Jumat, 22 Februari 2019

Februari dan Jatuh Cinta



BUKAN karena hari valentine yang pekan lalu telah berakhir maka saya terpikirkan untuk menulis soal jatuh cinta. Yah, jatuh cinta doang tanpa kisah percintaan romantis. Hanya “jatuh” saja, dalam artian: kau merasakan semacam sensasi aneh yang menjalar kala melihat seseorang dalam garis pandang sehingga hanya sosoknyalah terpindai secara mendebarkan. Ya, inilah jatuh cinta pada pandangan pertama, dalam sekian detik saja kala kau melihat sosoknya berkelebat memasuki ruangan tempatmu menunggu suatu urusan. Seorang lelaki tampan yang sekilas seperti Lilo KLA masuk dan mengambil sesuatu dari lemari. Entah kitab apa namun membuatmu canggung. Canggung tersebab hal misterius yang tak sepenuhnya dipahami, namun semuanya berujung pada kesadaran sekian detik bahwa kau tertarik padanya. Pada ketampanan dan ketegapannya, pada mata dan senyum tipisnya yang tidak ditujukan untuk menggoda sesiapa. Dan pada alasan lainnya yang tak sepenuhnya kau pahami.


Cinta pada pandangan pertama bagi saya adalah sesuatu yang sangat jarang terjadi. Kapan terakhir kali saya jatuh cinta seperti itu? Kala masuk SMU, pada hari pertama opsek penerimaan siswa baru. Begitu saja tertarik pada sosok tinggi tegap yang tak terlalu tampan namun berwajah unik dengan kulit kecokelatan dan tahi lalat gepeng berukuran lumayan besar di pipinya. Ia macho!

Saya tidak tahu siapa nama aslinya, hanya karton nama opseknya. Pada akhirnya saya tahu nama aslinya dengan cara entah bagaimana. Lupa, ha ha. Sedang pada si tinggi tegap berkacamata dengan rambut gondrong seperti Lilo KLA, saya juga tak tahu siapa namanya. Hanya sosok dan senyumnya saja yang membuai.


PADA akhirnya, di pertemuan selanjutnya kantor itu, saya harus tahu namaya secara tak terduga, setelah sekian nama dalam kru media itu saya tebak sebagai dirinya. Ah, siapa nyana hidup mempertemukan kami dalam episode selanjutnya. Untuk saling kenal dan berinteraksi, bahkan sampai sekarang. Tentunya dengan cara yang baik dan sopan.

Ya, saya akui mencintainya secara platonis, sejak pandangan pertama di kantornya. Namun saya yang selalu berdoa agar bisa jatuh cinta  kepada orang tepat beroleh jawab dari Allah. Dia adalah jawaban bagi doa yang saya apungkan. Bahwa cinta tak harus selalu dalam bentuk memiliki. Bahwa hasrat menggebu-gebu masa muda saya telah usai. Saya gadis lajang yang baru berusia 24 tahun jatuh cinta pada lelaki dewasa yang 10 tahun lebih usianya dan yang jelas ternyata not single.

Oke, jangan hakimi saya. Hati telah menempatkan saya dalam posisi demikian, namun akal harus tahu bagaimana cara menempatkan diri. Jadi hanya puisilah yang menjadi sarana kegelisahan dan keliaran pemikiran. Maka, izinkan saya berbagi beberapa serpihan puisi dalam tulisan ini. Puisi-puisi yang barangkali gombal atau malah lebay namun sangat berarti bagi sejarah hidup seseorang.

Saya pernah jatuh cinta secara platonis, jilid 5, untuk hal dewasa secara pertama dan terakhir.

Sekarang hati saya telah berlabuh kepada lelaki lain yang menjadi suami saya. Dan puisi-puisi di bawah ini barangkali akan menjadi hal yang terakhir dalam hidup saya; bahwa saya pernah menjadi gadis muda yang segar dan polos dalam memaknai cinta serta kehidupan.

Terima kasih telah membiarkan saya jatuh cinta begitu saja dan tetap menghargainya dalam batasan jarak yang menenangkan. Saya menamakannya Februari karena kami pertama kali bertemu di bulan itu.

Salam.
Cipeujeuh, 22 Februari 2019
#Puisi #Cinta #Kenangan #Februari #SHSTFebruari6
~Gambar karya Ai Ghina S.M.


