Jumat, 04 Januari 2019

Cerita Renyah yang Bernas



Cerita renyah adalah cerita ringan yang mudah dicerna pembaca, dan disampaikan dalam pilihan bahasa yang segar pula. Dengan demikian pembaca mudah memahami isi cerita tanpa perlu berkerut-kening memikirkannya. Tinggal dinikmati secara mengalir sesuai dengan jalan cerita yang bergulir.

DATA BUKU      : Bukan Pangeran Kodok
PENULIS            : Shabrina Ws, Riawani Elyta, Sari Yulianti, dkk.
PENERBIT          : Sheila (Imprint Penerbit ANDI)
CETAKAN           : I, 2013
TEBAL                : vi + 226 Halaman
ISBN                    : 978-979-29-2136-6
HARGA               : Hadiah Kuis Buku di Facebook


BUKAN PANGERAN KODOK masuk ranah cerita yang dipaparkan di atas. Renyah namun memiliki kelebihan karena disampaikan secara bernas pula. Be a Writer (BAW) benar-benar serius menggarap isi sehingga dari kurasi Shabrina Ws terpilihlah 15 cerpen kategori teenlit yang menghibur sekaligus mendidik dari anggota group kepenulisan asuhan Leyla Hana tersebut.
Mereka benar-benar paham bagaimana menulis cerita, memperlakukan bahasa, dan membuat tegangan aneka twist ending yang beragam. Balutan Islami menyertai kumcer yang ditujukan untuk remaja. Ada nuansa riang khas dunia remaja, sekaligus muram karena mereka melakoni hal yang tidak sama di Nusantara ini.



15 cerpenis yang terpilih berikut karyanya benar-benar pilihan yang disaring secara ketat, dan memiliki jam terbang cukup tinggi sehingga pembaca akan benar-benar diajak melanglangi dunia imajinasi mereka seakan nyata. Tanpa melupakan nilai-nilai kehidupan pula.

“Jejaring Romansa” karya Keenan Naura memaparkan adonan dunia remaja, pacaran, antipacaran karena berupaya mengusung nilai Islami, sampai hacker yang membajak akun jejaring sosial tokoh utama sebagai upaya balas dendam salah tempat.
Keenan tahu bagaimana menyusun dialog khas remaja yang segar namun ia membingkainya dalam narasi yang berbobot sehingga pengadegannya menyadarkan kita akan nuansa twist. Ada kejutan yang manis di akhir cerita.
Namun kejutan di akhir cerita tak selalu manis, Nila Kaltia membuat twist ending yang tragis. Tokoh akuan, sang stalker yang membayang tokoh diaan ternyata virus maut HIV yang telah menginfeksi Celeste, remaja Papua 17 tahun yang menjadi korban perkosaan dari penyebar virus HIV. Gadis bermasa depan cemerlang itu seakan harus menyongsong kesuraman hidupnya sendirian sebagai ”Cenderawasih Patah Sayap”, namun  ia berupaya tetap tegar.
Nila meramu cerita dengan balutan bahasa yang indah berikut lokalitas budaya Papua. Mitos mengenai Raja Ampat bukan sekadar pelengkap melainkan penguat.
Konon, dahulu kala, hiduplah seorang wanita yang menemukan tujuh butir telur. Empat butir di antaranya menetas menjadi empat orang pangeran yang kemudian berpisah dan memerintah sebagai raja di empat tempat yang berbeda: Waigeo, Salawati, Misool Timur, dan Misool Barat. Itulah konon daerah tersebut dinamakan Raja Ampat. Tiga telur yang lain menjelma seorang putri, sebuah batu, dan hantu.
Rupa hantu ditafsirkan Nila sebagai penyakit masa kini yang senantiasa mengintai: virus HIV yang akan bermetamorfosis sebagai AIDS!
Remaja pun bisa mengalami peristiwa konyol karena mereka labil dalam menafsirkan perasaan dan hubungan berbeda jenis kelamin. Dilambungkan asa karena kebaikan seseorang yang dikagumi, dan semua tak lebih dari “Cinta Salah Tempat”.
Linda Satibi menggambarkan dunia Fe yang riang harus jungkir-balik akibat cinta bertepuk sebelah tangan alias cinta sepihak. Optimismenya bahwa ia akan bisa menggebet sang gebetan mendadak blaaar buyar karena subjek cinta sepihaknya akan menikahi perempuan lain.
Klise? Tidak juga. Itu memang kisah klise yang bisa dialami siapa saja, termasuk saya juga kala remaja, kok, he he. Yang terpenting, Linda sebagai pencerita mengemas ceritanya dengan renyah namun tak klise. Ada twist Chekov’s gun yang ditembakkan pada saat tak terduga, namun tokoh utama tak terus menggalau. Melampiaskan patah hatinya pada hal positif. Apa itu? Baca saja kumcer Bukan Pangeran Kodok agar tahu bagaimana beragamnya pilihan hidup yang gadis remaja masa sekarang ambil.
Namun Bukan Pangeran Kodok tidak melulu mengajak pembaca melihat dunia remaja dalam satu kacamata, ada banyak ragam kehidupan lain yang dialami remaja. Termasuk salah pilih jalan sehingga nyawa direnggut anorexia nervosa, Riawani Elyta memaparkan tragedi itu dalam “Dia yang Kembali Tersenyum”, sebagai pengingat bagi remaja agar tak dibutakan cinta dan tampilan luar semata sehingga menzalimi tubuh dan jiwa.
Ada banyak remaja yang tidak tahu mengenai bahayanya cara hidup demikian, ambisi mereka mengalahkan rasionalitas. Pengarang tak berpretensi mengubah manusia dengan cara menggurui, tugas pengarang cuma memaparkan cerita yang menggugah relung kesadaran manusia.



