Jumat, 04 Januari 2019

Me Before You, Pada Akhirnya, Aku dan Kamu



 KECELAKAAN tidak hanya mengubah hidup seseorang, orang di sekitar korban pun merasakan dampaknya. Demikianlah hidup William Traynor (Sam Claflin), seorang lelaki muda tampan yang sangat dinamis berubah, hanya karena kecerobohannya kala menyeberang jalan sambil bicara di telefon genggam tanpa melihat kiri-kanan, membuatnya ditabrak sepeda motor di pagi berhujan. Lalu dua tahun kemudian, seorang perempuan muda datang dalam hidupnya, mengubah hari-harinya yang muram dan putus asa kembali mengenal tawa. Namun ia tetap kukuh dengan keputusannya semula.

Luoisa Clark (Emilia Clarke) hanyalah seorang gadis muda 26 tahun tanpa banyak pengalaman kerja namun dia optimis dan berhati hangat. Wajah yang murah senyum dan tertawa mengekspresikan perasaannya.
Pada mulanya Lou kerja di toko kue dan hanya punya pengalaman dalam memanggang kue namun dia pribadi yang sopan, ceria, ramah, dan menyenangkan. Ia dipecat dengan hormat dan hanya beroleh pesangon gaji sebulan saja padahal sudah 6 tahun kerja di sana karena toko itu bangkrut.



Camilla Traynor (Janet McTeer) melihat sesuatu yang lain dalam diri Lou kala wawancara pertama. Cara Lou bersikap dan meski canggung, mengungkapkan kepolosan sekaligus antusiasme diri untuk beroleh kerja sebagai perawat pendamping bagi anaknya yang lumpuh dari anggota badan atas ke bawah.  

BACA JUGA: "A Moment to Remember", Ada Penghapus di Kepalaku!
 
Lou sungguh tak tahu apa arti kuadriplegia (kehilangan kendali dari kaki dan terbatasnya gerakan lengan dan tangan), namun memiliki keyakinan bahwa ia bisa belajar. Bagi Camilla, ada sesuatu yang lain dalam diri Lou kala bersalaman dengan suaminya, Stephen Traynor (Charles Dance); jelas Lou jenis perempuan baik-baik dan bukan penggoda. Seseorang yang bisa fokus untuk mengurus Will anak semata wayangnya. 


Yang lucu dari jawaban Lou adalah kala Camilla menjelaskan arti kuadriplegia dan tanya apakah hal itu akan mengganggu, dengan spontan Lou malah bilang, “Mungkin dia yang lebih terganggu.”
Sisi manusiawi Lou ditampilkan secara natural sebagai sifat bawaan, bukan sesuatu yang dibuat-buat demi memberi kesan baik agar beroleh pekerjaan. 

BACA JUGA: "Forrest Gump", Sisi Satir lari
Camilla memberi pertanyaan lain yang lebih sulit namun merupakan pertanyaan mendasar agar bisa menerima atau menolak seorang calon dalam wawancara kerja, “Mengapa aku harus mempekerjakanmu daripada kandidat sebelumnya?”
Nah, pertanyaan itu pasti akan membuat siapa pun yang tidak siap akan kelimpungan, termasuk Lou yang sempat terpana selama beberapa saat sehingga Camilla menegurnya, “Kau tak bisa memikirkan satu pun alasan?”
Dengan spontan namun gugup, Lou bilang, “Ada Nyonya Traynor. Aku cepat belajar. Aku tak pernah sakit. Aku tinggal di sisi lain istana. Aku lebih tangguh dari kelihatannya. Dan aku…, aku bisa membuat teh yang enak. Kau tahu, semua bisa diselesaikan… dengan secangkir teh yang nikmat.” Hem, jawaban Lou tentang teh benar-benar khas orang Inggris. Budaya minum teh di Inggris pun terbawa dalam wawancara kerja.
Lucu, ya.


