Kamis, 17 Januari 2019

Menjemur Jagung dalam Intaian Mendung



SETELAH keseringan menulis mengenai blog, nyaris setiap hari sampai saya bosan sendiri, soalnya ingat masih banyak rencana tulisan yang belum diwujudkan. Termasuk soal jagung. Iya, karena suami petani dan sedang urus kebun bagi hasil dengan menanam jagung, saya ingin berbagi dunia itu. Alasan lainnya, jam segini, 21.47 malam, ternyata saya sudah sangat mengantuk padahal baru bisa pegang komputer bakda Isya. Jadi lebih baik menulis hal ringan, cenderung curcol.

Tahun lalu suami panen jagung dari kebun bagi hasil punya Pak Wawan dan Pak Momo, dan karena suami harus kerja jadi laden bangunan dari pagi sampai sore, maka urusan menjemur jagung jadi tanggung jawab saya. Suami bantu memipil biji jagung dari tongkolnya. Kami cuma mengandalkan pisau dan jari tangan. Jadi, jangan heran jika jempol saya bisa gepeng dan lecet saking keseringan memipil jagung. Pisau memang dipakai untuk mencungkil biji jagung agar ada ruang untuk memipil secara leluasa, namun jari jempol punya tugas mahamulia berupa memipilnya sampai tongkol bersih dari bijian. Dimigrasikan sehingga tinggal tongkol doang.
Busyet, kuapan ini. Saya sungguh sangat mengantuk dan ingin segera berbaring di atas kasur empuk. Bertahan! Baru 100 kata. Sepanjang siang tadi ada pemadaman aliran listrik sampai jam 5 sore. Berkaitan dengan pemasangan listrik baru bagi beberapa penduduk, khusus listrik gratis dari pemerintah yang kurang mampu. Makanya saya terpaksa menulis jam segini lagi padahal kapok da tunduh pisaaan
Sudah tahu tubuh belum fit benar masih memaksakan diri. Yah, berkorbanlah demi azam serta konsistensi menulis dan menayangkannya di blog setiap hari. Saya anggap ini pekerjaan, jadi ada tanggung jawab agar fokus dan konsisten, meski tulisannya malah kian gaje (gak jelas) macam ini, he he.
~ Ciao, seduh kopi Good Day dulu….
Akhirnya, beberapa tegukan bisa menghangatkan badan. Lebih tepatnya dari mulut melewati dada sampai perut. Rasa Good Day pas di lidah saya, pun aromanya yang seperti habis dipanggang. Maafkan saya, sedang berupaya cenghar alias fresh atau dalam bahasa Indonesianya segar. Padahal pengen ganjal kelopak mata pakai… daun pintu, he he.
Mari kita kembali bahas jagung, tak baik ngalor-ngidul padahal harusnya bahas jagung.

Tentang Jagung
Tanaman jagung adalah tanaman dengan akar serabut, memilki nama keren Zea mays. Saya tak paham bagaimana bisa Carolus Linneus memberikan nama demikian pada jagung, atas dasar silsilah apa? Seharusnya saya mencari tahu lebih banyak soal itu, namun pembahasan utama bukan aspek ilmu biologi, lebih tepatnya botani, melainkan hendak bahas yang berkaitan dengan peran jagung dalam masyarakat petani Indonesia yang mengandalkan musim hujan macam suami saya, berikut sebagian besar petani di kampung ini. 