Permasalahan utama remaja memang kebanyakan soal cinta, dan rata-rata penulis kumcer ini mengemas tema cinta dengan beragam lakuan. Arul Chandrana memaparkan tumpah-ruahnya kemarahan seorang remaja cowok karena sahabat cewek pacaran dengan cowok lain (“Kita dan Rasa yang Diam-diam”). Lucu sekali cara Arul menarasikannya, berikut twist tak terduga.
Twist ending adalah senjata utama pengarang agar pembaca penasaran sekaligus tak bosan. Elemen kejutan penunjang psikologi cerita untuk menggiring pembaca menyelesaikan bacaannya. Itu dilakukan Vita Sophia Dhini dengan tokoh Abe yang bisa karate dalam mengharap cinta tak mesti terwujud sekarang (“Just Friend”). Binta Almamba mengharuskan “Bukan Arjuna” pergi demi menggapai cita yang lebih baik, meninggalkan seorang gadis angkuh menyesali diri. “Lima Ratus Kilometer” rela ditempuh seorang gadis demi menemui pacar mayanya, dan ternyata, lagi-lagi Chekov’s gun dimainkan Dhewi Bayu Larasati. Sebaliknya Sari Yulianti bermain dengan twist jenis discovery dalam “Little Heartbeat for Little Friend”. Telanjur GR yang berbuah penyesalan karena rambut harus jadi korban.
Teenlit adalah bacaan yang dikhususkan untuk remaja belasan tahun, dan sifat menghibur sekaligus mendidik bisa menuntun remaja untuk mengenal ada banyak ragam kehidupan di luar sana. Membantu remaja untuk menemukan arah dalam pengenalan jati dirinya, sekaligus tak salah langkah.
Terlalu banyak gadis remaja yang alami hamil di luar nikah akibat kebablasan dalam pacaran. “Metamorfosis Cinta” menokohkan pelaku tersebut layak mendapat empati ketimbang hujatan. Nda Syahdu memaparkan itu dengan muram.
Karena itu, banyak ayah yang bertipe over protected terhadap anak gadisnya dengan pertimbangan lebih baik mencegah daripada telanjur berbuat salah. Santi Artanti dalam “Kutunggu Kau di Sini” menjelaskan mengapa Pak Rustam ayah aku-tokoh berprinsip demikian.
“Memiliki anak perempuan itu bagaikan memegang telur di ujung tanduk. Kalau terlalu kuat dipegang, ia bisa tertusuk tanduk. Kalau dilepaskan, ia bisa jatuh, pyaaar… pecah!”
Bagi seorang anak, figur ayah tetap pahlawan tak tergantikan meski telah tiada. Tragisme semacam itu dipaparkan Nyi Penengah Dewanti dalam “Tongkat Bambu Kuning Ayah” dengan getir. Seorang ayah yang ditinggal kabur istrinya tetap bekerja keras demi tiga orang anak-anaknya. Dan anak-anak tetap mencintai kenangan akan ayah, menolak serumah dengan ibu mereka yang mendadak datang dari kota membawa segala kemewahan asing.
Orangtua adalah penopang utama hidup anak, bukan sekadar aksentuasi semata. Bukan Pangeran Kodok selalu menyertakan figur orangtua dalam ceritanya. Entah tunggal atau utuh. Sebagai pengingat bagaimana pentingnya peran orangtua dalam hidup remaja pula. Karena pentingnya, seorang gadis remaja dengan akalnya berupaya membantu ayahnya untuk menemukan siapa pencuri cabai di ladang mereka.
Syila Fatar dengan “Gadis Simpul” secara orisinal bertutur bahwa ikut kepanduan (Pramuka) ternyata banyak gunanya. Selain beroleh pengalaman juga keahlian yang kelak bisa membantunya untuk menangkap maling. Namun, karena teenlit, ada juga romansanya yang dirasa pahit setelah sang maling terungkap.
Potensi diri sebagai gadis remaja harus terus diasah dengan beragam cara. Ade Anita dengan “My Name is Dewi” berupaya mengasah pembaca untuk percaya diri dalam menggali potensi. Meski dalam melakukan hal sederhana yang dianggap mudah -- yang tak semudah perkiraan. Moto Ade layak diterapkan: Never give up. We have choose our dream until it becomes reality.
Ada yang suka dongeng? “Bukan Pangeran Kodok” bukanlah dongeng mengenai sang pangeran yang diubahwujud jadi kodok oleh penyihir jahat entah mana. Shabrina Ws cuma terinspirasi oleh kodok yang masuk ke dapur lantas gila-gilaan mengimajinasikannya secara rada absurd dengan tokoh rekaannya.
Bagaimana seekor kodok yang kesasar bisa mengubah seorang gadis perisau karena tak punya pacar untuk lebih berprestasi dan cinta lingkungan. Jadi pencinta kodok, gitu.
Itu menjadi cerita penutup bagi kumcer Bukan Pangeran Kodok. Sebuah kumcer yang layak dikoleksi karena menyajikan cerita secara renyah sekaligus bernas. Kelebihan kumcer dalam bentuk antologi bersama adalah beragamnya kisahan dan gaya bertutur pengarang yang membawa cetakan dasar masing-masing.(*)
Cipeujeuh, 22 Januari 2018
#ResensiBuku #BukanPangeranKodok #PenerbitSheila #Kumcer #BeAWriter
#Foto sampul buku dari penerbit