Seandainya saya yang orang Sunda ditanya demikian soal wawancara kerja, apakah akan bilang soal menyajikan teh tawar yang harum sedap khas tanah parahiyangan? He he, abaikan. Soalnya William Traynor yang diperankan Sam Claflin itu ganteng abis, bisa bikin kaum hawa klepek-klepek hatinya.
Wow, ngedadak Mamah Palung nemu spesies ganteng yang bikin klepek-klepek sesudah berstatus mamah-mamah. Kala lajang mah yang bikin klepek-klepek banyak banget dan berderet: Clark Kent alias Superman, Ralph Macchio, Keanu Reeves, Joaquin Phoenix; lalu Jason Tedjasukmana (penyiar Indonesia’s Today di RCTI) dan Harun Chalid (penyiar TVRI News) soalnya mereka ngingatin pada sosok Clark Kent, sih. Ha ha.
Balik pada topik semula sebelum lanturannya kian parah dan Mamah Palung tak fokus soalnya terpesona pada senyum Sam yang membuai. Lou yang langsung diterima kerja diajak menjumpai Will dulu di ruang paviliun untuk berkenalan sebelum besok pagi mulai kerja.



Sosok Will yang tampan meski lumpuh ternyata bisa usil juga kala memperkenalkan diri, berlaku seolah orang cacat menyedihkan dengan ekspresi wajah dibuat-buat sampai ibunya menegur.



Hem, meski sudah jadi lelaki dewasa, sang anak tetap bisa bertingkah layaknya bocah kala ia muak dengan kondisi dirinya. Tampang Lou jadi terlihat sangat konyol karena tak tahu harus bagaimana kala dikerjai, dan sesudah sadar telah dikerjai.



Sebelumnya, Camilla berharap agar Lou dan Will bisa berteman. Ia sungguh putus asa dan kebingungan menghadapi putranya yang menarik diri dari lingkungan sekitar. Harapan Camilla terwujud, lambat laun namun pasti Will yang semula sinis dan sarkas bisa menerima Lou yang antusias dan senang mengoceh. Bagi Lou hidup ini penuh warna dan menyenangkan. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang hangat dan harmonis. Karena itulah, ia bisa menularkan antusiasme tersebut pada Will yang semula putus asa dan menolak kegiatan luar.



Cedera tulang belakang bukanlah perkara mudah karena tak seorang pun tahu bagaimana cara menyembuhkannya. Apalagi kondisi Will mudah drop dan selalu merasa kesakitan pada saat-saat tertentu. Nathan, sang paramedis ahli yang sudah mendampingi Will sejak 2 tahun lalu, menjelaskan kondisi Will pada Lou yang ingin tahu.
“Dia melakukan semua fisio di tahun pertama. Yang kami dapatkan hanya gerakan kecil dari jarinya. Lalu dia terkena pneumonia dan autonomic dysreflexia.” Nathan menjelaskan panjang lebar. Dan kala Lou tak paham, dengan bahasa yang mudah dipahami orang awam, Nathan melanjutkan; bahwa tekanan darah Will naik-turun, dan selalu terbuka terhadap infeksi.
Pada akhirnya Lou tak sengaja mendengarkan percakapan, lebih tepatnya perdebatan, antara pasangan suami-istri Traynor mengenai keputusan Will untuk ikut program DIGNITAS (organisasi bunuh diri Swiss).
Jadi hanya 6 bulan kontrak kerjanya itu berkaitan dengan 6 bulan saja masa yang diberikan Will kepada kedua orang tuanya untuk menjalani hidup karena ia muak menjadi insan malfungsi. 



Sebagai lelaki Will selalu terang-terangan bilang pada Lou bahwa ia menginginkan hidupnya yang lama sebelum kecelakaan itu terjadi.
Bisakah Lou menghentikan niat Will untuk mengakhiri hidupnya dengan ikut program tersebut? Lalu bagaimana upaya terakhir Lou agar Will yang membuatnya jatuh cinta mengurungkan niatnya dan tetap bersama (meski ia sudah punya Patrick pacarnya yang sangat antusias pada kegiatan alam dan kebugaran, sebagaimana Will pula dulunya). 

