Jumat, 04 Januari 2019

Kata Ulang Milenial




MENDADAK gegara dan tetiba menggugah kesadaran saya akan fenomena berbahasa zaman sekarang. Kata itu menjadi diksi populer di sebagian kalangan yang senang berimprovisasi dengan menggunakan kaidah suka-suka kala berbahasa lisan atau tulisan dengan sesamanya.
Adalah Pak Uksu Suhardi yang membuka forum diskusi dalam lapak status terbaru yang tayang pula di beranda Facebook saya. “Sebagian orang berbahasa dengan latah. Hasilnya adalah deretan kata seperti ini: gegara dikorankan tetiba dipolisikan….”

Kalimat itu terasa lucu dan janggal, namun lucunya pula dianggap hal lumrah bagi sebagian penggunanya yang menganut asas gegara dan tetiba. Mereka paham arti meski secara kaidah diksi tersebut terasa membingungkan pihak lain yang tak menganut asas manasuka.
Gegara bermakna gara-gara (kata ulang semu). Dan sebagai kata ulang semu yang diubahsuai jadi dwipurwa/kata ulang sebagian, itu terasa membingungkan.
Entah siapa pelopornya dan sejak kapan hal tersebut bermula. Yang jelas, gegara dan tetiba mendadak populer sebagai kata pilihan yang sedang hits di era milenial. Lalu KBBI 5 pun memasukkannya sebagai kata turunan untuk bahasa cakapan.

Jika Pak Uksu menyebutnya sebagai semacam latah, itu berkaitan dengan penyebaran diksi demikian dalam populasi insan yang beranggapan bahwa latah itu sah-sah saja karena seakan menjadi bagian kaum gaul masa kini di era milenial, siapa pun mereka dan berapa pun usianya, bagaimanapun strata pendidikan dan status sosialnya.
Harap perhatian agar tak ikut terpeleset menggunakan kata ulang dwilingga yang dipaksakan jadi dwipurwa serampangan, semisal sah-sah saja jadi sesah saja. Itu akan membawa salah paham karena dalam bahasa Sunda sesah bermakna susah.
Ada banyak alasan yang akan disemburkan para pemakai bahasa gaul masa kini, salah satunya praktis dan suka-sukalah. Sesukanya yang saya harap akhiran -nya tidak dihilangkan jadi sesuka karena ketiadaan objek akan membingungkan. Jadi sesuka siapa?
Sama seperti gegara dan tetiba, apakah kata ulang tersebut meniru lelaki dari laki-laki? Menghilangkan dua suku kata dari kata ulang pertama dan mengganti huruf a jadi e seperti contoh kasus di atas sepertinya seakan jadi hiper. Bukan hiperbola atau hiperbolik yang berkaitan dengan gaya bahasa berlebihan, ataupun hiperkorek yang berkaitan dengan keterangan berlebihan, melainkan gaya hidup yang dilebihkan dalam berbahasa: serbasingkat! Contoh kalimat yang dipaparkan Pak Uksu, gegara dikorankan tetiba dipolisikan, itu adalah semacam penghematan kata yang luar biasa.
Pada dasarnya bahasa Indonesia akan terus berkembang sesuai perubahan zaman, dan bisa jadi para ahli bahasa harus berjuang keras sepanjang zaman untuk mengingatkan agar generasi selanjutnya tak lupa akar. Hanya karena pengabaian kaidah yang banyak dilakukan generasi sebelumnya.***
Cipeujeuh, 6 Agustus 2018
Dimuat di H.U. Pikiran Rakyat, 2 September 2018
#Bahasa #Linguistik #Gegara #Tetiba #Milenial #UksuSuhardi #WisataBahasa #PikiranRakyat #2018
~Foto dari Pak Imam JP

4 komentar:

  1. Hahaha .., unik juga ya kak istilah gegara dan tetiba itu
    Masyarakat negara kita memang dikenal suka mempersingkat kata, contohnya : maksi (makan siang).

