnya nanti,wkwkckk 😂,

    BalasHapus
    Balasan
    1. JANGAN TAKUT! Saya orang baik yang tak suka main hajar sembarangan, ha ha. Cuma pengen banget bisa menghajar yang buka paksa gembok rumah sampai terbuka gitu.

      Hapus
  7. Wah keren itu mba, saya dukung deh buat latihan karate lagi, baru tau karate ada aliran persatuannya juga sama seperti pencak silat dong ya, saya dulu ikut pencak silat perisai diri tapi tak lama karena tugas kuliah banyak yg terbengkalai

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, selalu ada perbedaan dalam aliran beladiri, seperti silat. Asyik Mbak Iid bisa silat, bisa jaga diri atuh. Apa masih inhat jurusnya? Silat itu indah sayang saya susah mempelajarinya, gerakannya tangkas dan cepat. Saya cuma bisa menyimak jika ada semacam perulangan seperti dalam karate.

      Hapus
  8. Wadduh, cantik dan kalem begini ternyata jago karate....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi malu saya, Mbak Lantana. Saya tak jago-jago amat. Cuma seorang ka (murid dalam karate) yang suka berlatih saja da asyik. Nuhun. :)

      Hapus
    2. Terusin aja mbak, jadi ka dulu, ntar kalo udah jago bsa ikutan Asian games....:)

      Hapus
  9. Subhanallah Mba.. jadi mau akutuh yang usianya masih muda tapi olahraga aja jarang hiks.. baca riwayat mbak tentang karate, jadi nostalgia deh.. dulu mantan pacar aku juga anak karate lho.. bedanya aku ngga ikutan karate.. tapi hanya sekedar nemenin latihan atau bertanding hehe.. tuh kan jadi inget mantan.. hayoooloooo tanggung jawab mbakkkk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah, kok saya yang harus tanggung jawab, ha ha. Padahal cuma ingin nostalgiaan tentang karate dan cowok gebetan di sekolah. Eh, ada pembaca yang ternyata punya mantan yang karateka juga. Itu tak sengaja banget, Mbak Elly, ha ha. Hapunten pisan. :)
      Mari olahraga yang disukai Mbak Elly. Tak usahlah karate da takut malah ngingetin pada mantan, ha ha.

      Hapus
  10. Aku pas SMA dulu ikut beladiri juga
    cuma pencak silat
    sepertinya ada sedikit perbdaan anatara karate dan pencak silat
    mungkin dari segi sejarahnya ya?
    olahraga yg paling simple eman bela diri sih mbak hehe
    semangat mbak semoga bisa latihan karate lagi secara rutin
    osss

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karate dan silat itu beda. Dari hasil pengamatan saya karena di kampung masih ada tradisi latihan dan pertunjukan silat, silat itu lebih rumit dan lincah. Lebih menitikberatkan pada jurus dalam latihannya. Sedang karate mah ada pemanasan, perulangan latihan dasar secara terus menerus seperti kihon yang bertahap sesuai tingkat obi (sabuk) karateka, lalu kata (jurus) juga merupakan perpaduan dari setiap tingkatan dasar sampai lanjutan kala dipraktikkan. Kalau kumite jelas merupakan praktik berkelahi alias duel dari apa yang telah dipelajari. Hem, untuk yang kumite saya nyerah, cinta damai, sih. Ha ha.
      Terima kasih, Mas Aldhi. Apa pencak silatnya masih berlanjut atau sudah tahap mahir jadi tak perlu berlatih lagi? Silat itu indah bagi saya.

      Hapus
  11. Mpo sewaktu kecil suka nonton kungfu, eh pas kuliah ikutan kungfu.

    Asiknya bisa mempraktekan gerakan tersebut.

    Saran mpo paling tidak anak anak juga ikut serta belajar karate , selain sehat bisa jaga diri.

