Rabu, 23 Januari 2019

Media Daring Berhonor

media daring

SEBAGAI penulis lepas sekaligus narablog, media daring (dalam jaringan, padanan kata untuk online) yang menyediakan honor pemuatan adalah sasaran kirim yang lebih baik daripada media lain yang tak berhonor sama sekali, atau berhonor namun susah dibayar sehingga ada teman yang terpaksa mengikhlaskan. Tadi beranda Facebook saya ada info aktual yang sangat dibutuhkan para penulis: hadirnya media daring baru yang berhonor!

Mas Yuditeha, penulis produktif yang karyanya bertebaran di mana-mana membagikan info pemuatan karya dalam statusnya. Seperti biasa, saya selalu akan langsung membagikan hal demikian dengan harapan teman-teman yang berkutat dalam dunia menulis tertarik kirim, dan tetap optimis bahwa peluang selalu ada di mana-mana.

Namun sekarang, karena ada teman pembaca blog yang ingin agar saya pun membagikan info media yang bisa menerima karya, maka saya tulis ini dengan harapan semoga berfaedah. Saya hanya akan menulis media daring yang masih aktif tayang, juga tata cara kirimnya. Sekaligus hal-hal yang harus diperhatikan sebelum kirim naskah ke media daring sasaran. Saya hanya berharap tulisan ini evergreen, tahan lama sepanjang masa. Sekaligus mendokumentasikan kehadiran media daring berhonor yang ada atau pernah ada kelaknya.

BACA JUGA: Media Massa yang Telah Membayar Honor Pemuatan Tulisan Saya

Sebelum Kirim
Ya, ada tahapan yang harus disiapkan lebih dulu sebelum kirim. Dengan tujuan agar segalanya berjalan sistematis, siap segala, dan tak ada yang dilewatkan.

1. Siapkan naskah
Sudah pasti harus siap kirim dan rapi pengetikan sampai tata kalimatnya. Sebaiknya periksa ulang untuk memastikan bahwa tak ada kesalahan tanda baca, salah data, salah ketik, atau kalimat tak efektif. Redaktur tak akan suka dengan naskah demikian karena akan mengurangi nilai tambah. Jadi, usahakan naskah yang dikirim benar-benar merupakan naskah yang telah melalui self editing/pengoreksian sendiri secara teliti.

Juga jangan sampai khilaf menulis kata yang tidak pada tempatnya. Saya pernah, harusnya menulis nama penerbit yang bukunya diterbitkan untuk resensi, eh, malah menulis penerbit yang menerbitkan buku antologi bersama dengan nama saya ada di dalamnya. Linglung yang sangat fatal karena alam bawah sadar membuat otak saya salah mengolah informasi tanpa disadari.

2. Perhatikan tata cara dan syarat kirim naskah
Setiap media punya persyaratan dalam penerimaan naskah. Upayakan naskah kita telah memenuhi syarat tersebut. Entah dalam segi teknis atau hal yang harus disertakan dalam naskah tersebut.

Segi teknis adalah naskah harus ditulis dalam pilihan huruf bagaimana, biasanya media mensyaratkan jenis Times New Roman (TNR), ada juga jenis huruf lainnya. Pun ukuran atau font huruf, kebanyakan 12, namun ada juga yang kurang dari itu. Segalanya biasa tercantum dalam syarat dan ketentuan pengiriman naskah.

Jangan lupa spasi, ada yang ganda (double) atau 2, ada pula 1,5. Saya biasa kirim spasi ganda saja jika medianya tak mencantumkan keterangan tentang berapa spasi. Namun jika tegas telah menyatakan berapa spasinya, seperti 1,5 maka saya ikuti aturan.

Setelah jenis huruf, ukuran, spasi, jangan lupa tampilan halaman atau page layout. Margin yang dipilih oleh saya adalah: atas 4-bawah 3, kiri 4-kanan 3. Untuk gampangnya pakai rumus: atas-kiri 4, bawah-kanan 3. Setel saja tampilan halaman naskah untuk itu: 4-3-4-3. 

Semua itu saya baca di syarat pengiriman naskah pada suatu media. Ada juga yang tak mensyaratkan demikian, margin harus normal seperti media Ide-ide. Namun saya rasa untuk amannya ikuti saja acuan standar yang ada dalam dunia penerbitan jika medianya tak menjelaskan. 

Jangan lupa, apakah akan pilih rata kiri kanan (justify), atau rata kiri saja. Untuk pembaca blog rasanya lebih nyaman baca rata kiri daripada rata kedua sisi agar mata tak lelah baca deret huruf yang berjajar terlalu rapi di layar gawai. 

Saat ini saya belum tahu acuan yang disyaratkan oleh media daring kebanyakan. Ambil rata kanan-kiri saja untuk amannya, biar redaktur yang mengedit jika memang naskah harus rata kiri dan telah lolos seleksi.

 3. Naskah harus asli buatan sendiri
Ini dia! Jika segala hal teknis sudah siap, maka naskah harus asli buatan karya sendiri bukan hasil plagiasi. Mencuri karya orang lain adalah aib besar dalam dunia literasi. Sudah banyak kasus yang terjadi. Tahun 2018 saja dimulai dengan aib besar yang dilakukan oleh seorang nona penulis muda. Sayang banget. Lalu masih ada lagi nama lainnya yang pakai alasan pembenaran, itu mengecewakan!