Yah, setiap awal musim hujan,ketika curah hujan mulai tinggi yang biasanya di bulan November atau Desember, para petani segera mengolah ladangnya.  Ladang atau kebun yang semula bala alias berantakan ditumbuhi semak belukar liar, segera dibabat dan dibersihkan. Belukar kering sebaiknya dibersihkan dan dibakar sebelum musim hujan agar pengolahan bisa lebih cepat. Tinggal bongkar dan cangkul tanah. Lalu beri petak-petak lubang untuk menaruh jagung yang ditanam. 
Tahun lalu suami bisa cepat mengolahnya, membersihkan ladang pada musim kemarau, lalu bongkar dan cangkul kala musim hujan, kemudian menanam jagung dengan pemberian pupuk kandang dan pupuk pabrikan setelahnya. Belum lagi tambahan obat agar tanaman jagung tahan serangan hama atau gulma.
Karena kebun yang diolah hanya dua tempat, ditambah pekarangan depan rumah. Jadi bagi suami tak berat mengerjakannya sendirian. Kalau bayar orang berarti keuntungan berkurang karena sistem pembagian hasil harus adil, takutnya terlalu banyak potongan untuk modal awal, jadi lebih baik dikerjakan sendiri jika mampu.
Setelah panen, hasilnya lumayanlah. Beberapa karung sudah alhamdulillah was syukrullah. Kebun Pak Wawan 50 tombak (1 tombak sama dengan 14 meter persegi), sedang Pak Momo 30 tombak namun karena banyak pohon jadi mengalangi jatuhan sinar matahari. 
Yah, tanaman jagung termasuk manja juga, senang banget mandi matahari agar bisa tumbuh optimal, maka butuh lahan terbuka yang luas dan tak teralang tumbuhan tinggi macam pepohonan besar. Mengapa demikian? Karena tempat lembab tak baik baginya, bisa mengundang hama parasit atau jamur, bahkan virus tanaman.
Makanya, tanaman jagung termasuk tanaman yang cocok ditanam di dataran rendah terbuka. Dataran tinggi boleh juga asal perhatikan bagaimana kelembapan udara berikut struktur tanahnya. Saya pernah main ke daerah Cilengkrang, tempat keluarga paman dan bibi suami. Mereka tinggal di dataran tinggi, pohon yang ada pun rentan banget diserang hama tanaman. Tanahnya subur banget, cenderung gembur sampai merekah lembut di musim hujan. Itu tanah lapang untuk main voli bukan ladang. Bisa menanam jagung di sana, cuma kelembapan yang jadi ancaman. Soalnya mereka tinggal di pinggiran hutan konservasi di Tadjimalela. Jadi, butuh penanganan khusus berikut bibit unggul tahan hama. Juga lahan terbuka tanpa naungan pepohonan rimbun.
Kami tinggal di sudut kampung wilayah Balubur Limbangan, Garut. Di sekeliling rumah hanya bentang pegunungan dari timur, utara, sampai barat. Rumah kami melandai di lembah, dikepung ladang jagung ketika musimnya. Memang di dataran tinggi juga namun sinar matahari cukup hangat dan udaranya tak sedingin Tadjimalela jika malam. Pada saat tertentu dingin juga, namun Tadjimalela lebih dingin lagi karena di kaki atau lereng Gunung Manglayang.
Menanam jagung sudah jadi tradisi turun temurun setiap awal musim hujan. Meski ironisnya harga ditentukan tengkulak yang mengepul jagung dari petani. Kisaran harga terendah bisa 2.000 rupiah. Kalau sedang 2.500 rupiah. Kalau tinggi 3.000 rupiah. Itu per kilogram jagung kering yang telah dipipil dan dijemur petani.
Tahun kemarin kami menjualnya dengan harga 3.000 rupiah. Tak bisa lebih tinggi lagi. Padahal, tanaman jagung ‘kan termasuk musiman, terutama jagung hibrida untuk keperluan industri. Kalau jagung manis mah dibudidayakan petani tertentu dengan sistem pengairan dan pengolahan khusus sehingga senantiasa ada di pasar. 
Yang tinggal di lereng gunung serta kesulitan untuk pengairan tanaman di ladang sudah jelas tak bisa, dan terpaksa membiarkan ladang mereka terbengkalai pada saat kemarau usai panen jagung. Padahal kalau mau usaha, masih bisa menanam tanaman lain yang tahan cuaca kala kemarau melangsungkan tugas mulianya sebagai musim panas. Entah itu kunyit, jahe, singkong, talas, ubi manis, serta umbi-umbian lainnya.
Ya, ampun, saya mau bahas apa, sih? Malah melantur lagi!



