Minggu, 24 Februari 2019

Nirfaedah Bukan Unfaedah


NIR adalah bentuk terikat tidak atau bukan, untuk menyatakan sesuatu yang tidak atau bukan pada kata yang mengikutinya. Seperti nirfaedah yang bermakna tidak berfaedah atau tidak bemanfaat, juga tidak berguna.

 Boleh dikata, nir- itu sifatnya membentuk kata yang dilekatinya seakan berlawanan arti. Faedah dalam KBBI bermakna kata benda untuk: guna, manfaat; sesuatu yang menguntungkan, untung, atau laba. Dan jika semua arti kata dari faedah dilekati nir- jadi nirfaedah, maka sifatnya akan berkebalikan dari kata dasar yang dilekati. Seakan pelekatan nir- menghilangkan sifat awal dari kata dasarnya.

Begitu pun dengan nir- yang lazim seperti:
1. nirkabel (tanpa kabel)
2. nirlaba (bersifat tidak mengutamakan pemerolehan keuntungan) yang kerap dipakai masyarakat atau golongan tertentu.

Ada juga bentuk nir- lain yang sepertinya jarang dipakai dan cuma bersifat literal atau keilmuan seperti:
1. niraksara (tidak/belum memiliki aksara),
2. niraksarawan (orang yang tidak/belum mampu membaca dan menulis),
3.nirgagasan (tidak mempunyai gagasan),
4. nirgesekan (tanpa gesekan atau gesekannya sangat kecil sehingga dapat diabaikan), nirguna (tidak ada guna),
5. nirleka (tanpa tulisan),
6. nirmala (tanpa cacat cela), dan
7. nirselera (tanpa selera makan).

Selain itu ada nirwana yang berarti keadaan dan ketenteraman sempurna bagi setiap wujud eksistensi karena berakhirnya kelahiran kembali ke dunia (istilah agama  Hindu); atau juga semacam sebutan untuk surga. 

Nir- yang ini memiliki ungkapan filosofis secara linguistik sebagai metafora, tidak begitu saja menjadi ‘tidak atau tanpa hutan’ -- karena wana adalah bahasa Sanskerta (bahasa kesusastraan Hindu Kuno) untuk hutan. 

Ada juga nirwarta sebagai sesuatu yang diberikan atas dasar kepercayaan dan tidak untuk disiarkan. Jurnalisme mengenalnya sebagai pernyataan off the record.

Setelah mengenal ragam nir- di atas, kita bisa membedakan bahwa penggunaan kata unfaedah dalam judul itu tidak tepat. Sayangnya di media sosial masih saja ada yang menulis ‘unfaedah’ entah atas dasar tidak tahu atau latah. 

Bahasa Indonesia tidak mengenal awalan atau bentuk terikat un-, itu dari bahasa Inggris yang bermakna sama seperti nir-. Kebiasaan menulis atau mengucap unfollow dan unfriend dalam relasi media sosial, membuat pemakai media sosial itu berpola pikir dengan atau tanpa sadar untuk menggunakan un- yang dilekatkan pada setiap kata dasar bahasa Indonesia pilihannya. 

Seakan pemakai bahasa Indonesia yang aktif bermedia sosial itu telah mengalami distorsi (pengaburan makna) bahasa, menyerap begitu banyak informasi namun minim keahlian mengolah dan menganalisisnya dalam percepatan dunia maya yang terbawa ke dunia nyata. Mari kita ubah lebiasaan demikian dengan tak begitu saja membentuk suatu kata yang dianggap baru padahal salah kaprah dari segi arti sampai susunannya. Semoga tulisan ini berfaedah.
Salam lingua.**
Cipeujeuh, 25 November 2018
#Bahasa #Nir #Linguistik #Unfaedah
~Gambar hasil paint sendiri

26 komentar:

  1. Aku baru ngeh loh kak kalau penggunaaan nir itu ada beberapa.
    Selama ini yang paling familiar istilah Nirwana dan Nirlaba.
    Apa sebenarnya memang sudah umum digunakan orang ya, seperti :
    ▪ Nirselera
    ▪ Nirleka
    ▪ Niraksara
    Atau memang dikotaku jarang terdengar dan digunakan istilah itu ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya harus ngulik KBBI untuk mencari lema nir itu ada berapa banyak, lumayang banyak juga jika dilekatkan pada kata pilihan tertentu. Cuma beberapa memang jarang dikenal orang karena pemakaiannya cuma pada bidang tertentu saja.
      Bagi peminat sejarah, nirwana itu adalah kata lumrah. Pun bagi kita yang terbiasa dengan istilah teknologi, nirkabel pun seakan lumrah. Namun beberapa kata lain cuma untuk bahasan keilmuan tertentu. Barangkali perlu lebih dipopulerkan lagi. Mas Hino boleh coba populerkan pilihan kata nir- dalam tulisan.