Hak cipta seakan sesuatu yang dianggap sepele bagi para plagiator yang bikin kotor dunia literasi. Padahal kala seseorang bekerja menghasilkan suatu karya, butuh drama panjang pengorbanan dan perjuangan agar karyanya bisa selesai dengan baik dan memuaskan. Waktu, tenaga, bahkan modal dasar. Termasuk sarana dan prasarana penunjang.

Seperti tulisan ini. Saya memang biasa menulis spontan, namun pada dasarnya telah melalui pengendapan, rencana-rencana yang akan disusun setelah menerima informasi, lalu mengolahnya. Ada bahan literatur yang harus saya baca, ada paket internet yang harus selalu diisi, ada sebaran informasi yang harus saya cari, dan ada lainnya. 

Seperti ada rasa lelah, lapar, haus, ngantuk, mual, terpaksa begadang, bahkan ngidam pengen makan mie baso panas pedas yang menghangatkan, namun tak bisa ke mana-mana karena harus menyelesaikan tulisan, he he.

4. Naskah belum pernah dipublikasikan
Media selalu butuh naskah baru yang masih gres, terutama media daring yang sangat menghindari duplikat konten, karena itu berpengaruh tak baik dalam perayapan robot pencari. Google sekarang ketat, loh.

Maka, jika naskah telah ditayangkan di media sasaran, sebaiknya jangan pajang di blog sendiri dengan isi yang sama. Bagusnya beri tahu saja bahwa naskah kita ditayangkan, lalu beri tautan untuk mengarahkannya (backlink) ke sana. Itu bisa mengundang pembaca baru, dan lebih informatif karena mengabarkan ada media yang bisa diserbu juga. Selain itu, membantu medianya agar lebih populer dalam mesin pencari -- yang berimbas pada pendapatan dari iklan jika ada.

Satu hal lagi, naskah tersebut sebelumnya tak pernah tayang dalam bentuk lain, seperti cetak atau digital. Silakan cetak dan digitalisasikan karya yang telah ditayangkan media daring sasaran, namun jangan sebaliknya.
Pokoknya, berikan yang terbaik dan kebaruan bagi media dan pembacanya!

5. Naskah sebaiknya jangan dikirim ke media lain pada saat bersamaan
Ada etika dasar soal itu. Jangan sampai ada pemuatan ganda. Maka, jangan kirim naskah sama ke media lain pada saat bersamaan. Cukup kirim ke satu media saja dengan tenggat waktu yang bisa diberikan, entah apakah akan 2 atau 3 bulan. Ada media yang memudahkan soal itu, terang-terangan bilang jika dalam waktu 2 bulan tiada kabar pemuatan berarti naskah telah ditolcit alias ditolak cintanya.

Jangan patah hati, Dear. Masih banyak media lain yang siap menampungnya. Kirim lagi ke media lain, jika masih ditolcit, bersabarlah, kirim terus sambil diiringi doa semoga bersua jodohnya. Sebaiknya revisi apa yang dirasa kurang baik. Bisa dikurangi atau tambahkan.

6. Perhatikan alamat media dan sasarannya
Untuk menghindari salah kirim, pastikan bahwa alamat kirim sudah tepat, jangan sampai failure delivery mail. Kalau saya, sih, sering. Itu juga karena tak cari info terkini soal alamat media. Makanya, terus memantau perkembangan informasi yang tersaji di internet juga sangat penting. Jangan sampai kita kuper atau kudet.

Nah, setelah alamat kirim tepat. Maka perhatikan ketentuan naskah akan ditujukan ke rubrik/ruang mana. Maka, dalam subjek surel/surat elektronik pun penting dituliskan subjeknya. Apakah CERPEN, PUISI, RESENSI BUKU, ESAI, ULASAN FILM, atau apa saja yang ada dalam media daringnya. Tulis saja dalam huruf kapital agar memudahkan redaktur. Misal: KITABAKA: Belajar dari Sesama Perempuan Penulis. Itu contoh dari saya kala kirim ke Janang.id. Silakan baca di sana jika berminat. Berminat baca dan kirim juga, he he. (Catatan tambahan 19 April 2019: Janang sudah tumbang, almarhum karena domain tak diperpanjang.)

7. Jangan lupakan yang ini
Persiapkan dulu surat pengantar, boleh langsung ditulis di badan surel atau diketik di word untuk kemudian disalin-tempel di badan surel. Surat tersebut singkat saja, menjelaskan tujuan dan keterangan. Jangan lupa, cantumkan alamat lengkap dan nomor rekening, berikut nomor kontak yang bisa dihubungi dalam badan surel sebagai tambahan. Nomor e-KTP juga penting, dan NPWP jika memang punya. Plus biodata singkat riwayat pemuatan karya jika memang diperlukan sebagai tambahan portofolio agar redakturnya bisa kenal kita bagaimana. Jangan lupa akun media sosial juga seperti Facebook, Twitter atau Instagram.