Kau yang Bernama Februari


Tidakkah kau tahu hadirmu adalah gigil
bagi jiwaku yang dilebam hening.
Kaulah musim semi sekaligus dingin,
serbuk sari memadati udara, diembus angin
bercampur derai hujan yang menyalib musim.

Aku tahu di setiap tikungan nasib
selalu ada kau dengan senyummu yang menenangkan.
Membuai jiwaku terbang dari semadi panjang
ruang kehampaan.

Kau pernah membuatku ingin menari-nari
hilang kendali, pada suatu malam.
Kala aku menyeberang Jalan Lingkar Selatan.

Kaulah impian tak berujung sekaligus nyata
yang terkadang raib untuk diraba.
Dan punggung tegapmu  perlahan menjauh
kala aku mencoba menghimpun asa
untuk menyentuh.

Kaulah musim semi sekaligus gigil bagi tubuh!
Cipeujeuh, 4 Februari 2012


Beringin


1
Kita tak pasti kapan memaknai dua hal
dijemput maut, menyongsong keabadian.
Namun kaulah kepiluan terbesar.
Sisa tangisku mengambang di penghabisan sembahyang,
begitu sembab; Isya dan istikharah dialun kepasrahan.

Sudah lama aku enggan mengumbar air mata
tak ada alasan karam di palung kecengengan jiwa.
Namun malam ini kubiarkan diriku tersedu-sedu
seusai percakapan siang kemarin yang kukhawatirkan akhir temu.

Kepedihanku menjalar liar, aku ingin menjelma ikan musafir
yang berenang di mata air dalam kerindangan beringin.
Kaulah amsal itu, berbagi guguran daun untuk kuurai
sebagai humus pengetahuan dari kesabaran yang meneduhkan.

Seperti senyummu, delapan tahun silam, kaulah sumber kekuatan.
Agar aku yakin, mengubah mustahil menjadi mungkin.
Jangan katakan persahabatan kita mengenal ajal.
Kaulah takdir yang berkelindan sebagai silaturahim.


2
Kita tak pernah pasti memaknai rahasia kehidupan.
Entah siapa di antara kita yang kebih dulu tumbang.
Namun kau mengajarkan banyak hal selain kefanaan.
Sesuatu dengan getir kuyakin yang mencintaimu enggan berpaling.


Jika pun dua puluh tiga tahun silam, ribuan malaikat berlesatan
mengamini doamu pada malam lailatul qadar yang cerlang.
Maka apakah kau-aku harus menyesali goresan takdir
sebab masih ada keajaiban lailatul qadar lain.

3
Kita hanya bisa membubung doa ke cakrawala
semoga didengar Yang Rahman.
Sebab kefanaan mengenal jalan pulang
juga pengampunan.

Cipeujeuh, 10-11 Juli 2008


It’s Beautiful Day


Bukankah ini malam yang indah. Cahaya perak berkilauan
menyeruak gumpalan awan. Udara sehangat langit kebiruan.
Pohonan membayang tenang didekap bentang pegunungan.

Masih kukenang percakapan singkat dan gesa tadi siang,
Bentangan jarak seakan mampat dalam sulur kabel dan modem.
Ada kerinduan menyesak untuk menyapa sebelum kau berkelebat.
Apakah kau sengaja membuka ruang bagi chatting pertama kita
(setelah bertahun-tahun kuharapkan!), di saat aku berpikir
harus menyingkir dari hidupmu dan mengasing dalam prasangka ganjil.

Namun kau seolah bagian dari takdir tak terhindarkan,
takdir yang mengikatku agar perkenalan kita tujuh tahun silam
tak berkesudahan; meski terkadang kubayangkan
bukan itu yang kau inginkan. Hanya semacam penghargaan
bagi seorang perempuan asing yang mencintaimu
dalam diam.

Bukankah ini hari yang indah seperti kataku tadi siang
selepas hujan singkat semalam di Limbangan. Dan kau pun mengiyakan, meski barangkali Bandung tak berhujan,
It’s beautiful day.”

Terlalu banyak keindahan berkelindan di dunia menyedihkan.
Dan kau perumpamaan, namun aku tak berani berharap
ada perwujudan keindahan dalam diriku bagi hidupmu
yang penuh teka-teki pelik.

