12 Tahun Belajar Inklusif di Sekolah Umum

.

SAYA selalu merasa tersesat kala membaur dalam lingkungan orang yang berpendengaran normal. Sejak kecil dan masa dewasa lajang kesepian tanpa pasangan. Hal itu membuat saya merasa asing sendiri seakan alien kesasar terdampar di pasar. Tentu saja, sunyi membuat saya seakan terpisah atau memisahkan diri dari lingkungan pergaulan sekitar. Situasilah yang memaksa demikian.

Kemarin kala saya tayangkan tulisan “Sebab Dunia Sunyi Bukan untuk Membuatku Berkecil Hati”, ada teman yang tanya bagaimana kisahnya saya sekolah tanpa alat bantu dengar.
Oh, itu bukan hal yang mudah dijalani. Rasanya sangat-sangat-sangat berat. Apalagi kala masih SD Kiaracondong 1, Bandung, fase itu paling berat bagi anak kecil macam saya. Saya lebih banyak bolosnya daripada sekolah. Selalu saja ke sana ke mari dari rumah sakit ke rumah sakit lain, sampai dari dukun satu yang katanya manjur ke dukun lain yang bikin saya ancur.
Berobat ke dokter butuh pemahaman dan rujukan dari ahli spesialis agar paham apa yang terjadi pada telinga saya. Namun hal itu tak dilakukan ibu dengan benar, seasalnya. Bapak juga terlalu sibuk kerja dan kurang memperhatikan keluarga dengan benar, jadi ada anak-anak yang terabaikan pola asuhnya karena sang ibu lebih asyik dengan dunianya yang orientasi pada duit melulu untuk dipamerkan, ketimbang memperhatikan tumbuh kembang anak sepenuh kasih sayang.
Bapak itu pendidikannya tinggi, mengapa membiarkan ibu membawa saya mendatangi aneka dukun? Rasanya benci dan muak sekali. Saya anak kecil tak berdaya harus mengikuti kehendak orang yang berpikiran klenik, lah dianya juga memang sangat suka pada hal mistik-klenik dalam keseharian, sesuatu yang bisa dibilang tak masuk akal dan menjurus musyrik. Sedang suaminya kurang memiliki pemahaman agama Islam jadi tak bisa jadi qowwam yang menyeimbangkan.  

BACA JUGA: Menjadi Penulis Sekaligus Narablog? Pasti Bisa!