BACA JUGA: Cara Cepat Mendapatkan Follower Instagram Tanpa Bayar

Kalau kita punya alamat blog, sebaiknya sertakan juga sebagai referensi bahwa kita memang penulis asli, meski masih baru dalam dunia menulis namun sudah punya jejak karya yang patut dipertimbangkan. Soalnya, ya, terlalu banyak plagiator di luaran, sih. Maka, alangkah lebih baiknya mencantumkan portofolio tambahan itu. Itulah keuntungan jadi narablog, ada jejak untuk dikenali.

8. Sisipkan apa yang harus disisipkan dalam lampiran
Yang pertama dan utama, ya, naskahnya sendiri. Biasanya dalam bentuk word. Jangan lupa cantumkan alamat dan data diri di bagian bawah naskah. Agar redaktur tak pusing karena ada jejak punya siapa. Sebaiknya sertakan juga foto diri di bagian bawah naskahnya agar redaktur bisa tahu, atau memudahkan jika naskah tersebut hendak disertai foto untuk ditayangkan.

Setelah naskah dilampirkan dalam file attach, lampirkan yang lainnya lagi dengan cara yang sama, pakai attachment. Boleh foto diri dulu atau e-KTP dulu. Kedua hal itu penting. Saya biasa cantumkan hal demikian meski medianya tak mensyaratkan.

Jika naskah tersebut berupa resensi buku, jangan lupa sertakan foto bukunya dengan resolusi yang jelas dan tajam agar enak dilihat. Kalau buram mah kesannya nyedihin banget, mana mau media tayangin itu. Sudut pencahayaan berperan penting dalam pengambilan objek gambar. 

Untuk film, sertakan poster filmnya. Silakan dicari di situs penyedia info film yang bisa diunduh secara gratis, dan tak terbentur hak cipta alias bebas diunduh siapa saja.

9. Kirim dan tunggu namun tetap tulis dan kirim
Jika telah selesai mengirim, silakan tunggu dengan sabar sesuai batas waktu yang ditentukan. Kalau lewat dari itu berarti tak layak tayang. Jangan kecewa, kirim lagi ke media daring lain. Silakan revisi apa yang harus direvisi. Lalu selama masa menunggu yang panjang tanpa kepastian penayangan, alangkah lebih baiknya mengisi waktu dengan terus menulis hal baru, lalu kirim ke media lain. Terserah cetak atau daring. Pokoknya jangan menunggu sambil berpangku tangan, menunggulah dengan tetap produktif berkarya agar waktu tak terasa bergerak lambat.


2. Inilah Alamat Kirim
Silakan pilih media daring mana yang hendak dipilih sebagai sasaran pemasaran karya kita. Ingat, ya, kita ini sebatas ikhtiar. Maka hasil akhir biarlah Allah yang menentukan. Dukung dengan kerja keras dan kerja cerdas, juga ibadah dan doa. Semoga segalanya dilancarkan dalam hal mencari rezeki dengan jalan halal.

Mari kita simak media daring yang menyediakan honor:

1. Ide-ide
Sepertinya media baru untuk tahun 2019 ini, meski masih baru namun karya yang sudah tayang lumayan banyak dan bagus karena merupakan seleksi pilihan. Redakturnya tak main-main. Dengan jargon Menyentuh Peradaban, kentara bahwa situs yang dikelola itu menghimpun serakan karya sastra dan film untuk mendokumentasikan gerak hidup dan pelakunya. Sastra adalah medium yang diharapkan bisa menggugah kesadaran dan hati nurani manusia. Manusia Indonesia utamanya, apa pun lapisan sosialnya.

Syarat kirim sama seperti paparan saya di atas, belum pernah dimuat di mana pun dan dalam bentuk apa pun. Honor 50 ribu rupiah untuk semua jenis tulisan. Harap maklum jika honor cuma segitu, media daring butuh sponsor besar agar bisa membayar honor yang layak bagi penulisnya. Ideide baru merintis, semoga seiring waktu bisa tumbuh kembang dengan besar dan tidak tumbang.

Rubrik yang dimuat baru CERPEN, RESENSI BUKU dan FILM. Entah dengan pertimbangan apa hanya tiga. Apakah menyasar pembaca generasi sekarang yang hanya butuh bacaan ringan? Kirim dengan alamat: redaksiideide@gmail.com. Jangan lupa, sertakan subjek pilihan dalam kolom judul kala kirim surel.

Naskah diketik 1.5 spasi, margin normal, tak dijelaskan jenis hurufnya apa. Mungkin baiknya TNR saja. Panjang cerpen bebas, sedang resensi buku dan film dibatasi sampai 3-4 halaman. Jangan lupa sertakan foto buku atau poster film yang jelas. Umur terbit buku tidak lebih dari 6 bulan. 

Tenggat waktu 2 bulan, jika lewat dari itu tanpa kabar berarti naskah tak lolos seleksi. Sabar. Jika dimuat. honor akan dibayar paling lambat 2 pekan setelah penayangan. Silakan kirim sebanyak-banyaknya.