    Belajar memang tidak mengenal usia. Kalau suka lakukanlah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah asyik, Mpo ikut kungfu. Pasti senang bisa latihan kungfu seperti yang diadegankan dalam film. Gerakannya gesit, ya, Mpo.
      Terima kasih sarannya. Saya jadi semangat karena ada teman yang dukung meski usia sudah menapak naik dan jatah hidup berkurang, ha ha.

      Hapus
  12. Kereeeennn mbaaa..
    Saya dukung banget mba Rohyati latihan karate lagi.
    Saya juga deg-degan bayangin kejadian listrik padam tempo hari mba.
    Dalam situasi kayak gitu, ilmu bela diri amat sangat penting.

    Duh gak kebayang kalau waktu itu, ada orang yang beneran masuk rumah dan jahatin mba Rohyati.

    Saya sama sekali gak kenal karate dan semacamnya, nyesal jadinya.

    Padahal, dulu kakek saya guru silat.

    Tiap beberapa malam dalam seminggu, beliau mengajar beberapa muridnya.
    Dan muridnya banyak banget dari berbagai penjuru.

    Kami para cucunya juga ikutan, hanya saya dan kakak yang gak ikutan, gak dibolehin bapak saya karena latihannya berat.

    Parah emang bapak saya, harusnya kan beliau biarin anak2 perempuannya bisa ilmu bela diri.

    Tapi setelah beberapa lama sering liat latihan para muridnya, dan satu persatu berguguran, saya baru sadar kalau pikiran bapak saya benar adanya.

    Ujian naik tingkatnya serem soalnya, kakak sepupu saya aja yang kuat gak lulus hahaha

    Padahal dulu saya sudah hafal loh beberapa gerakannya, saking saya suka liatin kakek saya ngajarin murid2nya :)

    Seru juga ya kalau perempuan bisa bela diri, siapa yang macam-macam bisa di kasih tendangan tanpa bayangan hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Mbak Rey dukung saya juga. Duh, tak nyangka kalau Mbak Rey cucu pendekar silat di Sulawesi. Silat itua syik meski latihannya gimana, gitu. Kalau zaman sekarang sepertinya lebih ringan dan tak seberat dulu. Apa mau lanjutkan?
      Gerakan silat itu indah, butuh waktu lama untuk mempelajarinya. Semoga Mbak tetap hafal gerakannya dan bisa jaga diri meski tak pernah latihan.
      Soal tendangan tanpa bayangan, hem, sepertinya hanya Kang Nata saja yang bisa, ha ha.

      Hapus
  13. Mantap mba, ak dukung banget mba latihan karate lagi. Jaman sekolah aku sempat pengen latihan karate tapi ga keturutan gara gara latihannya berat sementara aku pumlnya asma . Padahal ilmu bela diri penting buat kita perempuan ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayang Mbak Rizka tak bisa ikut latihan karate. memang latihannya berat banget. Sebelum mulai harus lari keliling lapangan sepakbola di depan sekolah. Lupa berapa putaran, kadang malah larinya sampai di luar sekolah, Benar-benar bikin ngos-ngosan. Herannya saya tetap latihan, ha ha. Setelah itu ada pemanasan, lalu mulailah latihannya. Bisa di dalam kelas atau di luar halaman sekolah. Berat dan papanasan.
      Ya, penting bagi perempuan untuk punya ilmu bela diri agar bisa jaga diri.

      Hapus
  14. Cerita yang pagi gembok terbuka jadi inget aku juga dulu kemalingan motorku diembat dan gemboknya juga dibawa mba huhuhu nyesek dan emang menyisakan trauma :(

    btw aku juga mau masukin anak-anakku karate mba tapi nunggu adenya gedean dikit hehehe dulu sih aku ikut taekwondo sayang banget aku bengek jadi ga dilanjutkan latihannya :D

    dan aku klo jadi mba juga bakalan semangat latihan apalagi si doi juga satu eskul wkwkk rasanya itu ga keruan pasti mba :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh, soal maling kayaknya pakai semacam kunci letter T jadi gampang buka gembok jenis warna silver. Turut sedih karena Teh Herva kemalingan motor. Semoga beroleh ganti yang lebih baik. Insya Allah malingnya nanti juga akan beroleh balasan setimpal.
      Saya dukung Teh Herva untuk memasukkan anak-anak ke tempat latihan karate, itu bisa melatih kemampuan gerak dan sosialisasi dengan baik. Juga meningkatkan rasa percaya diri dan bikin sehat.
      Taekwondo itu asyik, Teh. Soal gebetan, he he, kayaknya dalam hidup tak ada yang kebetulan.

