Kamis, 10 Januari 2019

Sebab Dunia Sunyi Bukan untuk Membuatku Berkecil Hati


Kepada aku, kamu, dan siapa saja yang terperangkap di dalamnya: Selamat subuh. Subuh bagiku untuk memulai awal hari setelah bangun dari lelap tidur sebagai siklus istirahat. Dan aku ingin berbagi kisah hidup dengan harap, semoga bisa menginspirasi aku, kamu, dan siapa saja yang (merasa) terperangkap dalam dunia sunyi.

Aku tak bisa berharap banyak dari kisahku ini; bahwa yang baca akan bangkit jika terpuruk, atau lega karena masih ada yang berbagi dunia sama lantas merasa senasib sepenanggungan untuk bangkit.
Aku bukan orang hebat, bahkan dalam keterbatasan indraku, aku belum bisa memberi kontribusi berarti bagi lingkungan sekitar. Aku tidak bergabung dalam komunitas pemberdayaan perempuan yang memiliki keterbatasan, malah bergabung di komunitas mana saja yang sesuai bagi gerak hidupku. Komunitas orang-orang normal nondisabilitas.
Ya, sepanjang hidupku aku harus belajar dan membaur di lingkungan “orang normal” yang sejujurnya kerap pula membuatku merasa tersesat karena berbeda, seakan tidak berada di tempat yang semestinya. Lalu di manakah tempatku harus berada sebagai the stranger? Aku berbeda karena memang berbeda atau mereka membedakanku?  Lalu bagaimana caranya agar bisa sama?
Tahukah kamu, sepanjang hidupku aku berupaya keras agar bisa sama seperti mereka yang nondisabilitas. Sama dalam artian bisa melakukan hal yang mereka lakukan. Masalah yang kumiliki hanyalah komunikasi: aku tidak memahami ucapan mereka dan mereka tidak memahami ucapanku yang intonasi suaranya kacau. Jadilah ada yang merasa percuma berurusan denganku karena seakan tidak nyambung.
Mungkin orang-orang yang merasa percuma itu bukan bagian dari duniaku, mereka tak punya urusan untuk memahami karena merasa di dunia yang berbeda dan tak perlu peka atau berempati. Mereka hanyalah sampel dari apa yang harus aku, kamu, dan siapa saja yang senasib untuk dihadapi dengan lapang dada meski kesabaran kita ada batasnya kala menghadapi cemoohan merendahkan.
Namun percayalah, dunia tak melulu berisi sampel insan macam demikian. Masih ada banyak insan nondisabilitas yang peduli dan nuraninya masih memiliki ruang untuk empati bahkan simpati.
Coba lihatlah sekitar, adakah yang demikian padamu -- yang berbeda itu? Rela berbagi dan bertukar dunia dengan sukacita, seakan perbedaan hanyalah kenyataan yang tak perlu diingkari, dan keterbatasan hanyalah pengingat agar senantiasa rendah hati.
Bersyukurlah kamu jika bertemu insan ramah disabilitas, meski populasi mereka cuma sebagian kecil saja dari masyarakat sekitar yang kerap abai.
Hem, soal masyarakat yang abai disabilitas, sebenarnya kita punya tanggung jawab juga untuk mengingatkan. Berilah kontribusi pada dunia luas, meski peran kita kecil adanya. Aku melakoni dunia menulis sejak tahun 1999. Namaku belum terkenal, dan bisa jadi teman-teman di jejaring sosialku tidak tahu siapa aku selain sebagai teman sesama penulis saja atau narablog (blogger).
Justru itu membuatku sadar, kemampuanku tidak dilihat dengan cara karena aku berbeda, yang dilihat adalah bagaimana karya.
Kamu tahu, meski kita memiliki banyak keterbatasan karena terperangkap dalam dunia sunyi, kita masih bisa menjalin banyak relasi dengan nondisabilitas juga, bahkan kalau bisa menjalin silaturahmi dengan sesama disabilitas untuk saling memotivasi dan mengagendakan banyak hal.
Salam hangat dariku!
Cipeujeuh, 6 April 2018
Rohyati Sofjan, tunarungu sejak usia 6 tahun, menjalani 12 tahun sekolah umum tanpa alat bantu dengar, ikut ekskul karate kala SMU Al Fatah, Balubur Limbangan. Mukim di sudut kampung nun di wilayah Balubur Limbangan, Garut.
Esai ini disertakan dalam “LOMBA MENULIS SURAT INSPIRASI KARTINI 2018”. Sayang tak terpilih sebagai pemenang maupun finalis, Jadi saya pajang saja di blog dengan harapan berfaedah bagi yang baca. Salam.
#LombaMenulis #Surat #Curhat #InspirasiKartini2018 #KayumanisFoundation #Disabilitas #Tunarungu
~Foto tangkapan layar dari akun Instagram Kayumanis Foundation

9 komentar:

  1. Hapunten pisan naros. Kutan Teh Rohjati tunarungu? Kumaha pangalaman nalika sakola di sakola umum tanpa alat bantu dengar?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Teu sawios, Teh Aam. Abi tos ngadamel postingan kanggo ngaelaskeun. Hatur nuhun.

      Hapus
  2. Apapun yang terjadi, bagaimanapun kondisinya, Kakak Rohyati telah membuktikan dan mematahkan pesimisme dengan karya. Itu yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun. Terimakasih Kakak telah mengajarkan nilai semangat itu pada kami semua pembaca blog ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasihg, Nonamuda. Saya belajar optimisme dari lingkungan pegiat literatur. Dan menjadi narablog membuat saya kian bersemangat. Akhamsulillah, jika tulisan saya bisa membawa manfaat.

      Hapus
  3. Semangat selalu mba Rohyati, tulisan ini mungkin gak masuk pemenang lomba menulis, tapi sudah memenangkan hati kami para pembacanya.

    Semoga mba selalu semangat dalam berkarya, tak pernah kenal lelah, apapun yang terjadi.
    Karena hidup adalah perjuangan, dan hanya orang-orang yang gak kenal menyerahlah yang akan memenangkan perjuangan tersebut.

    Teruslah menginspirasi mba, jangan pernah bosan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mbak Rey. Terharu dapat dukungan semangat dari jauh. Tiap baca komen teman di blog ini rasanya dapat asupan semangat. Inaya Allah selama saya masih diberi kesempatan dan jalan untuk berkarya, semangat itu tetap menyala. Harapan yang sama ula dari saya untuk teman-teman yang setia berkunjung ke sini. Mari saling beerbagi kisah. Semoga menginspirasi.

      Hapus

Terima kasih sudah singgah, silakan tinggalkan jejak komentar sebagai tanda persahabatan agar saya bisa lakukan kunjungan balik. Komentar sebaiknya relevan dengan isi tulisan. Bukan link hidup dan mati, apalagi iklan karena termasuk spam.Terima kasih banyak. Salam. Rohyati Sofjan

99.Co Indonesia, Prortal Jual Beli Properti Abad 21

HALANGAN terbesar selama ini dalam mencari atau menjual properti adalah keterbatasan informasi. Tidak heran, jual beli properti bukan...