2. Kurung Buka
Seperti tanda baca yang serupa terbuka bagi siapa saja untuk memasuki dan menafsirkannya, barangkali demikianlah pemaknaan Kurung Buka. Yang menarik media daring itu juga menyediakan ruang untuk puisi, esai, cerita anak (cerita yang ditulis oleh anak SD dan SMP), dan piknik. Beragam dan membuka ruang agar menyentuh segala lapisan.
Saya kira para avonturir, istilah untuk yang senang melancong, akan sukacita ada medium untuk menampung catatan perjalanan mereka dengan nama Piknik; kala menjelajahi tempat demi tempat. Apakah Mas Himawan Sant akan senang jika coba menjajal kemampuan menulisnya pada media alternatif ini? Mas Hino, demikianlah ia menamakan diri, pemilik blog Trip of Mine cenderung menjelajah tempat yang tak dianggap oleh para pelancong, dengan sudut bidik bahasan yang berbeda. Itu membuatnya unik.

Pun cerita anak, bagi para penulis cerita yang masih anak-anak,  Kurung Buka bisa menjadi medium untuk menumpahkan serakan karya. Puisi dan esai bagi mereka yang suka rima dan berpanjang kata dalam mengulas sastra.

Silakan main ke www.kurungbuka.com, sponsor utamanya masih Gong Traveling yang dikelola Kang Gol A Gong pendiri Rumah Dunia. Semoga saja sponsor lain berdatangan agar Kurung Buka bisa lebih berkembang. 

Syarat utama naskah belum pernah ditayangkan di media cetak atau digital. Tenggat waktunya 1 bulan, jika tak dapat kabar setelah waktu lewat berarti naskah tak lolos seleksi. Jangan sedih, kirim ke media lain. Sayangnya belum ada penjelasan mengenai jumlah honor.

Diketik 1,5 spasi, untuk puisi dan cerpen gaya bebas. Puisi jumlah kirimnya 5-10 per pengiriman. Jumlah halaman esai minimal 3. Resensi dan piknik 3-4 halaman maksimalnya, sertakan foto sampul buku, dan untuk piknik berupa 3-5 foto pendukung beresolusi tinggi. Cerita anak ditulis oleh siswa SD dan SMP atau sederajat.

BACA JUGA: Lia Herliana dan Pakem Cerita untuk Anak

Untuk esai, resensi dan piknik, sebaiknya ditulis dengan gaya bahasa yang ringan dan tak kaku. Piknik bisa bahas sesuatu yang unik dan belum banyak ditulis orang lain. Hal semacam itu lebih mengundang hasrat pembaca karena disajikan dengan cara berbeda.

Kirim ke redaksi@kurungbuka.com, dengan subjek sesuai jenis naskah: PUISI/CERPEN/CERNAK/ESAI/RESENSI/PIKNIK. Jika ditayangkan, honor akan dikirim satu bulan setelah pemuatan. Biaya transfer antarbank ditanggung penulis. Kirim sebanyak-banyaknya, ya, agar peluang pemuatan lebih terbuka lebar.

Kurung Buka adalah portal berita yang menyuguhkan  informasi-informasi mengenai kegiatan literasi, baik lokal maupun nasional. Alamat Komplek Hegar Alam, No. 40, Kampung Ciloang, Sumurpecung, Kecamatan Serang, Banten, 42118. Nomor telefon: +62 819-0631-1007

Media independen yang dikelola oleh beberapa orang insan idealis. Semula didirikan di Bandung pada tanggal 15 Oktober 2014 oleh Yopi Setia Umbara, Heri Maja Kelana, Dian Hardiana, dan Muhammad Irsyad. Lalu pada tahun 2018 membuka diri sebagai media kajian dan apresiasi sastra. Salutnya, honor yang diberikan per pemuatan 200 ribu rupiah. Jumlah yang cukup besar.

Buruan secara linguistik berasal dari bahasa Sunda yang berarti halaman atau pekarangan. Uniknya, sebagai halaman seakan membuka ruang seluas-luasanya bagi sastra Sunda dan Indonesia untuk tampil secara berdampingan. Lebih jelasnya, lihat saja bagian Tentang Buruan.

Rubrik yang ada honornya berupa puisi Sunda, puisi bahasa Indonesia, dan cerpen. Belum pernah tayang di media mana pun. Panjang cerpen 3.500-5.000 karakter. Untuk puisi dikirim sebanyak 7-10 judul. Alamat kirim redaksi@buruan.co.

Satu hal lagi, foto dilampirkan terpisah. Karya akan terbit pada tanggal 10, 20, dan 30 setiap bulannya. Honor akan ditransfer paling lambat 2 hari setelah terbit. Tenggat waktu 1 bulan, jika tiada kabar berarti tidak lolos seleksi. 

Tidak semua tulisan yang tayang di sana berhonor. Untuk lembar SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU ada honornya, 70 ribu untuk semua jenis CERPEN, CERNAK, dan PUISI.

Tulis saja subjek dengan SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU, lalu jenis naskah dan judul. Ke alamat majalahsimalaba@gmail.com. Tak ada keterangan lain soal tenggat waktu dan tata cara kirim dalam situsnya. Pakai cara standar saja dan tenggat waktu 2 bulan.

Merupakan unit kegiatan mahasiswa kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), namun menerima tulisan luar berupa puisi, cerpen, opini, resensi buku dan film. Alamat: balairungpress@gmail.com. Untuk opini 1.000-1.200 kata. Selanjutnya tak ada penjelasan lain. Maka ambil cara standar saja,deh.

Ada honor cuma tak disebutkan berapa. Jangan lupa sertakan pindai tanda pengenal dalam pengiriman karya. Tenggat waktu 2 minggu, jika lewat dari itu tanpa pemberitahuan berarti tak lolos seleksi.