Saya sendiri tak ingat bagaimana muasalnya hingga bisa kehilangan fingsi pendengaran, secara pelan namun pasti sehingga sekarang saya tuli total. Yang saya ingat, sangat tidak menyenangkan belajar di sekolah umum bagi seorang anak kecil yang butuh penanganan khusus.
Karena itu, saya banyak bolosnya. Tak bahagia di sekolah, selalu merasa asing. Tak paham dengan apa yang diterangkan guru, dan tak bisa jika harus menulis pelajaran dari yang didiktekan guru. Untuk itu, saya harus melihat tulisan dari teman sebangku.
Banyak bolos ditambah tak bisa mendengarkan pelajaran yang diterangkan guru sungguh membuat saya sangat frustrasi. Rasanya penghargaan diri saya rendah sekali. Saya butuh lingkungan yang aman dan nyaman agar betah belajar. Saya memang masih memiliki kemampuan untuk membaca gerakan bibir dan mulut lawan bicara berkat interaksi yang kerap dilakukan dengan lingkungan sekitar, namun itu tidak cukup bagi seorang anak kecil yang butuh penanganan khusus.
Kala itu pada tahun 1981 sampai 1987 saya adalah anak kecil yang seakan menjelma alien dan kerap terima penolakan dari lingkungan sekitar. Jadi, meski sekolah masih bisa menerima saya untuk belajar, rasanya seperti bobohongan karena saya tak sungguh-sungguh belajar. Belajar yang sesungguhnya hanyalah dari banyak membaca buku, koran, majalah atau apa saja di luar sekolah.
Toh, saya lulus juga. Barangkali dengan kemudahan karena alangkah melelahkannya bagi pihak sekolah jiika terus menahan saya di sana untuk belajar. Namun bukan berarti tahap selanjutnya akan mudah.    
Saya harus mengalami 3 tahun masa vakum sekolah, tak bisa melanjutkan karena seharusnya ke sekolah luar biasa (SLB) bukan sekolah umum. Saya sudah bilang pada ibu, namun entah dengan alasan apa ibu tak mengizinkan anak perempuan satu-satunya untuk belajar di sana. Seakan kurang peduli pada masa depan anak karena terlalu mengedepankan egoisme dirinya yang berlebihan.
Hidup kami saat itu sulit karena bapak sudah pensiun sebagai PNS di PJKA (sekarang PT KA Indonesia). Yah, ibu punya banyak andil dalam melemahkan sendi perekonomian keluarga dengan sifat mubazirnya yang sudah mendarah daging, selalu hidup demi kesenangan masa sekarang dan tak mau tahu kalau kelak masa depan akan sulit karena pola hidup demikian. Tak punya tabungan, perabotan rumah pun tak bertambah. Uang belanja bulanan amanat suami habis karena gaya hidupnya? Gampang, tinggal berutang ke rentenir yang dikenal tanpa setahu suami tentunya. Gaji bapak yang menjabat sebagai kepala yang mengurus penghitungan gaji karyawan seakan tak pernah cukup bagi ibu meski lumayan besar. Padahal gaya hidup bapak sederhana, baju kantornya cuma beberapa helai, barangkali selusinan di lemari. Punya ibu bisa numpuk puluhan, sedangkan punya anak-anaknya tak seberapa dan dibelikan baju setahun sekali jelang lebaran.
Setelah masa tiga tahun yang sulit bagi saya, alhamdulillah, ada sekolah di kampung ibu yang terima saya untuk belajar di sana meski secara resmi keluarga kami masih tinggal di Bandung namun punya rumah di kampung.
Saya punya tekad tersendiri dengan serius belajar setelah alami masa tiga tahun yang hilang. Bersyukur karena MTs. YPI Ciwangi bersedia menerima saya untuk belajar, meski tak pakai alat bantu dengar. Sesuatu yang entah mengapa diabaikan orang tua namun mereka mampu membangun rumah permanen di kampung. Seakan gengsi lebih penting daripada kehidupan anak yang membutuhkan alat bantu dengar.
Saya tetap alami kesulitan dalam belajar sebagaimana biasanya untuk memahami penjelasan guru yang menerangkan pelajaran, namun syukurnya teman-teman banyak membantu. Teman sebangku mengizinkan saya melihat tulisannya kala guru mendiktekan pelajaran.
Rasanya aneh, guru mendiktekan pelajaran, saya ikut mencatat sambil melihat buku tulis teman yang sambil mencatat. Lebih nyaman jika saya berada di posisi kanan karena akan memudahkan saya mencatat. Saya dan teman sebangku tak kidal, jadi posisi terbaik bagi saya agar tak mengganggunya adalah di sebelah kanan.
Rasanya tak enak juga karena harus bergantung pada teman sebangku atau teman lain untuk itu. Syukurnya mereka mengerti dan sangat membantu. Pun guru-gurunya paham akan keterbatasan saya.
Jadi, bagaimana caranya agar saya tetap punya nilai bagus dan malah berprestasi? Dapat peringkat kedua di kelas kecil yang muridnya hanya belasan karena sekolah itu baru berdiri?
Belajar sendiri lewat banyak membacalah yang membantu saya demikian. Mudah mencerap pelajaran dan daya ingat kuat. Saya tak menyadari bahwa home schooling sendirian secara terpaksa selama 3 tahun setamat SD ini besar pengaruhnya. Atau karena usia saya 3 tahun lebih tua daripada teman-teman sekelas, jadi lebih mudah memahami sesuatu dalam pandangan remaja 15 tahun?
Sayang, saya hanya setahun saja belajar di MTs., ibu memaksa bapak agar jual rumah di Babakan Sari untuk membangun rumah baru di Babakan Sumedang. Ibu senang berpindah-pindah rumah tanpa pertimbangan matang. Dan rumah yang di kampung pun dijual demi tambahan dana untuk membangun rumah di tempat baru. Akibatnya sekolah saya lagi-lagi terancam. Saya terpaksa mengikuti orang tua pindah rumah meski bingung adakah sekolah yang akan menerima saya di Bandung. Dan ternyata ibu berbohong dengan mengatakan sudah ada sekolah yang menerima saya. Namun Allah masih melindungi saya, SMP Muhammadiyah 8 Antapani, Bandung yang dekat kawasan Babakan Sumedang bersedia menerima saya, belajar di sana sebagai murid khusus.
Sudah dulu kisah ini, semoga nanti bisa saya lanjutkan dengan kisah masa SMP di Bandung, lalu SMU di Balubur Limbangan, Garut. Kepala saya pening. Efek kurang tidur.
Selamat malam dan salam.
12 Januari 2019
#Kisah #Kenangan #Sekolah #PendidikanInklusif #SHSTJanuari 12
Foto hasil Jepretan kamera ponsel ANDROMAX PRIME