Pun sepelik apa aku sehingga kau seolah enggan berbagi lebih
banyak hal meski barangkali, ada saat di mana kau ingin berbagi
dan lebih terbuka tentang serakan tanda yang luput kubacamaknai.

Malam yang hening membuka tabir bahwa takdir adalah pilihan
yang kita ambil dengan gerak dengan ikhtiar, juga lesatan doa
yang kita apungkan kala munajat pada yang Maha Zat.
Maka ramadan ini, duhai keindahan, adalah sulur-sulur cahaya
menyalami semesta seakan pasukan malaikat merentangkan sayap
ke segala penjuru, berbagi takbir, mengamini doa para perindu.

Namun tahukah kau, rinduku terkadang gagu.
Antara kau dan Dia yang terbagi seolah menyatu.
Terkadang kubayangkan kau adalah perwujudan keindahan
dari cintaNya padaku, cinta tak bertepi sekaligus tak terpahamkan
di mana awal dan akhir; sebab aku tahu akan ada akhir
di antara kita yang memisahkan serupa maut mengintai.

Bukankah ini malam yang indah. Namamu tak alpa kugaungkan
dalam bait-bait doa yang semoga didengar Sang Rahman,
juga pada malam lailatul qadar, bersama tahajud dan tadarusku
yang gugup mengeja namamu dan namaNya: sebagai cinta.

Cipeujeuh 25 September 2007



 

Bakmi Jogja 2005


Hujan membingkai atmosfer tradisional restoran.
Hanya beberapa kepala selain kita di lengang malam.
Di luar, derum kendaraan terkadang mengalun.
Hawa dingin mengembun, belum pukul delapan.      
Apakah ini kencan terselubung, meski kita menanti mereka
demi silaturahim atau sekadar upaya untuk belajar memahami
serakan tanda.

Dari gerai masak harum mie jawa menguar,
tubuhku lapar kehangatan, wajahmu bersinar
seperti teh poci yang kau tuang ke dalam cawan.
Aku mengeja partitur lagu malam dengan senyum gemetar,
kau begitu dekat sekaligus samar dari jangkauan.

Di seberang meja, sosokmukah yang duduk dengan tenang,
menyesap teh manis dan mengunyah kacang.
Mengisap A-Mild, diinterupsi telefon genggam.
Betapa ajaib perasaan yang bersemayam.
Kau masih saja terlalu indah untuk dikenang,
atau kau memang membiarkannya sebagai kelindan.

Hujan satu April tak henti mengguyur Bandung
selepas Zuhur sampai malam, dan kau membagi kehangatan
di antara kelebat percakapan, denting lima piring,
pukul delapan. Aku lebih suka diam, menelusuri
gurat senyummu dan kerut di matamu yang menyipit
dibingkai frame kacamata persegi klasik.
Rambut ikalmu tak setebal dulu; betapa kita menuju
masa yang tak bisa diingkari. Namun waktu,
ingin rasanya bergerak lamban, kali ini,
agar bisa kuresapi lebih dalam makna perkenalan.
Barangkali jamuan ini semacam perayaan diam-diam
untuk lima tahun pertemuan, pada Februari silam
yang digenapkan.

Dari dalam restoran, di antara kelembutan redup lelampuan,
terkadang kupikir semua tak lebih dari mimpi yang mustahil.
Namun kau adalah lingkaran keajaiban,
bagi hidupku yang diam-diam siap mengabur dari ingatan
yang kau kenal. Kelak nyawaku akan mengapung di udara malam,
seperti malam-malam yang kau lewatkan dengan pengertian,
 bahwa hidup adalah pemahaman bagi ketidakpastian.

Cipeujeuh, 10 April 2006



23 komentar:

  1. Semua orang pernah jatuh cinta pada pandangan pertama dan rasanya ingin memilikinya seutuhnya, namun terkadang kenyataan tak seperti yang kita inginkan.

    " Kita Naksir , ia malahan anggap kita sebagai teman biasa, " malahan mungkin ia rela untuk tidak pernah mengenal kita selamanya, "

    " Kita Naksir dan Ia pun Naksir " akan tetapi ia malahan sudah punya suami atau Istri ( pasangan lain. )

    " Kita Naksir dan Ia Pun Naksir, eeee malahan keluarga kita atau keluarganya yang tidak suka dengan hubungan tersebut.