Terima cerpen dan puisi, namun tak jelas apakah ada honornya, tiada penjelasan lain soal tata cara kirim karena merupakan portal berita. Alamat: redaksi@nusantaranews.co.



          7. Cendana News
Ini media yang dikelola oleh Keluarga Cendana. Cuma memuat cerpen. Ada honor namun tak transparan berapa, he he. Juga tiada penjelasan tentang jumlah halaman. Pakai cara standar saja dan bebas. Kirim ke: editorcendana@gmail.com. Redaktur cerpennya sastrawan Satmoko Budi Santoso.

8. Basabasi (Perbarui data: masuk pemindaian broken link jadi terpaksa link keluar dihilangkan karena timeout)
Merupakan bagian dari unit usaha Diva Press yang berpusat di Jogja. Syarat kirim seperti di atas, dengan margin rumus 4-3-4-3. Spasi 1,5. Panjang halaman 3-4 untuk resensi buku dan hibernasi, esai minimal 3 halaman, cerpen bebas, puisi 5-10 judul.

Kirim ke gerobaknaskah@basabasi.co. Dengan subjek PUISI/CERPEN/ESAI/REHAL/BUKU/HIBERNASI. Tenggat waktu 2 bulan.

9. Mojok
Mojok media satir yang cenderung politis. Aktif memaparkan apa yang sedang tren dalam masyarakat. Untuk esai tayang setiap hari. Tak Ada patokan panjang tulisan. Ini membingungkan namun memberi keleluasaan. Barangkali sampai 1.200 kata. Kirim ke redaksi@mojok.co. Tenggat waktu 1 minggu. Honor tak dijelaskan. Kurang transparan atau ingin bikin penasaran? He he.

10. Detik
Ada 2 bagian, esai dan cerpen. Untuk esai sebaiknya mendaftar menjadi anggota Detik agar lebih beroleh kemudahan kala kirim, semacam tak perlu tunggu lama jika kirim melalui alamat posel sendiri. Saya juga anggota Detik, langsung beroleh kabar ditolcit, he he.

Sedang untuk cerpen, kirim ke mumu@detik.com. Panjang 9.000 karakter. Ikuti saja standar cara kirim.  

11. Janang (Tetap dicantumkan sebagai kenangan meski sudah tak tayang)
Yang ini punya syarat juga. Honor semua tulisan 50 ribu rupiah. Terdsiri dari CERPEN, PUISI, GURAU (opini dalam bahasa Minang), KITABAKA (resensi buku), USIK (ulasan musik), dan FILEM (ulasan film).

Syarat sama sepert di atas. Spasi 1,5. Rumus 4-3, 4-3. Puisi 5-10 sekali kirim. Panjang naskah selain cerpen 3-4 halaman. Honor akan ditransfer 1 pekan setelah pemuatan. Kirim ke ruangjanang@gmail.com.

Sayangnya Janang jarang banget diperbarui. Entah jarang ada yang kirim ataui lagi malas pembaruan tayangan. Jadinya ragu untuk pajang di sini, takut malah hendak gulung tikar dan dadah-dadah. Semoga tidak. Sepertinya saya harus menulis ulasan film ke sana untuk mencoba cari tahu apa sehat-sehat saja.   

Sudahlah, sudah di atas 2 ribu kata. Saya akhiri saja. Selamat kirim. Jangan menyerah, terus tulis dan kirim. Media daringnya memang cuma segitu namun lumayan. Semoga ke depannya bertambah banyak.
Salam.
Cipeujeuh, 23 Januari 2019
#AlamatMedia #MediaDaring #KirimNaskah #Literasi #SHSTJanuari22
~Foto hasil jepretan ponsel ANDROMAX PRIME

  

                                                     

57 komentar:

  1. Makasihhh, Mbak. Berguna sekali infonya. :)

    BalasHapus
  2. Hahahah..keren nich tulisannya, lengkap abis dan kaya informasi. Dengan penulisan seperti ini akan membuat para pembaca merasa puas, walau mungkin penulisnya jadi teler dan kelelahan,hehehe....

    kalau saya disuruh untuk menjadi penulis media daring, saya nyerah dech, tulisan saya ngak masuk kategori dan pasti bikin pusing Redaktur. :)

    Namun ada sedikit saran dari saya, yaitu masalah Judul :

    Untuk ditanyangkan Di Internet, sebaiknya menggunaka judul seperti ini Mbak : Misal,

    " Hal Penting Yang Wajib Di Lakukan Sebelum Tulisan Di Kirim Ke Media Daring Berhonor ".

    Biasanya judul seperti ini akan membuat para pembaca yang mencari seputar artikel tentang media daring berhonor di Google , tertarik untuk membaca tulisan kita.

    atau juga bisa menggunakan judul " Syarat Wajib Agar tulisan Lolos Ketika di Kirim Ke Media Daring berhonor ".