Komentar

  1. Istirahat mbak kalon kurang tidur, hehehe
    ditunggu kisah inspriratif saat SMA ny mbak, sepertinya seru, yang pasti sekarang bia menjadi orang yg inspiratif bagi setiap orang ya mbak, malah mempunyai nilai lebih. Semangat mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ya, Mas Adhi. Gak bagus juga saya sekarang ini, berpengaruh pada isi tulisan. Kurang tidur kala malam bikin siangnya sayua jadi lesu damn pengantuk.
      Terima kasih/

      Hapus
  2. Teteh, hebat. Dengan segala keistimewaannya, saya kagum.
    Percayalah, semakin berat beban yang dipikul, semakin kuat pula pondasi mental kita.
    Teruslah menginspirasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hanya orang biasa yang dibuat berbeda, Teh Anggi. Beban hidup kita ada takarannya masing0masing dan tak bisa digeneralisasikan. Yah, semoha saya bisa lebih kuat dan bermanfaat. Hatur nuhun.

      Hapus
  3. Teteh, hebat. Dengan segala keistimewaannya, saya kagum.
    Percayalah, semakin berat beban yang dipikul, semakin kuat pula pondasi mental kita.
    Teruslah menginspirasi.

    BalasHapus
  4. Setelah membaca tulisan diatas, saya sangat terharu sekali Mbak...

    Saya akui tidak mudah menjadi seorang " Rohyatisofyan ".

    1. Mbak sudah sangat hebat sekali, karena dibalik keterbatasan itu, Mbak bisa menulis dengan sangat baik sekali, sehingga karya tulisan Mbak, bisa dimuat di banyak Surat Kabar.Mungkin di dunia menulis ada jalan rezeki buat mbak, silakan di kembangkan tulisan Mbak.

    2. Setiap ujian tertentu akan dititipakan hanya kepada Hambanya yang mampu, dan Mbak sudah membuktikannya.

    3. Di balik ujian ini, mungkin Allah SWT, ingin Menghindarkan Mbak dari pendengaran yang berbau dosa.

    4. Coba dech Mbak belajar menghafal Al _ Quran, mudah2an dengan amalan itu akan mengantarkan Mbak bisa merasakan sesuatu yang indah.

    5. Pernah coba , pakai alat bantu dengar Mbak ?

    6. Maafkan dan doakan kebaikan buat orang tua, walau ia mengecewakan kita, Agar Allah SWT memberikan rahmat buat kita semua.