      Hapus
  15. coba bela diri lain lagi lah. :)

    BalasHapus
  16. aku juga ingin mencoba banyak hal nih mba, terutama sky diving. Aku masih penasaran bangeeet walaupun asli bakal heboh seperti biasan :). Rasanya syah-syah saja kalau kita mencoba banyak hal baru dalam hidup ya mbaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mari dicoba, Mbak. Asyik jika bisa melakukan banyak hal yang kita suka. Sky diving juga seru dan memacu adrenalin.
      Dalam hidup anganlah stagnan saja, coba lakukan hal yang belum pernah kita lakukan karena suka. Semangat, Mbak Indah.

      Hapus
  17. wih, gak nyangka ternyata mbak rohyati anak karate toh semasa sekolah dulu..

    gak ada salahnya mba meski udah kepala 4 belajar karate (lagi), biar bisa beladiri kalau ada kejadian kayak kemarin lagi saat lampu rumah padam.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi hi, jadi malu, padahal motivasi latihannya ala remaja saja.
      Terima kasih, Mbak Thya, iya, mesti bisa bela diri agar bisa melindungi diri sendiri dan keluarga.

      Hapus
  18. Wah mbak karateka ya dulunya. Salam sensei hehe anak saya yang ke-4 juga ingin jadi karateka. Alhamdulillah dalam setiap kejuaraan dia semangat banget, meski ada yang pulang bawa medali kadang juga enggak. Sekarang dia baru kelas 5 SD, mau UKT naik ke sabuk biru. Latihan sebab suka itu memang menyenangkan ya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam karate untuk anak Mbak Sri yang berprestasi. Turut bangga karena mau berjuang agar bisa menadi juara. Salut.
      Keren baru kelas 5 SD sudah hendak UKT sabuk biru. Semoga beroleh kyu yang bagus, ya, Mbak. Salam untuk anak Mbak. Semoga menjadi karateka tangguh yang sarat prestasi. Aamiin.

      Hapus
  19. Wah, kalo diinget-inget pas muda dulu, saya orangnya malah suka lari-larian dan panjat-panjat pohon, Mbaak, haha... Coba aja sekarang disuruh kek gitu, mana kuat bodinya, wekeke

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha ha, masa muda itu mah asyik dan dinamis. Lari dam panjat itu istimewa karena tak semua orang suka dan bisa.
      Saya juga sama, tak terlalu bisa memanjat pohon yang dulu bisa saya panjat, kalau berhasil pastinya saya bingung gimana cara turunnya, ha ha.

      Hapus
  20. Aku pernah ikut karate jaman SMP. Taekwondo aja sih . Baru cuma sabuk kuning doang tapi wkwkwkk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha ha, yang penting asyik apa pun warna sabuknya, ya, Mbak.

      Hapus
  21. Saya gak pernah ikut karate... mau olahraga pun malas... lebih suka gambar, baca buku, berkebun atau nukang... hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagus juga menggambar, baca buku, berkebun, apalagi bertukang. Kegiatan yang sarat gerak. kok.

      Hapus
    2. Hehehe... kalo nongkrong depan lepi sambil bikin cerpen termasuk gak bu?

      Hapus
  22. Wow, udah sabuk hijau, ya. Lanjut mbak latihannya. Panjang banget, nih artikelnya. Bisa diolah jadi novelet berikutnya ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak Farida. Sudah lama tak latihan pasti bikin tulang saya kaku, ha ha.
      Soal tulisan panjang, hem, kayaknya saya ini susah ngerem jika menulis, ha ha.