    Ingat artikel kita itu bukan hanya dibaca dan dicari di media sosial, melainkan akan dicari orang via Google.

    sekedar saran saja sich.... selebihnya isi tulisannya bikin saya kagum. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kang Nata, terima kasih sarannya, ya. Saya lemah soal pemilihan kata kunci. Judul saja kerap asal karena menulis spontan setiap harinya. Sayangnya saya tak bisa ubah judul karena takut keburu terindeks oleh mesin pencari. Cuma bisa pasrah saja. Mungkin lain kali saya bikin tulisan lain yang kata kucinya bisa nyangkut di mesin pencari.
      Terima kasih, Kang. Ini masukan penting bagi saya yang kurang paham ilmu SEO.
      Saya memang teler dan kelelahan karena harus segera selesaikan tulisan padahal disambi hal lain. Terhenti melulu karena urus yang hars didahulukan. Syukurlah jika pada akhirnya berfaedah. Ini yang sangat saya harapkan.
      Terima kasih sudah bertahan baca tulisan panjang. Kang Nata belum terlambat kok untuk belajar agar tulisan pun bisa dikirim ke media. Asah diri. Semangat '45.

      Hapus
  3. Sepertinya aku harus banyak belajar memperbaiki tulisan dlu sebelum mengirim haha.
    .
    Tapi nnti coba ah. Entah satu tahun lg atau malah bulan depan.
    Infonya lengkap dan detail banget.
    Dan page ini aku bookmark hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, perbaiki dengan teliti sebelum yakin layak kirim. Semua penulis media akan gitu, terutama yang sudah mahir atau berjam terbang tinggi.
      Mas Aldhi pasti bisa, dong. Basis sebagai narablog sudah bagus. Terima kasih berkenan simpan halamannya. :)

      Hapus
  4. Artikel yang sangat bermanfaat mba. Auto bookmark deh, biar nanti ikut kirim juga, lumayan buat portofolio tulisan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih. Silakan disimpan, senang jika bermanfaat. Ayo kirim. Lumayan honornya, he he.

      Hapus
  5. Masih ada beberapa media yang berhorium dan terbukti membayar. Hanya saja untuk proses penerimaannya lumayan susah, salah satu contohnya Kompas, Media Indonesia, dan Tempo.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, media macam itu sudah mapan dan susah ditembus karena seleksi ketat berikut saking banyaknya peminat yang kirim tulisan agar bisa dimuat.
      Saya saja belum pernah bisa tembus media besar. Kemarin dapat surat tolcit dari media besar yang rubrik bahasanya saya sasar. Naskah saya dibilang tak jelas, aha.
      Berat namun harus diperjuangkan.

      Hapus
  6. Horeee informasinya lengkap sampai pada tempat-tempat yang Insha Allah menerima naskah.

    Terimakasih tipsnya, Kak, satu per satu dibahas di sini, poin demi poin, demi kemajuan intelejensia pembaca blog ini wkwkwkw. Btw, betul sekali yang soal mengirimkan naskah yang sama pada dua penerbit/situs yang berbeda, dengan pemikiran satu menerima, satu menolak, padahal bakal berabe juga kalau dua-duanya menerima hehe.

    Terimakasih, Kakak, selalu mencerahkan. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mari serbu media daringnya, Nonamuda. Semoga bisa tembus media karena mereka juga bukan media sembarangan. Mari berjuang dan bersaing secara sehat dengan para penulis lain. Mantapkan diri.
      Iya, sebaiknya kirim satu naskah pada satu media dan beri tenggat waktu secara tegas agar bisa kita alihkan tanpa beban kala tenggat waktu lewat dan tak dimuat.
      Pemuatan dobel atau ganda ada hari yang bersamaan itu tak baik kesannya, bagi penulis yang bersangkutan dan media sendiri.
      Terima kasih juga sudah baca.

      Hapus
  7. Informasinya sangat bermanfaat! Ada linknya pula. Jadi pengen mulai membangkitkan draft tulisan lama :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sengaja saya sertakan link atau tautan agar pembaca pun bisa memahami karakter media tujuannya. Ayo tulis dan kirim. Semangat tempur karena medianya harus ditembus dengan strategi matang.

      Hapus
  8. Untuk Mojok honornya lumayan. Tahun kemarin kalau nggak salah 300 atau 350K per artikel gitu, agak-agak lupa. Saya pernah tayang 2 kali di sana. Entah kalau untuk honor tahun 2019 ini.

    Betewe artikelnya informatif mbak, bisa saya bookmark dulu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sash keren bisa menembus Mojok, saya juga sudah baca yang tentang perjalanan itu, yang lainnya saya belum baca karena sekarang jarang banget buka Mojok dan menyimaknya. Terlalu sibuk dengan kegiatan blogging ditambah kinerja yang lambat membuat saya kerap melewatkan banyak hal.
      Terima kasih infonya, sash. honor Mojok besar juga, bagi saya, sayang saya kerap gagal menembusanya, he he. Harus memperbanyak tulisan. Cuma sekarang sedang sok repot jadi tak bisa menulis lebih banyak lagi untuk media. Padahal honornya menggiurkan, ya.
      Terima kasih sudah bookmark meski seakrang saya lupa caranya karena pakai peramban Firefox Developer Edition. :)

      Hapus
  9. Bermanfaat banget mba, saya juga pengen deh bisa kirim tulisan dan berbayar, tapi kudu belajar banyak di blog ini dulu buat menulis yang baik dan benar hahaha.
    Saya menulis mah menulis aja, kebalik-balik, muter-muter, gak jelas, selalu begitu huhuhu.
    Ingin sekali-kali bisa tembus media daring berhonor gini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh, padahal Mbak Rey juga sudah bagus, kok. Ada deskrisinya kala menulis artikel. Ayo PD. Coba cari media yang oke untuk menyalurkan hasrat menulis yang Mbak kira mutar-mutar padahal substansial.