    Yah begitulah Cara Allah SWT menunjukan Kekuasaannya, Karena manusia sudah ditakdirkan punya pasangannya sendiri.

    eeeee...ngomong - ngomong isi artikel diatas, Cinta Lama Yang Belum Tuntas yach, ? atau Cinta Lama Bersemi Kembali ? :) ingat palung...ingat Palung Mbak, hahahahah...... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah demikianlah, Kang. Kita pasti alami drama dalam mencari dan menemukan cinta. Betapa memperoleh cinta itu bukan perkara sederhana. cinta harus lalui berbagai proses yang macam-macam. Di masa remaja segalanya terasa manis dan polos, kala dewasa ada hal yang harus diperhitungkan kala jatuh cinta pada seseorang. Apakah orang tersebut akan menjadi pasangan abadi kita atau bukan? Bisakah kita mengiringinya sebagai partner masa depan.
      Tulisan di atas hanya monumen perasaan, Kang. Bukan CLBK atau CLBT, he he. Tentu saja saya ingat anak dan suami karena mereka sekarang satu-satunya hal yang paling berharga dalam hidup saya.

      Hapus
    2. wakakakaka kang Nata tsurhat terselubung nih wakakakak

      Hapus
  2. Memang sering betul adanya jika ..., cinta itu tak selalu berakhir memiliki.
    Munculnya getaran kuat magnet yang aku sendiri juga ngga tau apa namanya itu dan bikin mata seolah tak mau berkedip memandangnya itu ..., pernah aku alami.
    Kebetulan dia juga merasakan yang sama sepertiku.
    Dan bukan kebetulan pula sama kasusnya dengan apa yang kak Rohyati rasakan ..., dia juga not single.
    Akhirnya hubungan yang berjalan beberapa bulan itu kami sepakati untuk diakhiri meski kami berurai air mata bersama.
    Sedih rasanya, tapi apa mau dikata .., nasib berkendak lain.

    Puisi-puisi kak Rohyati sangat menyentuh, aku suka bacanya.
    Dan aku mau cerita sedikit, aku lahir di bulan Februari hehehe :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat milad, Mas Hino. Meski saya tak tahu Mas lahirnya tanggal berapa, namun semoga bulan ini Mas bahagia dan diberkati.
      Sesuatu yang telah lampau karena cinta memang harus dilepaskan karena tak bisa bersama. Cinta harus mengalah dari egoisme diri demi kebaikan. Semoga saja mas beroleh pendamping yang lebih baik lagi. Seorang perempuan istimewa yang membuat dunia dan hidup Mas lebih lengkap.
      Terima kasih telah mengapresiasi puisi saya. Mas juga mengapa tak memajang puisi di blog, sebagai pelenkap artikel perjalanannya? Ehm....

      Hapus
    2. Terimakasih ucapan Miladnya, kak Rohyati :).
      Ssst..., mengenai tanggal lahir kuupetin saja, biar ngga 'ditodong' banyak orang untuk minta ditraktir wwwkkk :D.

      Mengenai puisi disertakan di artikel travelling, itu ide yang sangat bagus diterapkan. Terutama saat travelling ke pegunungan ..., waah bakalan bikin artikel jadi terkesan romantis dan dramatis.
      Tapi sayangnya aku ngga sepandai bikin puisi seperti kak Rohyati :(.
      Ntar yang ada malah malu~maluin hasilnya dan jadi tertawaan banyak pembaca ...

      Hapus
    3. Ha ha, lain kali saya akan ucapkan selamat saja di blog dengan semacam sandi, ya. Semoga teman-teman tak nodong minta ditraktir. Padahal yang milad mestinya dijamu dengan selamat dan traktiran. Bukankah itu sebagai penanda bahwa keberadaan Mas Hino pun istimewa, he he.
      Kemarin saya baca pos tentang wisata matahari terbit di Posong, sudah bagus penyampaiannya. Enak dalam rima. Petahankan itu agar pembaca pun dimanjakan dengan keindahan bahasa selain keseruan pengalaman.
      Jangan khawatir, meski tak bisa bikin puisi tetap bisa merangkai kata, kok. Dan percayalah hasilnya tak malu-maluin. Semangat, Mas Hino!