BACA JUGA: "On Your Wedding Day", Cinta Pertama yang Tak Kesampaian
 
Film itu bagus dan menguras emosi. Akting Emilia tampak karikatural dengan wajahnya yang selalu mudah menggambarkan perasaan. Will yang pelan namun pasti jatuh cinta pada Lou setelah dikhianati pacar yang memilih menikah dengan sahabatnya, masih memiliki sisa harga diri bahwa ia tak ingin menjalani kehidupan yang membuatnya tak berdaya. Karena itulah ia ingin memilih nasib sendiri. 



Latar pemandangan suasana khas perdesaan Inggris yang tenang dengan kastilnya menjadi panorama menarik. Film itu berdasarkan novel Jojo Moves. Romantis sekaligus liris.
Saya rekomendasikan bagi yang suka baperan. Anda tak akan kecewa dengan film indah ini.
Cipeujeuh, 14 Mei 2018
#Resensi #Film #MeBeforeYou #Romantis #SamClaflin #EmiliaClarke #Kuadriplegia #Dignitas #Inggris
 ~Foto hasil capture GOM player pada filmnya~

4 komentar:

  1. Mbaaaa.. kayaknya kok judulnya familier, tapi mengapa saya ga familier dengan pemainnya ya?
    Duh ya jangan2 saya udah pikun nih kebanyakan baca artikel wakakakkaak

    Pengen nonton lagi deh, saya termasuk orang yang paling suka nonton film yang baper gini, tapi sayangnya sekarang sulit cari waktu sendiri, anak saya selalu kepo dengan semua yang saya tonton, dan saya gak nyaman nonton film drama bersama anak usia 8 tahun.

    Semoga nanti2 bakal ada waktu nonton film ini deh, saat si sulung ke sekolah kayaknya heheheh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu film lama, cuma saya tak nyimak tahun berapa. Sudah keburu dihapus, sih. Kapasitas penyimpanan netbook saya terbatas padahal selalu sedot film baru dari laptop anak sahabat atau tunangannya.
      Ditonton, Mbak Rey, saya suka film bagus makanya menulis ulasan itu. Film jelek mah bikin malas diulas.
      Bagusnya memang nonton sendirian atau bareng suami agar kian romantis. Saya juga senang nonton bareng suami, apalagi kalau film yang kami tonton romantis. Biar tetap mesra, ha ha.

      Hapus
  2. Ini review Film yach Mbak.... soalnya saya jadi binggung, maklum ngak gaul, hahahah....

    Tapi penyajian artikelnya oke banget Mbak.... layak viral nich. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biasanya kalau saya menulis judul yang ada English-nya, bisa jadi itu ulasan film atau buku. Semoga Kang Nata asyik saja bacanya. Atau tambah gaul bahwa ada film yang bisa bikin kaum hawa mewek., ha ha.

      Terima kasih jika penyajian saya dianggap oke, saya berusaha keras agar tak spoiler, agar yang baca penasaran pada isinya namun tetap tak tahu ending-nya gimana. Cuma dapat gambaran adegan dan jalan cerita, namun tentunya jangan dibikin detail. Yang baca ulasan pasti tak mau dapat bocoran yang bisa bikin kehilangan selera nontonnya, ha ha.

      Hapus

Terima kasih sudah singgah, silakan tinggalkan jejak komentar sebagai tanda persahabatan agar saya bisa lakukan kunjungan balik. Komentar sebaiknya relevan dengan isi tulisan. Bukan link hidup dan mati, apalagi iklan karena termasuk spam.Terima kasih banyak. Salam. Rohyati Sofjan

Belajar dari Sesama Ibu Rumah Tangga Penulis

MENJADI   ibu rumah tangga dengan profesi penulis sebagai tambahan kegiatan sekaligus sumber nafkah bukanlah perkara mudah, namun bu...