      Hapus
  10. Infonya lumayan lengkap mba, saya ingin sekali mengirimkan karya saya disalah satu media tersebut namun masih banyak ilmu yang harus saya gali dan saya kembangkan, semangat mba ayo kirim lagi naskahnya mba ke media2 tersebut :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak iid mari kembangkan diri, bisa dimuat di situs media daring itu menyenangkan. Hem, saya juga ingin kirim lagi cuma harus sediakan naskah yang layak tayang, ha ha. Sibuk jelajah blog melulu.

      Hapus
  11. Nah bener banget kalau kita juga harus memperhatikan syarat syarat hingga standar penulisan di media apapun biar dimuat di media yang kita inginkan

    BalasHapus
  12. really appreciate your information here mba..media daring berbayar memang makin banyak ya mba dan sepanjang kita memenuhi persyaratan yang mereka tetapkan, biasanya karya kita bias diterima dan diterbitkan ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, sejak media cetak banyak yang gulung tikar karena imbas dari era digital, maka media daring bisa merupakan pilihan utama.
      Persaingan yang ketat tetap ada hanya bikin kita gampang memilih media sasaran.

      Hapus
  13. Aku belum pernah nulis untuk media mbak, makasih ya sudah dituliskan langkah-langkahnya, semoga aku bisa ikutan menulis juga di media daring.
    TErnyata ada ketentuan font ya saat pengiriman naskah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat menulis, Mbak. Sukses, ya. Soal ukuran huruf memang itu aturan untuk memudahkan agar seragam dan redaktur tak pusing ngedit, ha ha.

      Hapus
  14. Informasinya lengkap banget, mba. Belum pernah mengirimkan tulisan seperti tahap2 di atas. Jadi tau banyak membaca tulisannya. Makasih ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah baca, Mbak. Senang jika bisa berbagi wawasan.

      Hapus
  15. waah.. ini detail sekali informasinya mbak.. makasih banyak ya.. saya coba intip satu-satu deh link nya, hihi.. pengen coba kirim cerpen, tapi rasanya ga pede.. haha xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, Mbak. Ayo kirim cerpennya. Jangan mikir PD atau tidak, yang penting kirim dan baguslah kalau ditayangkan. Bisa dapat tambahan honor lumayan.

      Hapus
  16. Waahh makasih infonya mbak. Ini aku bintangin nih :D
    Saya juga suka menulis utk media online lain selain blog tapi blm pernah yang kirim sendiri sih, biasanya by request pemilik blog. Jd pengen menulis jg utk media lain dgn cara gtu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo tulis dan kirim, Mbak. Terima kasih sudah membintangi tautan saya. Senang jika berfaedah. :)

      Hapus
  17. Masha Allah mbk ini informasi yang dicari-cari, makasih mbak informasinya lengkap banget izin bookmark mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, senang jika bisa membantu. :) Silakan di-bookmark, Mbak.

      Hapus
  18. Wah, jadi inget waktu pertama kali nulis. aku dulu nyari-nyari email redaksi kayak gini buat aku kirimin naskah. Sampe akhirnya aku menyadari kalo aku gak bakat nulis fiksi. Dan akhirnya betah nulis nonfiksi. Akhirnya bisa nulis buku. Jadi editor. Dan kabur ke blog deh akhirnya. Dunia menulis, apalagi sudah ada internet, sangat tak terduga. Membuat aku kini betah di tempat yang sama sekali gak pernah aku sangka-sangka. :D

    BalasHapus
  19. Alhamdulillah, ada referensi media daring yang bisa kita kirimi tulisan ya. Aku belum pernah nih mba. Selama ini ya nulis di blog sendiri. Harus belajar mencoba kirim naskah nih ke media, agar tau juga gimana standarnya menulis untuk media daring yang tentunya beda dengan tulisan kita di blog.

    BalasHapus
  20. Lengkap banget ulasannya mbak sampai menghasilkan lebih dari 2000 kata... udah gitu isinya berbobot pula. Kasih informasi terkait media daring yang yang berhonor.

    Lumayan juga ya honornya kalau artikel kita bisa terbit di beberapa situs yang mbak sebutkan di atas. Btw thanks for infonya

    BalasHapus
  21. Terima kasih mba sudah kembali diingatkan tentang dunia daring khusunya menulis ya.. intinya jika segala sesuatu dikerjakan dengan sungguh sungguh dan dengan persiapan yang matang, maka hasilnya juga akan memuaskan ya mba.. Bismillah.. semoga menjadi lebih baik lagi setiap harinya

    BalasHapus
  22. Lengkap banget Mbak share infonya. Cocok deh buat yg rajin nulis dan PD untuk kirim2 ke media gitu, saya mah apaatuh gak PD an, cuma PD nulis di blog aja, heheheh.