24 komentar:

  1. wah asiknya dapet hadiah kuis.. hehe..

    kalau dipasaran harganya brp ya mba? saya lama banget nih udah gak baca buku kayak begini. sekarang lebih seringnya baca-baca buku parenting. hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, Mbak Thya. Soal harga, saya sendiri tak tahu, karena buku lama. Akhir tahun 2013 terbitnya dan pertengahan tahun 2014 dapatnya. Entah apakah di pasaran amsih ada. Silakan cek di Google, barangkali ada yang jual itu.
      Kalau saya, sih, tak akan jual buku hadiah, hi hi. Suka dan jadi kenangan. Lagian untuk Palung nantinya.

      Hapus
  2. wkwkwkw, kok lucu ya mba ceritanya hhaha
    Zaman sekarang banyak buku antologi yang keren-keren ya, ceritanya juga beneran kata mba, renyah banget hahaha.
    Baru baca sekilas reviewnya saya sudah mau ngakak aja, jadi pengen baca semuanya.
    Itu pangeran kodok ngapain pula nyasar di dapur, gak takut kena api apa hahaha. ada-ada saja imajinasi pengarangnya ya :D

    Kayaknya saya pas banget nih baca bacaan ringan gini, gak butuh waktu lama untuk selesaikan, hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukurlah ada yang terhibur dengan cara penyampaian saya. Padahal kalau baca bukunya lebih dobel terhiburnya. Hu hu. Sayang banget mereka tak bikin antologi keren lagi, para anggota grup Baw, soalnya sudah bubar. Namun ada banyak penulisnya yang sudah maju banget serta punya buku solo.
      Kodoknya nginspirasi. Mbak Rey juga bisa tulis apa saja. Kalau kodok di dekat rumah saya hobi konser sambil berjajar di jalan setapak. Haduh, ngapain mejeng di tengah jalan gitu, tak takut terinjak kala malam. Jadilah saya harus ekstra siaga dengan senter kalau hendak ke warung malam-malam, maklum rumah di tengah kebun.
      Bukunya asyik buat yang lagi bete.

      Hapus
  3. Jadi kepengen baca juga. Pastilah keren, penulisnya juga senior semua. Itu group di FB atau WA Mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. BaW itu grup FB, sayang sudah bubar padahal bagus juga pengelolaannya. Sekarang sulit cari grup FB yang dinamis, mungkin beralih ke WA. Padahal saya malas ikut grup WA banyak-banyak, nanti bikin ponsel sibuk.
      Penulisnya keren dan sekarang nama-nama ity sudah senior serta produktif berkarya. Pokoknya matang berkat mengasah diri. Semoga Mbak Ida bisa baca bukunya, ya. Harusnya buku itu masih ada di pasaran. Entah toko daring (dalam jaringan/online).