      Hapus
  23. Aku ga bisa karate mba, tapi adekku udah sabuk hitam
    hehehhe pengne juga belajar ya biar bisa menjaga diri kalo ada apa-apa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keren adek Mbak sudah sabuk hitam. Prosesnya panjang dan tak mdah.
      Mari belajar bela diri, Mbak. Bisa apa saja, kok.

      Hapus
  24. Aku suka renang, seminggu sekali renang sambil nemeni anak2. Oia anak sulungku atlet pencak silat DIY mbak. Jadi atlet malah susah izin karena latihan full dalam seminggu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asyik bisa berenang itu, Mbak. Bisa seseruan dengan anak-anak.
      Duh, apa bisa naak Mbak ikut sekolah khusus atlet? Yah, kalau latihannya sampai penuh gitu pasti sekolah enggan memberi keringanan. Serba salah, ya, Mbak.Harus pilih prestasi di dalam atau luar sekolah.

      Hapus
  25. Saya malah ga pernah belajar olahraga apapun huhu. Berenang aja nggak lancar. Jadi agak nyesal ga belajar pas masih lebih muda.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo semangat, Mbak. Belum terlambat untuk belajar, kok. Yang penting niat dijaga baik-baik, bahwa belajar untuk sesuatu yang positif.

      Hapus
  26. Duh, kak. Mau karate lagi? Hebat dong untuk perempuan seusia kakak. Aku aja yg baru mau kepala 4,, olahraga ringan aja udah mulai ngos2an. Semangat ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mbak Ika. Iya, mesti semangat karena saya suka gerak.

      Hem, faktor U ternyata bikin kita alami penurunan stamina, entah apakah saya bisa kuat. Coba dan jalani saja dulu, ah.

      Hapus
  27. Aku dulu pengen mbak jadi atlet karate. Cuman, dulu nggak tahu gimana caranya, daftar di mana, latihannya di mana. Sekarang, lebih mengarahkan anakku saja. Kalau dia mau ikit taekwondo ya monggo, kalau tidak ya monggo.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak selalu unformasi mengenai karate terbuka, ada sekolah yang adakan ekskul karate, ada juga yang tidak. Kalau di kota besar mah banyak klub di luar sekolah. Saya pernah main ke GGM (Gelanggang Generasi Muda) di Jalan Merdeka, Bandung, ada klub karate juga.
      Semoga anak Mbak mau belajar taekwondo atau apa saja yang ilmu bela diri. Baguis untuk menjaga diri dan bikin sehat.

      Hapus
  28. Wah wah wah ternyata mbak Rohya ini jago karate ya dan pernah eksis kadi karateka. Kalau saya mah jangankan olahraga bela diri, olahraga biasa saja saya angkat tangan. Duh, emang dasarnya saya saja yang malas olahraga padahal aktivitas yang satu ini penting banget buat kesehatan tubuh.

    Btw ternyata bengkak di pangkal pahanya belum sembuh total ya mbak, semoga bisa segera sembuh biar mbak bisa karate lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum sembuh, Mbak. Kata dokter ada infeksi abkteri. Lalu bekas pencetan yang lama itu ternyata malah menonjol keluar. Sedih dan menyesal juga. Kayaknya saya harus atasi dengan obat alam seperti buah dan herbal. Saya nyerah jika haris minum obat kimia yang mahal. Mana dikasih obatnya hanya untuk 3 hari lalu harus kontrol lagi ke dokter,
      Itu melelahkan. Semoga bisa sembuh, saya hanya harus diet makanan tertentu dan jaga pola hidup sehat.

      Hapus
  29. Ya ampun, anak saya sekarang karate udah sabuk kuning, setiap ikut UKT atau tanding dan latihan, saya pengen ikutan juga. Hihihi kebayang udah kepala 3 lewat baru mulai dari sabuk putih. Kayaknya langsung ke latihan untuk defend ini mah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keren anak Teh Zia sudah sabuk kuning padahal masih kecil. Ayo latihan bareng anak, soal umur mah tak masalah yang penting sudah niat.