      Hapus
    2. Salut, kak Rohyati sampai mengulik KBBI untuk post ini.
      Artinya perlu perjuangan dan pengorbanan waktu untuk menyajikan informasi yang akurat.
      Kucoba ya sarannya kak Rohyati untuk menyertakan awalan nir pada kata tertentu.

      Hapus
    3. Terima kasih, Mas Hino. Senang jika Mas juga berkenan bantu sebagai pejuang bahasa Indonesia. Agar bahasa kita tak kehilangan akar karena hal yang dianggap remen macam pelekatan un- pada kata dasar berbahasa Indonesia.
      Mas 'kan punya banyak fans pembaca kisah perjalanan asyiknya.

      Hapus
    4. Jarang banget kan ya nemu blogger kayak mba Rohyati.
      Di antara sejuta bahasa kekinian zaman sekarang, masih setia mempertahankan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

      Semangat selalu mbaaa, demi bahasa persatuan kita :D

      Hapus
  2. nirniaaa kalau yangn aku tau, kayak semacam film gitu wuehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Fimnya seru, Mas? Saya malah kudet, he he. Cuma tahu Nirmala yang di majalah Bobo.

      Hapus
  3. Wah akhirnya ilmunya keluar juga,heheheh,,,,,

    Artikelnya sangat bermanfaat dan menambah pengetahuan Mbak. Selain artikel lainnya saya suka artikel yang kayak gini..... saya seperti belajar Online.

    Gimana xxxxx dah sembuh belum ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Kang. Saya kurang fokus menulis hal baru karena sakitnya belum sembuh benar. Masih ada bekasnya. Sepertinya bukan bengkak biasa. Saya akan coba alternatif pengobatan lain yang bukan dari obat kimia. Semoga saja bukan kelenjar getah bening. Takutnya cedera biasa malah gitu karena sayanya saja yang drop dan berkaitan dengan posisi duduk yang salah. Saya juga harus atur pola makan. Harus diet purin agar tak asam urat.

      Hapus
    2. Ohy..Mbak, jangan - jangan kena " Bisul ' * hahahahah* Bercanda...jangan marah. :)

      Yang penting kalau menurut saya jangan selalu dipegang biar ngak kena kuman yang melekat di tangan.

      Kalau terasa sakit di elus - elus saja, tapi jangan dipegang...mmm..gimana yach di elus tapi ngak megang*tips salah*hehehe...

      Hindari makanan yang akan menyebabkan si luka menjadi ngamuk.... :)

      misalnya : ikan asin, *bukan berarti saya nuduh mbak sering makan ikan asin loh* :) hahahah.....

      Jangan sering bergerak yang akan menyebabkan si Lukanya menjadi parah, gerak yang ringan2 saya, misalnya blogwalking, selfie gitu,hahahah....*tips ngelantur*.

      Jangan lupa berdoa, mintakan Pada Allah SWT ketika Shalat dan selesai Shalat.

      Misalnya dengan kalimat :

      " Ya Allah Yang Maha Menyembuhkan, Lagi Maha Pengasih dan Maha Penyayang, salah satu bagian tubuh saya sedang mengalami sakit, sedangkan aku harus sehat dan bergerak leluasa, supaya bisa selalu shalat dengan sempurna, agar aku bisa memasakan buat suamiku dan anakku ",

      Aku Mohon Ya Allah, sembuhkanlah segera Ya Allah.....

      Kalau Engkau Yang Maha Menyembuhkan dan Maha Kuasa atas Segalanya tidak mengabulkan do'a ku ini, lantas kepada siapa lagi aku memohonkan kesembuhan dan Pertolongan Ya Allah ?......... kepada siapa Lagi Ya Allah.....?