Panen, Pipil, dan Jemur
Tiga tugas mulia tersebut menanti kala musim tanam telah dilalui jagung dengan selamat sampai tumbuh kembang selama 3 atau 4 bulan. Maka, suami pun memanennya sendiri. Sendirian di kebun, memetik dan memasukkan bertongkol-tongkol jagung basah ke dalam karung lalu diangkutnya ke rumah sampai punggungnya lecet dan lebam. Sepertinya nanti saya harus beli salep Thrombloplast untuk mengobati suami jika harus memikul beban berkarung-karung jagung yang diangkutnya sendirian.
Lah, kok saya tak bantu?
Tahun kemarin saya disuruh suami di rumah saja, urus anak dan rumah sekalian memipil jagungnya. Mana saya sibuk di depan komputer juga. Menulis! Suami masih kuat kerja sendiri karena bisa dicicil memetiknya. Duh, kasihan dengkul dan punggung suami pasti pegal banget. Mana tangan dan lengannya juga harus bergerak cepat, petik dan angkat.
Bukan berarti tugas saya ringan, selain memipil jagung saya juga harus menjemur dan menjagainya dari gangguan ayam tetangga yang nekat main santap ramai-ramai berulang kali. Tak kapok-kapok meski sudah digebah berulang kali pula. Kalau ayam sendiri mah tak masalah. Sekalian kasih makan sampai mereka kenyang asal jangan menghabiskan semua yang dijemur. He he. Lagian ayamnya cuma beberapa ekor. Namun lebih sering dikandangkan di kolong rumah agar tak keluyuran sembarangan.
Yang terberat dalam proses menjemur adalah harus menungguinya agar tak kehujanan. Makanya saya tak boleh meleng. Sembari menghadap komputer, sesekali mata melihat ke luar jendela kaca, memastikan hujan tak menderas seketika. 
Saat itu musim hujan makanya mendung melulu. Gumpalan awan kelabu mengintai. Saya harus siaga. Lebih senang menjemur jagung dalam beberapa bagian di  atas hamparan karung. Jadi, kalau hendak hujan saya bisa bersiap segera mengangkuti karung-karungnya satu per satu atau ditumpuk dua karung sekaligus. Kalau hamparan alas menjemur berupa terpal besar mah cuma punya satu. Tak punya ayakan dari anyaman bambu khusus untuk menjemur, ayakan bagus untuk menjemur bijian karena cepat menyerap panas. 



 Menjemur berkarung-karung jagung itu tak bisa disekaliguskan. Makanya pipil lalu jemur segera. Pipil dan jemur jagung lainnya lagi. Setelah kering yang butuh waktu 2 atau 3 hari bergantung ketersediaan panas matahari, tampi pakai nyiru atau tampah agar kulit keringnya yang gugur tak ikut masuk karung. Jadilah petani jujur, he he. 
Palung bisa diandalkan untuk bantu mamahnya angkut jagung dari wadah penjemur jika akan hujan atau proses penjemuran selesai. Jadi beban saya tak berat. Biasanya suami memipil sisa jagung yang belum diolah malam hari sepulang kerja padahal dia lelah. Saya? Harus membagi diri antara kerja di depan komputer dan memipil jagung. Biasanya saya memipil jagung sambil baca tayangan internet. Kalau harus mengetik atau menulis, ditinggalkan dulu acara memipilnya. Jalani dengan santai dan jangan ngoyo. Soalnya jempol lecet saya butuh istirahat sesekali, he he.
Yang paling repot dari acara menjemur jagung dalam intaian mendung itu adalah kehujanan. Kalah gerak cepat. Kalau jagung basah berarti harus kerja dobel. Mengeringkan ganda, karena jagung yang kena air butuh waktu lama untuk benar-benar kering. 
Berkarung-karung tongkol jagung malah diberikan ke tetangga untuk bahan tambahan kayu bakar di hawu alias tungku kayu bakar. Semacam pemantik api agar kayu bakar dalam hawu mudah terbakar. Saya lagi malas masak di hawu. Cuma sesekali jika gas habis dan kami tak punya uang untuk beli gasnya, atau tak ada stok gas di warung kampung. Tongkol jagung yang berkarung-karung itu biarlah disedekahkan kepada tetangga dekat rumah agar berfaedah dan tak jadi sampah. 
Musim tanam jagung sekarang, kebun bagi hasil yang dipercayakan kepada suami telah bertambah. Kali ini masih punya Pak Wawan, dan keluarga Ipah sahabat saya. Suami tak olah lagi kebun Pak Momo karena tak sanggup sebab harus urus dua kebun punya Ipah di dua tempat berbeda yang jauh jaraknya dari rumah.  Butuh modal besar untuk mengolahnya. Saya butuh salep khusus jika kami lebam, karena entah berapa karung jagung yang haris dipipil dari tiga kebun, dan pekarangan depan rumah.
Salam.
Cipeujeuh, 17 Januari 2019
#Jagung #MenanamJagung #MusimJagung #Tani #KehidupanKampung #DiGunung #SHSTJanuari17
~Foto hasil jepretan kamera ponsel ANDROMAX PRIME