    Anyway sekali lagi makasih info dan tipsnya ya Mbak, berguna banget ini :)

    BalasHapus
  23. Waah, makasih banyaak Mba buat referensinya. Noted banget nih, selain bisa dapet pundi-pundi rupiah, juga jadi tantangan buat kita untuk memperbaiki tulisan. Karena kalau di blog sendiri kan pasti tayang ya, hahaha. Sedangkan kalau di media daring, ada syarat yang harus dipenuhi.
    Nggak terlalu beda juga ya syarat dengan media cetak.

    BalasHapus
  24. Entah kenapa, saat ini, aku sedang tidak berminat mengirim tulisan ke media berhonor ya, Mbak. Mungkin karena aku berpikir kalau kirim kayak gini aku harus mikir lebih berat lagi sedangkan waktuku untuk menulis saja sangat terbatas. Istilahnya, masih bisa produktif di blog sendiri saja sudah untung.

    BalasHapus
  25. Waaaah makasih banget mbaa, infonya lengkap dan detail. Bisa jadi acuan banget ini kalau mau kirim naskah ke media. Semoga next ujme bisa kirim naskah ke media. Aamiin

    BalasHapus
  26. Jadi inget jaman kuliah. Aku ngumpulin koran dari berbagai nedia buat dibaca biar ngerti ciri tulisan yang dimau ran alamat enail redaksi hehehe.

    BalasHapus
  27. Saya belum pernah nih ngirim-ngirim naskah ke media, mentalnya belum siap dan saya juga merasa tulisanku gak layak muat jadi daripada ditolak yaa udah gak usah ngirim, hehehe

    BalasHapus
  28. Saat ini fokus nulis di blog aja, kebetulan punya 2 blog yang mesti diisi (walau ngisinya juga angin-anginan tergantung mood, sih, hehehe). Dapat honornya juga dari blog aja lewat kerjasama dengan agency atau si pemberi job :)

    BalasHapus
  29. Jadi kangen kirim naskah lagi ke penerbitan udah lama vakum ngenovel.semoga tajun ini bisa nerbitin novel lagi aamin

    BalasHapus
  30. Oh... jadi daring itu singkatan dari "dalam jaringan", ya?
    Baru tahu, akutu.

    ... hmmm dari mana saja selama ini.

    "lagi getol BW, mba, hahaha"

    Alhamdullillah, wawasan jadi terdongkrak nih dengan daftar media daring.

    Cuma aku masih fokus isi konten di blog saja dulu.
    Lebih greget, menurutku, hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi ingat pada penulis cerpen di majalah STORY, Anna Juntak. Mbak-kah itu?
      Tulisannya bagus. Tak apa fokus pada blog, sekarang memang era digital. Kita lebih ingin menjangkau pembaca yang banyak daripada terbatas seperti dulu.
      Sukses untuk Mbak. Selamat jelajah blog. :)

      Hapus
  31. Agak sedikit engap aku bacanya mba panjang bener, tapi manfaat yang saya dapat adalah ilmu yang kapan saja bisa dipraktekkan Barakallah mba

    BalasHapus
  32. Lengkap banget referensi media dan tips untuk mengirimkan naskahnya. Terima kasih atas informasinya ya, Mbak. Nanti kalau ada teman penulis yang tanya-tanya juga tentang media yang menerima naskah, saya referensikan aja mereka untuk baca di blog ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah jika bisa membantu teman Mbak Monica yang butuh.
      Saya harap semoga berfaedah. Terima kasih juga berkenan menyampaikan pada teman-teman.

      Hapus
  33. Informatif sekali Bu tulisannya :)
    Saya baru tahu bahwa di detik ada cerpennya juga, apakah kirim cerpen ke detik mendapat honor bila tembus?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biasanya dapat, Mbak. Biasanya di grup Facebook Sasrea Munggu suka ada pemberitahuan pemuatan karya, ada banyak anggota grup yang sering kirim karya ke Detik dan ada yang dimuat. Bisa tanya mereka di gryp jika Mbak bergabung ke sana. Dulu kalau tidak salah sekira 400 ribu. Karya cerpen lebih disukai bernuansa dalam balutan bahasa sastra. Selamat kirim karya.

      Hapus
  34. Mbak kalau di kurung buka honornya kira kira berapa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Coba hubungin Muhzen Den yang biasa menangani bagian pemberitahuan pemuatan di Facebook dan Instagram. Duklu kisaran 100 atau 150 ribu untuk esai. Saya kurang tahu pastinya. Belum pernah kirim ke sana da sibuk dan lupa melulu jadi tidak punya pengalaman.

      Hapus
  35. Kak kalau di kurung buka jumlah honornya kira kira berapa?

    BalasHapus

Terima kasih sudah singgah, silakan tinggalkan jejak komentar sebagai tanda persahabatan agar saya bisa lakukan kunjungan balik. Komentar sebaiknya relevan dengan isi tulisan. Nama komentator tidak langsung mengarah ke URL pos blog agar tidak menambah beban jumlah link pemilik blog ini. Jangan sertakan link hidup dan mati, apalagi iklan karena termasuk spam.Terima kasih banyak. Salam. @rohyatisofjan

Tentang Follow for Unfollow dalam Pandangan Admin Follow Loop

SIANG tadi saya harus merasa sebal luar biasa pada pemilik akun yang sungguh keterlaluan, setelah diberi kesempatan kedua malah mai...