    Kata2 unik itu pasti karya para abg :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, unik, dan para remaja yang bikin istilah demikian adalah insan kreatif. Dalam berbahasa selalu ringkas dan sesuai dengan jiwanya yang bebas ingin memberontak dari pakem yang ada.
      Sayangnya, istilah tersebut bisa menimbulkan salah paham. Maksi bisa dianggap singkatan dari maksimum di zaman saya, para emak-emak, dan remaja sekarang mengartikannya sebagai makan siang. Makanya bikin bingung gererasi tua, ha ha.
      Saya baru tahu istilah maksi dari Mas Hino, maklum saya kudet dan tak gaul dengan para remaja sekarang di sekitar rumah. Mamah-mamah mah bukan teman main yang asyik bagi mereka, 'kali. Ha ha.

      Hapus
  2. wkwkwkkwwk ngakak.
    Jadi sebenarnya kata 'gegara' dan 'tetiba' itu ada gak sih mba dalam KBBI?

    ngakak juga baca komen mba di atas, 'maksi' adalah 'makan siang'.
    Lah saya juga pikir maksi itu ya makan siang.

    Kalau saya sering banget tanpa sadar ketularan mba, pakai bahasa aneh gitu, selain lebih praktis, saya rasa lebih baik ketimbang nulis 'tiba2' atau 'gara2' wkwkwk

    Btw saya jadi ingat waktu dulu belum nikah dan masih kerja, saya jadi jujugan orang-orang kantor tentang bahasa gaul dalam mengirim pesan.

    Kayak GPL, mereka malu nanya ama si pengirim, apaan tuh GPL, jadi nanya ke saya, "Rey, GPL itu apa sih?"

    Dan banyak istilah-istilah baru lainnya.

    Mereka pikir saya keren, selalu update hal-hal kekinian, mereka gak tau aja, setiap kali mereka nanya, saya yang sedang di depan komputer langsung buka Google, lalu tanya Google wakakakak

    Sekarang makin banyak aja loh mba yang disingkat 'mantul = mantap betul' , 'kunbal = kunjungan balik' dll.

    Bahkan saya dong sering nulis julid, giliran ditanya temen di komen, mbak Rey, apa itu julid, saya nganga aja, terus buka Google, eh ternyata itu dari kata-kata Sunda 'binjulid' yak hahaha

    Sering nulis tapi ga tau artinya muahahahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di zaman saya remaja mah istilah maksi memang singkatan dari maksimal atau maksimum, Mbak Rey. Berarti habis-habisan. Aduduh, beda generasi beda pula pengartian bahasanya. Dului mah tertib mengartikan sesuatu, sekarang mah serba bahasa kode, singkatan semakin dianggap wajar dan kerap dipakai. maka terngangalah generasi X karena maknanya beda antara darat dan laut, ha ha.
      Harusnya saya juga cari di google tentang arti kata yang ajaib, namun dasar polos, saya pikir itu bajasa Indonesia atau daerah, ha ha. Dan julid, entah bagaimana muasalnya hingga disingkat dari binjulid. Saya yang orang Sunda saja tak paham ada kata demikian. Soalnya, kata negatif jarang dipakai saya. Sayang memang jika kata negatif dalam bahasa daerah malah populer.
      GPL, hem, saya juga tak tahu itu apa. Tak pernah pakai dan tak pernah baca. Kayaknya saya harus gugling juga agar tak kudet., ha ha.
      Bahas bahasa sebenarnya asyik, kok, Mbak Rey. Soalnya menyangkut fenomena keseharian dalam masyarakat kita. Makanya saya senang menulis esai bahasa daripada fiksi. Fiksi mah harus ngarang, kalau esai bahasa sesuatu yang dekat dan disarikan dari sekitar.

      Hapus

Terima kasih sudah singgah, silakan tinggalkan jejak komentar sebagai tanda persahabatan agar saya bisa lakukan kunjungan balik. Komentar sebaiknya relevan dengan isi tulisan. Bukan link hidup dan mati, apalagi iklan karena termasuk spam.Terima kasih banyak. Salam. Rohyati Sofjan

99.Co Indonesia, Prortal Jual Beli Properti Abad 21

HALANGAN terbesar selama ini dalam mencari atau menjual properti adalah keterbatasan informasi. Tidak heran, jual beli properti bukan...