      Hapus
  30. Saat SD dulu saya juga ekskul karate mbak, tapi sayang gak mencapai sabuk hitam. Saya menyesalinya smapai skrng hehe.
    Btw saat SD dulu pas ujian kenaikan sabuk saya suka liat lho ada bapak2 yang usianya dah sepuh malah sabuknya di bawah saya, ternyata emang baru belajar :D
    Jd kyknya asal nemu dojo yang pas dan gak malu, ya ikut aja lagi kali ya :D
    Diniati buat olahraga :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Padahal kalau sdah tingkat sabuk hitam itu menunjukkan kemahiran yang dalam, he he.
      Mbak sampai sabuk cokelat?
      Yah, bapak itu orang yang bersemangat juga, ya. Pantang merasa malu karena karate bikin sehat dan menyalurkan hasrat akan gerak.

      Hapus
  31. dulu pengen juga ikut karate, tapi belum kesampaian sampe sekarang.
    pengen bisa karate biar bisa bela diri juga. tapi biarlah, nanti anak-anak saja yang saya arahkan agar mau ikut karate, bair pertahanan diri mereka ada dan melatih fisik mereka juga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mengapa tidak mencoba lagi, Mbak? Latihan bersama anak-anak pasti asyik. Asal PD saja.

      Hapus
  32. aku ikut yoga asana mbaa, yang gerakan aja, jadi tanpa meditasi. perlu awas juga sih milihnya, amannya ikut tutorial di youtube yang tanpa mantra, dll. pure 100% olahraga. dannnn tentang bela diri ini, suami serta anak-anak udah pada ikut aikido, akuuu jadi pengen ikutan juga, minimal untuk proteksi selama di jalan, maklum supir antar jemput durasi sekian jam, perlu waspada tiap saatttt, hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yoga asyik juga. Aikifo tuh beladiri yang sama menhasyikkan. Mau coba juga, bareng anak dan suami biar kompak.

      Hapus
  33. Buat saya, cuci baju, ngepel, bersih-bersih rumah udah saya anggap olahraga mbak, hahahaha

    BalasHapus
  34. Sedang latihan KARATE yach Mbak ? soalnya ngak ada tulisan baru. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sibuk jelajah blog da ikut grup blogwalking para ibu, Kang. Sabar, ya. Saya lagi siapin tulisan untuk lomba blog ASUS dan harus kumpulin bahan dan olah data dulu.
      Latihan karate mah nanti kalau bengkaknya sudah sembuh. Jangan banyak bergerak dulu, pola makan harus dihjaga. Dan sedihnya tak bisa makan ikan asin favorit saya, hu hu. Ha ha.

      Hapus
  35. Ih keren banget mba, di usia segitu olahraganya ke karate. Mantaaap. Aku kagum banget lho mba. Beneran. Sekarang olahraga tuh udah jadi lifestyle banget. Jadi pengen ngikutin jejaknya mba deh hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, habisnya saya lebih condong minat pada yang ini. Olahtaga itu asyik, kok. Bagian dari pola hidup sehat juga. Mari kita berolahraga.

      Hapus
  36. tes komen profil blogger,he-he

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dikasih foto atuh agar lebih jelas. Ada di bagian blogger soal edit foto.

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  37. Tepuk tangan paling meriah! Ternyata Kakak Rohyati ini adalah seorang karateka! Warbiyasah, Kakak, sampai sabuk hijau ke biru itu. Jadi sebenarnya kalau ada yang macam-macam terutama saat listrik padam, bisa dihajar, asal tahu arah, maklum gelap kan hehehe ...

    Hyuk kak lakukan gerakan2 karate, bagus u/ kakak karena tidak suka yoga dan jogging. Kalau saya sih tetap jalan-jalan saja hehehe, melemaskan otot kaki wkwkwk ...