      Hapus
  4. Wah ini antalogi yang ditulis oleh penulis-penulis keren ya, beberapa kenal juga pernah baca karyanya. Baca sedikit review tentang pangeran kodok aku jadi tertarik baca bukunya

    BalasHapus
  5. Antologi yang membawa saya jauh masuk kembali ke kenangan tahun 2010 2011 nih. Masa saat suka ikut nulis cerpen dibukukan meski indi, dan jualan sendiri. Hehehe...
    Sekarang sudah lebih nyaman di blog. Nyerpen nya sesekali saja jadinya

    BalasHapus
  6. dari ceritanya bukunya bagus ya, mbak leyla sama mbak riawani mentor nulis keren emang nih, aku juga pernah ikut pelatihan onlinenya

    BalasHapus
  7. Bernas itu artinya apa ya mba? aku kurang paham soal buku dan tulis menulis.. tapi memang cerita romansa masa remaja sangat berkesan ya.. akupun sudah usia tidak muda lagi, masih suka cerpen romansa remaja

    BalasHapus
  8. This must give you a different point of you and another perspective of the story. I would love to read it this book myself

    BalasHapus
  9. Kumpulan cerita begini bikin bacaan seru deh ya mbak, banyak ide cerita, karakter, dan yg pasti pembawaan penulisnya dalam menyampaikan kisah. Saya jadi penasaran mau baca langsung

    BalasHapus
  10. Aku dulu suka baca ginian, sekarang agak krndor yaa. Nanti mau cari juga ah. Btw, BAW masih ada saja. Kirain sudah out kaya komunitas2 lain. Selamat dan sukses deh

    BalasHapus
  11. Waah saya kenal hampir semua penulisnya. Semuanya penulis yang masih aktif sampai sekarang dan memang keren-keren tulisannya.

    BalasHapus
  12. hey, itu Mbak Leyla Hana yang sekarang aktif ngeblog? Wah, coba Mbak Leyla bikin antologi kek gini untuk para blogger.

    BalasHapus
  13. WAh kalo penulis BAW mah kece semua. Dulu aku juga gabung tapi sebagai penggembira, hehee. Selama ini juga udah sering baca karya penulis yang ada di buku ini

    BalasHapus
  14. Saya pernah bertemu dengan mbak Shabrina WS di workshop penulis buku bacaan anak, ikut imut dan humble banget. Langganan menang lomba cerpen beliau ya, jadi tahulah kapasitasnya menjadi kurator dalam pemilihan kumpulan cerpen dalam buku ini. Jadi penasaran sama isinya.

    BalasHapus
  15. Saya juga sudah pernah baca buku ini
    Sedikit ringan dibanding bacaan saya lainnya yang tebal tebal

    BalasHapus
  16. Wah asyik nih saya kayaknya ga pernah bikin cerpen lagi sejak smp duh dah lama banget ya. Baca ini jd pengen nyoba..

    BalasHapus
  17. wah jadi nostalgia dengan BAW. Sekarang saya sendiri udah gak pernah nulis cerpen lagi. Udah gak sanggup mengkhayal nih.

    BalasHapus
  18. penulis-penulis BAW semun=anya keren-keren, tulisannya bagus-bagus, jadi saya yakin antologi ini juga pasti menghibur banget :)

    BalasHapus
  19. Aku sering memilih buku yang aku baca, kak...
    Soalnya kalau baca suka ga bisa berhenti.
    Nah...agak kesulitan sebenarnya ketika membaca antologi.

    Tapi,
    mungkin beda kalau antologi itu berupa kumcer yaa..

    BalasHapus
  20. Wah kumcer ya ternyata, kukira cerita anak dari covernya. Hehe. Agak imajinatif juga ya ceritanya

    BalasHapus
  21. Wah jadi pengin nyari buku antologinya, penasaran sama isinya. sudut pandang banyak penulis dari sebuah karya antologi.

    BalasHapus

Terima kasih sudah singgah, silakan tinggalkan jejak komentar sebagai tanda persahabatan agar saya bisa lakukan kunjungan balik. Komentar sebaiknya relevan dengan isi tulisan. Nama komentator tidak langsung mengarah ke URL pos blog agar tidak menambah beban jumlah link pemilik blog ini. Jangan sertakan link hidup dan mati, apalagi iklan karena termasuk spam.Terima kasih banyak. Salam. @rohyatisofjan

Rindu Pangandaran? Jadikan Traveloka Xperience sebagai Pegangan

Suasana Pantai Barat Pangandaran Menjelang Senja PANGANDARAN adalah rumah ketiga saya, setelah Bandung sebagai tanah kelahiran dan ...