      Ampunilah Kami Ya Allah atas segala kesalahan yang telah kami lakukan.

      Kasianilah kami ya Allah .AMIN

      Doanya, hanya contoh loh Mbak, bukan untuk menggurui Loh.....

      Jangan lupa .... sisihkan rezeki untuk bersedekah, baik uang atau pun sesuatu,. misalnya Hasil Jagungnya.* sedekahkan dengan saya juga boleh jagungnya, tapi biaya ongkir ditanggung pengirim ya,hahahah*

      Sedekahnya niatkan semata - mata untuk mencari Ridho Allah SWT.

      Jika berdoa sudah.... , sedekah sudah...., berobat sudah....., maka Insyallah, kesembuhan tinggal menunggu tanggal mainnya.

      Hapus
  4. Dapat lagi ini ilmu baru hahaha sudah saya catat/satukan di Notepad, kelak bakal ngebahas soal ini dan Kakak Rohyati tentunya :D Terima kasih, Kakak :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah jika berfaedah, Nonamuda. Terima kasih jika dipraktikkan. Saya justru khawatir dengan penggunaan bahasa yang serampangan. Bahasa Indonesia campuran macam unfaedah itu bisa menimbulkan salah kaprah, terutama bagi yang masih sekolah.

      Hapus
    2. Betul, Kakak. Jadi memang saya sendiri sering sih ngomong ke teman-teman atau keponakan tentang kata-kata yang mereka pakai untuk 'sekadar nyetatus di FB'. Saya bilang, pakailah bahasa yang baik, tidak perlu harus benar, setidaknya kita bisa berbagi pengetahuan tentang berbahasa kepada orang lain meskipun hanya sekadar lewat status FB, misalnya :D

      Hapus
    3. Yah, padahal pemakaian kata akan besar pengaruhnya, bisa menular dan membuat orang lain latah padahal tak tahu apa artinya. Latah demikian juga bagi pihak lain bisa membingungkan. Semoga teman-teman dan keponakan Nonamuda berkenan dengan sarannya.

      Hapus
  5. sering banget di twitter saya lihat para millenial nulis unfaedah... saya baru tau kalau awalan un ga ada sama sekali di indonesia... malah saya baru kepikiran tentang nikabel, nirmala, nirwana, nirlaba...

    jadi nambah pengetahuan lagi deh tentang bahasa ,,,, makasih sharingnya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pertama kalinya baca di status Facebook teman. Bingung juga karena dia 'kan penulis, mengapa bisa ikut-ikutan. Makanya saya menulis artikel di atas untuk meluruskan. Alhamdulillah, jika berfaedah.
      Terima kasih juga telah berkenan membacanya.

      Hapus
  6. Nirmala..saya kira itu hanya sebuah nama tokoh di majalah Bobo kesukaan waktu kecil, taunya ada artinya ya..makasi ya mba jadi menambah pengetahuan saya lagi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya kira peri cantik dan baik hati itu bernama Nirmala untuk mewakili sifat kebaikan dan sebagai pengimbang bagi kenakalan serta keusilan Oki, maupun kejahatan Pipiyot alias nenek sihir yang bertudung hitam dan bersapu terbang.
      Saya sangat suka kisah Oki dan Nirmala, Mbak. Semoga Bobo tetap terbit, ya. Di Balubur Limbangan Indomaret tak jual majalah lagi. Sedih.

      Hapus
  7. Pertama baca judul tadi masih sekilas sih, aku kira nama orang. Eh ternyata Nirfaedah... :)
    Selama ini sih aku masih menggunakan tidak berfaedah, bukan nirfaedah.
    Wah... Makasih ya Kak atas ilmu barunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kata nirfaedah memang kurang populer, sebagaimana nir- lainnya. Padahal jika ingin menyingkat kata cukup pakai nir saja pada beberapa kata yang masih mungkin untuk dilekati dengan nir-.
      Senang jika bisa berbagi ilmu yang berfaedah. Terima kasih juga sudah berkenan baca.

      Hapus
  8. aku sering perubahan kata ini dari anak2 muda.. entah apa yg dipikirannya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mereka pengen gaya meski membingungkan. Boleh dikata sok keminggris. Bahasa Indonesia dicampur bahasa Inggris dianggap keren, sayangnya dari segi logika gramatika kedua bahasa itu jelas salah, Dalam bahasa Indonesia tidak ada awalan un-, dan dalam bahasa Inggris tidaka ada kata faedah, ha ha.