    Semangat!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh, Nonamuda. saya ini bukan untuk ditepiktangani pakai acara meriah segala, ha ha.
      Ha ha, iya, gak enak banget kala kejadian mati listrik itu, negangin.
      Saya memang tak suka yoga dan joging, lebih suka pada apa yang pernah dipelajari.
      Hem, baguslah Nonamuda masih lakukan kegiatan jalan-jalan. Biar bugar juga, he he.

      Hapus
  38. Suit...suit..ada cowok inceran mbak Rohyati ya di kegiatan karate hijihi 😁😍🤣 Makin rajin latihan, cemunguuuds gicuuuuu. Keren loh cewek kalo bisa karate. Paling ga kan punya rasa PD yg tinggi mentalnya untuk mempertahankan dan menjaga diri dari serangan lawan hehehe. Salut!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha ha, maklum remaja dan saya orangnya setia suka pada yang itu-itu juga makanya bertahan untuk lanjut latihan meski tak mudah.
      Hatur nuhun, Teh Nurul. Kita sebagai perempuan memang harus bisa PD dan punya kemampuan dasar dalam membela diri.

      Hapus
  39. dikantor saya ada latihan karate tapi saya ga ikut mbak, haha malaas... padahal dulu saya sempet suka bela diri, di SMA 2,5 tahun ikut silat.

    Kalau sekarang penggantinya badminton setiap minggu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, asyik atuh ada kegiatan positif di kantor. Namun kalau suka badminton tak masalah yang penting sudah punya bekal silat.

      Hapus
  40. Dulu pernah ikut karate, tapi sering kabur-kaburan. Masih lebih suka nyemplung ke sungai daripada latihan karate waktu itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, kabur kala latihan karate? Ha ha. Kayaknya Bli salah masuk klub olahraga, mending renang saja, ya.
      Orang rumah tak masalah? Nyemplung di sungai memang asyik dan bikin segar.

      Hapus
  41. Keren sekali mbak penghobi olahraga beladiri karate, pasti kalau kemana-mana nggak ada yg berani ganggu...
    Kalau latihan kihon bikin capai ya mbak mengulang gerakan2 dasar agar penguasaan tehnik selanjutnya lebih mudah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Soalnya dari kecil sering nonton film acrion jadinya suka dan pengin. Makasih.
      Iya, kohon mungkin membosankan namun bekal dasar itu penting banget sebelum melangkah ke jurus (kata).

      Hapus
  42. Wah.. berarti jagoan dong, kalau saya hanya punya 1 jurus mbak, yaitu jurua kaki seribu... alias lari dan kabur...

    BalasHapus
  43. Keren sekali, Masya Allah. Saya sama sekali nggak kenal karate..hiks. Sekarang olahraga pun malas ampun...

    BalasHapus
  44. Pernah ikut juga latihan bela diri juga. Tapi tak sampai tuntas.

    BalasHapus
  45. Dulu waktu jadi mahasiswa naksir banget untuk bisa ikut karate. Sayang, mbak kos saya mengingatkan untuk tidak coba-coba ikut bela diri karena fisiknya riskan sakit. Khawatir malah lebih sering sakit kalau ikut karate. Akhirnya belok kanan deh, masuk UKM penulis biar bisa jadi penulis, hehehe.

    BalasHapus
  46. belum pernah si mbak ikutan karate, cuman kadang kalo lihat orang lagi latian karate kayak pengen coba ikut, tapi ya itu rada males juga :D

    BalasHapus
  47. Saya dulu ikutnya Kempo waktu mahasiswa. Tapi sekarang, memilih berenang aja.

    BalasHapus
  48. Pernah ikutan karate tapi waktu SD a.k.a Sekolah Dasar, Habis baca ini jadi kangen belajar karate lagi di Kei Shin Kan Karate-Do Indonesia Cabang Bandung hehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah singgah, silakan tinggalkan jejak komentar sebagai tanda persahabatan agar saya bisa lakukan kunjungan balik. Salam.

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Penulis Sekaligus Narablog? Pasti Bisa!

Tahun 2018, Tahun Terbaik Saya dengan Blog