      Hapus
  3. Menggambarkannya seperti Lilo Kla Project itu yang membikin imajinasi saya berputar-putar dan lantas menemukan plot-nya sendiri. Bahwa saya juga pernah jatuh cinta pada pandangan pertama hahahaha tapi ya itu ... platonis! Si dia sudah punya tambatan hati. Huuuhuh. Tapi ya pengalaman itu mengajarkan saya banyak hal bahwa jatuh cinta pada pandangan pertama itu bukan dosa, yang penting kita siap memanggung akibatnya :D

    Hwah, Kakak Kece, masa muda memang masa yang luar biasa dan penuh enerji, dan akan tetap menjadi kenangan yang tak akan terlupakan meskipun cinta kita adalah platonis ... Terima kasih untuk puisi-puisi indahnya, Kak. Dikau begitu berbakat :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tos, jadi saya saja yang tak sendiri jatuh cinta pada pandangan pertama, ada banyak, termasuk Nonamuda, ha ha.
      yah, kita harus siap untuk merasakan sakit kala alami manis karena jatuh cinta. Apalagi masa muda adalah masa segar kita dan tentunya pada usia itu cukup matang untuk menilai bagaimana seseorang. Ehm, saya tak menyesal jatuh cinta padanya karena dia telah mengantarkan saya pada sekian kebaikan. Terlalu banyak jasanya dalam hidup saya, yang ironisnya barangkali dia tak tahu apa-apa cuma sekadar simpati saja pada kegigihan saya dalam memperjuangkan dunia menulis.
      Pada akhirnya, Allah telah mengguratkan kisah manis untuk saya, dan saya bersyukur. Semoga suatu saat kelak Nonamuda pun beroleh yang terbaik, seseorang yang bisa mengiringi jalan secara berdampingan dan dengan kesesuaian serta kasih sayang.
      Saya doakan, ya. Semoga selalu bahagia. Aamiin.
      Terima kasih apresiasinya, saya jadi tersipu malu, hi hi. Senang jika ada yang bisa menikmati puisi saya.

      Hapus
  4. Jatuh cinta itu memang fitrah manusia ya mbak...kalau pada pandangan pertama kayaknya masih cinta monyet deh saya.. *ngumpet di balik teflon kwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. He he, dulu saya mah berulang kali jatuh cinta pada pandangan pertama dengan tambahan cinta monyet khas ABG, hi hi. Belum merasaklan jatuh cinta secara dewasa. Yang terakhir barangkali pertama secara dewasa namun tetap menjadi yang terakhir karena pada akhirnya saya menemukan sosok suami sebagai pelabuhan cinta terakhir. He he.

      Hapus
  5. Penggambaran seperti lilo kla project, berarti gondrong dan berkacamata dong, hmm sosok yang idealis buat gadis muda untuk jatuh cinta ya, memang kharisma laki2 yg tidak single biasanya lebih mempesona dibanding laki laki yg masih singel, karena mereka pikirannya lebih matang dan lebih dewasa, saya pernah merasakannya juga waktu itu *pernahmuda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi hi, iaya, Mbak. Cuma menurut saya lebih gantengan dia daripada Lilo, ha ha.
      Saya ini selektif banget pada sekian sosok lelaki, cakep saja tak cukup. Jadinya pada setiap lelaki cakep yang lewat saya mah cuek saja, tak punya kesan apa-apa, barangkali telah menangkali diri dengan doa agar bisa jatuh cinta pada orang yang tepat.
      Yang matang dan dewasa memang lebih memikat para gadis muda ha ha.. Namun kala itu saya tidak tahu apa pun tentangnya, apalagi usia. Penampilannya yang berkesan muda bisa menagburkan usia dan status. Syukurnya dia orang baik. Ehm. Uhuk.
      He he, kita malah nostalgiaan soal rasa masa muda, ya, Mbak. Lucu juga.