      Hapus
  9. Saya sering baca kata Unfaedah ini, tapi tetap aja berpikir itu tidka ada faedahnya. Begitu yang dimaksudkan sama penulis, tapi karena seperti yang mba bilang, mungkin karena latah atau bisa sok ke inggris2an. Sayapun hanya bisa menebak.

    Dan tiba-tiba terbaca kata Nirmala, jadi ingat peri yang ada di majalh Bobo.

    Makasih banyak mba informasinya, saya malah kepengen mba bedah blog ku deh.. hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gitulah, padahal bisa jaka pakai kata yang lain kayak tak berfaedah, tidak berfaedah, tiada faedahnya, atau nirfaedah. Yah, generasi milenial mungkin kehilangan akar kebahasaan karena terlalu lama terpapar arus informasi yang bergerak cepat namun sayangnya tak paham dan ieonisnya bukti ketidakpahaman itu malah menyebar.
      Nirmala adalah peri favorit saya juga, he he.
      Siap, insya Allah saya akan kunbal (kunjungan balik juga ke blognya. Tamu selalu diperhatikan, he he.

      Hapus
  10. hehehe, mbaaa... saya beneran baru tau loh kalau 'nir' itu sama dengan 'tidak'
    Suka banget mba Rohyati mau menuliskan hal-hal kayak gini, jadi nambah pengetahuan lagi.
    Hal kayak gini sebenarnya sederhana, tapi kalau gak ditulis, lama-lama orang beneran kehilangan kata-kata yang sebenarnya.

    kalau unfaedah saya sering pakai mba, tapi saya juga tau kalau kata-kata itu sebenarnya kata gaul aja, ga masuk sama sekali dalam KBBI hahaha

    Zaman sekarang emang banyak yang suka pakai bahasa campur-campur, termasuk saya.
    Kalau saya malah lebih parah, udah dicampur, kebalik-balik dan berulang alias boros kata pula hahaha

    Tapi emang saya terbiasa menulis kayak gitu, ngomongpun saya kayak gitu.
    Makanya sulit tembus menang ikutan lomba nulis atau blog wkwkwk

    Ya gimana lagi, saya ingin mempertahankan ciri khas saya, gaya tulisan saya udah dikenal beberapa orang.
    Akan aneh kalau saya ubah.
    Bahkan, sebenarnya dalam dunia nyata saya sering pakai kata 'aku'
    Tapi karena keseringan nulis pakai saya, jadinya sekarang kalau ngomong banyakan pakai saya hahaha

    Teruslah menulis kata-kata yang benar mba, biar generasi mendatang ga lupa akan kata-kata yang benar dalam bahasa Indonesia :)

    BalasHapus
  11. Hal-hal kecil dalam literasi ini memang harus terus diingatkan ya mba, terutama buat para generasi muda, termasuk saya yang banyak baru tahu ungkapan2 "nir" dan maknanya seperti yang mba Rohyati tulis ini. Bagus banget

    Btw menurut saya sih ungkapan "unfaedah" seperti yang ngetren di kalangan anak2 muda ini lebih kepada lucu2an dan gaya "kekinian" saja, masalah apakah emang porsinya tepat dipakai lucu2an atau "kekinian" saya kira itu relatif. Tapi yang salah menurut saya kalau kita udah nulis2 "unfaedah", tp kita sendiri nggk tau kalau kata tersebut sebenarnya tidak tepat. Soalnya tetap saja banyak yg tahu kalau "unfaedah" ini salah, tp tetap dipakai buat lucu2an.. Intinya, yg begini harus selalu diingatkan

    BalasHapus

Terima kasih sudah singgah, silakan tinggalkan jejak komentar sebagai tanda persahabatan agar saya bisa lakukan kunjungan balik. Komentar sebaiknya relevan dengan isi tulisan. Bukan link hidup dan mati, apalagi iklan karena termasuk spam.Terima kasih banyak. Salam. Rohyati Sofjan

Buzzer adalah Pendengung

BAHASA mampu mengekspresikan kata sifat atau kata kerja untuk apa yang dilakukan kata benda. Katakanlah seseorang (kata benda) melak...