14 komentar:

  1. wkwkwkkw, saya ngakak baca tulisan ini mba, ini persis kayak saya kalau ngotot mau nulis padahal kantuk udah gak tertahan.
    jadinya menulis dan melantur ke mana-mana hahaha

    Btw coba beli plester mba, trus jempol buat mipil jagung di kasih plester, jadi jarinya gak sakit.
    Harga jagungnya murah banget ya mba, rasanya gak sebanding dengan perjuangannya menjadikan jagung jadi butiran kayak gitu, apalagi pakai acara jemur-menjemur di musim penghujan kayak sekarang.

    Saya aja jemur pakaian agak kesal gitu, baru aja di jemur eh hujan, baru diangkat eh panas, cuacanya semacam mempermainkan saya huhuhu

    Tapi, jemuran mah bisa diakalin dengan jemur di dalam rumah terus dikipasin, kalau jagung agak repot juga ya.

    semangat selalu mba, semoga hasil panennya berlimpah dan berkah aamiin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ngotot karena merasa punya target meski akibatnya diselipi lanturan bawah sadar. Kayak pengen ngomel sendirian dalam bentuk tulisan saja, he he. Saking lelah dan tak fokus adinya tulisan kerap kehilangan bobot. Harus didoping sesuatu agar bisa kembali pada jalur yang benar, he he.
      Saran yang bagus pakai plester itu. Akan saya coba. Semoga plesternya tak terlepas karena jari jempol aktif mipil secara rutin.
      Yah, nasib petani di Indonesia mah gitu. Kalau ingin maju harus punya dasar keilmuan yang menunjang.
      Yah, tak mungkin mengipasi jagung, atuh, Mbak Rey. Ha ha. Bahannya beda,, Coba kalau bisa atau ada alat untuk mengeringkan dengan segera. Pengen tahu juga apa ada mesinnta.

      Hapus
  2. Kalau membaca artikel yang dituturkan ahlinya, betah banget, tau yau sudah di paragraph terakhir,..btw musim hujan begini kalau menjemur sedikit repot dan perlu waktu agak lama..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mbak Lantana. Sayang abnyak hal yang terlewatkan karena saya mengantuk. Mungkin harus bikin tulisan lain. Yah, menjemur jagung kala musim hujan tak mudah. Saya pernah kalah cepat sehingga jagungnya kebasahan. Pada dasarnya hasil bumi itu buth proses lama unmtuk diolah.

      Hapus
  3. Balubur limbangan ya mbak? sepertinya pernah denger.
    oh iya klo lihat stilah basa sundanya jadi inget kampung halaman hehe
    aku aslinya kuningan mbak, disana juga banyak ladang jagung.
    dan sepengetahuan saya para petani jagung tidak melulu nanam jagng kan ya? tergantung musimnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dulu ada kasus pembakaran bendera di Alun-alun Limbangan. Makanya kota kecil itu sempat sohor meski dengan cara tak baik dan memalukan warganya. Saya malah tak tahu soal itu. Tahunya keesokan hari dari grup WA komunitas.
      Kuningan tempatnya diceritakan dalam blog mas Aldhi atuh. Sorot sisi uniknya. Pasti banyak yang tertarik.
      Ya, menanam jagung mah mengandalkan musim hujan. Kebanyakan petani berladang tadah hujan makanya produksi terbatas. Itu untuk jaging jenis hibrida.
      Kalau yang manis mah repot, pakai sistem pengairan tertentu agar selalu ada di pasaean.

      Hapus
    2. Belum sempat ambil gambar terbaru d kuningan mbak, soalnya pulang pun setahun sekali hehe.Udh dapat org bantul.
      Sepertinya menarik utk diceritakan.
      Mungkin artikel selanjutnya akan kubahas ttg kabupaten kuningan mbak.

      Hapus
    3. Semoga tahun ini bisa mudik ke Kuningan dan mengunjungi lebih banyak tempat asyik di sana sekaligus mengabadikan panoramanya.
      Ditunggu kisah tentang Kuningan. Jangan lupa bahas juga peninggalan sejarahnya.