      Hapus
  6. Widih,kata mael li,bih bedebest,he-he,bukan kaleng-kaleng,jatuh cinta itu ibaratkan tubuh yang tertiup angin,ada rasanya,tapi tidak terlihat bendanya,itulah cinta,ketika hati ingin memiliki,itu tandanya hati itu sedang kosong,ia masih sendiri,ia masih butuh teman,untuk menyelimuti dinginnya hari dan merasakan kehangatan hati dari seorang pujaan mimpi,membentuk kata love dan terus gugur dan akhitnya mulsi bersemi di dalam hati yang kosong,setelah itu tumbulah bibit-bibit cinta dengan rasa untuk memiliki,keren tidak mbak komen saya ini,ha-ha-ha 😁😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha ha, keren juga komennya. Dari anak muda yang tengah atau telah jatuh cinta, jadi diajak nostalgia juga untuk mengenang gimana definisi rasa cinta tersebut. Ha ha.
      Iya, tuh, ibarat amsal Bang Kua, soal cinta. Setiap orang punya amsalnya. Demikianlah cinta bisa membahagiakan atau mematahkan.

      Hapus
  7. Kenapa kisah panjang ditulis dalam puisi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena puisi lebih mudah merangkum semua rasa, bahkan hal yang abstrak sekalipun. Memilih kata dalam puisi rasanya lebih mudah kala kita sedang dilanda rasa jatuh cinta dan segala sifat bawaan lainnya.

      Hapus
  8. Cinta pada pandangan pertama? Sayang aku belum pernah mengalaminya. Perlu mengenal orang tersebut untuk bisa jatuh cinta

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cara setiap orang untuk jatuh cinta memang berbeda-beda, Bli. Namun cara yang terbaik memang harus mengenalnya lebih dulu untuk tahu apakah kita mencintainya atau tidak seiring waktu dan kebersamaan.

      Hapus
  9. Mbaaaa.. kusuka baca tulisan mba tentang cinta, banyakin tulisan gini dong, bahkan tulisan di atas puisi aja udah indah kaya puisi.
    Kereeennnnn :D

    Saya paling suka nulis tema begini, meskipun takut pak su cemburu, karena meskipun dia males membaca, tapi dia suka kepo ama semua tulisan saya hahaha

    Saya pertama kali jatuh cinta itu SMP dong, jatuh cinta ama orang ganteeeengg banget,
    Iyaaa.. ama aktor idola (dasar anak ingusan yak haha)

    Trus pas STM jatuh cinta pada pandangan pertama ama kakak kelas, dia penyemangat banget deh saya berangkat sekolah.
    Meskipun harus mencintai dalam diam selama bertahun-tahun bahkan setelah dia lulus duluan, dan bahkan setelah saya kuliah sampai akhirnya ketemu ama si pacar yang sekarang jadi suami

    Justru sama suami saya ga jatuh cinta langsung, bisa dikatakan jatuh cinta karena terbiasa, makanya kadang takut, ga mau jauh2an, takut terbiasa dan cintanya hilang *tsah! hahahaha

    Ngomongin cinta emang kagak ada habisnya.
    Meski usia kita udah ga pantas ngomongin cinta anak abegeh wkwkwkw

    BalasHapus
  10. Masyaallah, puisinya indah-indah, mbak. Memang soal cinta, nggak bisa kompromi sama hati, munculnya tiba2. Tapi akal harus pintar2 mengenali batasan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Neng Nisa. Iya betul, cinta bisa datang pada saat tak terduga namun hati tetap harus dibarengi akal sehat agar tahu bagaimana cara menempatkan diri. Batasan tetap harus dijaga karena ada tanggung jawab.

      Hapus
  11. Wah-wah Bunda Rohyati ternyata suka berpuisi ya. Bahasa puisinya juga sastra banget. Tulisan bunda mengingatkan aku ama cinta pertamaku jadinya. Hahaha. Malah aku bersyukur bukan dia jodohku hihihi. Karena tetap yang paling istimewa itu bukan cinta pertama kita ya, tapi cinta terakhir kita *eaaa ��

    BalasHapus

Terima kasih sudah singgah, silakan tinggalkan jejak komentar sebagai tanda persahabatan agar saya bisa lakukan kunjungan balik. Komentar sebaiknya relevan dengan isi tulisan. Bukan link hidup dan mati, apalagi iklan karena termasuk spam.Terima kasih banyak. Salam. Rohyati Sofjan

Cara Masak Soto Ayam yang Gagal

  Cara Masak Soto Ayam yang Gagal-Judulnya lucu, ya? Iyalah, saya gagal bikin soto ayam untuk kedua kalinya karena kebayakan air dan...