      Hapus
  4. Pertama: pertentangan besar antara kantuk dan semangat menulis, karena seperti Kakak, saya paham betul omongan teman saya si Ilham, katanya begini "Menulis sebelum ide menguap!" jadi saya harus menulis meskipun sudah mengantuk parah hahaha ... ada temen yang bahkan tertidur di atas laptop.

    Kedua: menjemur jagung dari tulisan Kakak kece ini, memang berat ya kalau mendung, proses pengeringan jadi lebih lama dari biasanya. Tapi yang penting semangat jangan kendur dan harus siaga kalau musim hujan agar jagungnya tidak kebasahan hahaha ... semangat terus untuk Kakak, Pak Suami, dan Palung. Jadi ... kapan saya diajak piknik di ladang jagung, Kak? :D selama ini ada ladang jagung tapi dalam game hahaha *kabuuurrr*.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, benar. Ide itu mudah datang sekaligus menguap. Ide semacam zat tak kasatmata yang sungguh sangat butuh kesigapan kita dalam menangkap dan menuangkannya. Perkara mengantuk sampai ketiduran, wah, pernah. Benar-benar tak sadar dan heran sendiri kala bangun. Kok bisa? Ha ha.
      Menjemur jagung di musim hujan mah repor banget apalagi jika jemurnya di tanah. Kalau halaman yang bersemen mah gampang, wadah penjemuran tak lembap, jadi cepat kering karena hawa panas segera menguap. Kalau di tempat lembap mah lama atau malah kena basahan dari tanahnya yang lembap, hu hu.
      Terima kasih sudah menyemangati saya dan keluarga. Senangnya beroleh perhatian. Aduh, kita jauh, andai saja ada mesin teleportasi gampang pikniknya, tak usah pesan tiket dan naik pesawat, tinggal masuk mesin teleportasi dan tekan lokasi tujuan dalam GPS, selanjutnya dalam hitungan detik akan langsung tiba, ha ha.

      Hapus
  5. Baca tulisan Teteh kali ini, aku jadi merasa, tugas petani seberat itu. Jadi nggak baik kalau sia-siakan makanan. Ini baru jagung. Bagaimana dengan padi.

    Semoga semangat selalu mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Fungsi pangan tak cuma sebagai bahan makanan semata, ada banyak andil di dalamnya agar suatu pangan bisa berada di tengah masyarakat. Kerja massal yang jelas tak mudah serta butuh proses dan ketekunan.
      Padi juga butuh perlakuan khusus sebelum tampil menjadi beras dan hadir di meja makan sebagai nasi. Semoga bahan pangan tidak dimubazirkan manusia karena dari setiap bulirnya ada cerita.

      Hapus
  6. Fotonya keren sekali Mbak, menarik,alami dan pemandangan latar belakangnya sungguh Indah. Coba dech,,,, perbanyak mengekspose foto pemandangan seperti itu.

    Foto seperti itu langka, sehingga akan berpeluang untuk mendapat backlink dari orang yang memakai foto kita.

    Kalau saya tidak berpengalaman kalau urusan jagung, tapi kalau urusan Padi, saya punya pengalaman, maklum masa kecil dan remaja lebih banyak bergelut dengan dunia Kebun.

    Ohy...judulnya itu loh....puitis buanget mbak. Kereeennnn.... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Padahal asal jepret dan cuma pakai kamera ponsel, mengandalkan pencahayaan alami dari sinar matahari yang redup karena mendung sedang menggulung kampung.
      Terima kasih, Kang. Semoga saja ada yang tertarik pada hasil jepretan saya yang berisikan panorama alam di kampung. Ehm, judul puitis itu disengaja agar mirip puisilah, ha ha.
      Bagikan atuh pengalaman Akang dengan padi dan kebun di masa kecil, pasti seru!

      Hapus

Terima kasih sudah singgah, silakan tinggalkan jejak komentar sebagai tanda persahabatan agar saya bisa lakukan kunjungan balik. Komentar sebaiknya relevan dengan isi tulisan. Bukan link hidup dan mati, apalagi iklan karena termasuk spam.Terima kasih banyak. Salam. Rohyati Sofjan

Belajar dari Sesama Ibu Rumah Tangga Penulis

MENJADI   ibu rumah tangga dengan profesi penulis sebagai tambahan kegiatan sekaligus sumber nafkah bukanlah perkara mudah, namun bu...