    7. Maaf Mbak, saya sok menasehati, heheheh...... senyum dong..... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pernah coba pakali alat bantu dengar di klinik King Aid sebagai ujicoba, cuma ortu tak menindaklanjutinya. Uang malah dipakai ibu untuk hal lain. Padahal bapak sudah susah payah kumpulin uangnya. Saya tersenyum, Kang. Dan terima kasih atas nasihatnya. Saya belum terpikirtkan untuk menghafal Al Quran meski beberapa kali khatam. Berat juga untuk jadi hafizah itu karena niat saya kurang kuat untuk demikian. Yaasin saja hafalnya separuh. Itu berkat baca berulang-ulang. Jadi terpikirkan bahwa Palung mulai sekarang harus hafal Yaasin juga agar terbiasa.
      Kadang saya mensyukuri bahwa indra saya terjaga dari pendengaran yang tidak-tidak. Memaafkan itu memang tidak mudah, butuh waktu lama dan proses panjang. Semoga saya bisa.
      Terima kasih banyak, Kang Nata.

      Hapus
  5. Ada pertanyaan yg mengelayuti pikiran saya Mbak :
    1. Bagaimana sich cara Belajar Untuk Penyandang Tunarungu ( maaf bukan utk menyinggung ) agar bisa sepintar Mbak ?

    2. Bagaimana tips2 agar tulisan kita bisa diterima dan dimuat oleh harian surat Kabar ?

    3. Bagaimana cara menulis yang benar berdasarkan pengalaman Mbak ?

    4. Apa sich Rahasianya sehingga Mbak bisa juara satu lomba blog ?

    semoga jawabannya bisa ditulis dlm bentuk artikel : )

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya ampun, Kang Nata, Banyak juga pertanyaannya, he he, Semoga bisa saya tuliskan dalam bentuk artikel di blog. Saya mulai mengantuk jam segini. Menguap melulu. Insya Allah, akan saya upayajkan di lain kesempatan. Terima kasih.

      Hapus
  6. Kumaha damang, teh Rohyati? Aku baru tau nih yg sebenarnya. Aku jadi salut loh dg segala kerja keras dan ketekunan mbak dlm menulis. Memang ga ada sekolah cara menjadi orangtua yang baik dan sempurna. Tapi sebaik2nya anak ada pahalanya memaafkan orangtua. Sedih ceritanya hiks. Sing sabar nya ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kurang fit, Teh Nurul, sayanya gak pernah olah raga lagi. Jadi pengen latihan karate lagi agar bisa tetap bugar, soalnya olah raga itu melatih otak dan gerak secara bersamaan. Saya tak bisa berenang seperti Teteh, he he.
      Iya, terima kasih. Saya juga sedang berjuang agar bisa jadi ortu yang baik bagi anak, ngeri jika jadi toxic parent, dampaknya buruk bagi kejiwaan anak.

      Hapus
  7. Kisah yang sangat inspiratif, menurut saya, ketika Kakak menceritakan ini - tentang perjuangan Kakak untuk terus melangkah maju di tengah kondisi yang seperti itu. Berat sekali, pasti, tapi Kakak tidak menyerah. Itu poin pentingnya ... waktu itu Kakak belajar membaca gerak mulut / bibir guru dan teman kah Kak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Nonamuda Memang berat dan rasanya tak ingin mengulang lagi peristiwa itu. Malah lega tahapan hidup demikian telah lewat meski membekas juga.
      Saya biasa belajar membaca gerak mulut secara alami. Dulu kala kecil mah mudah karena tak ada gap year, setelah alami gap year selama 3 tahun maka interaksi sosial saya berkurang Saya pun alami kesulitan memahami gerak mulut lawan bicara, bahkan sampai sekarang juga. Kerap pula anatopi mulut bahkan kumis yang menutupi bibir mengganggu pembacaan saya yang mengandalkan penglihatan pada bagaimana bentuk mulut dan lidah yang mengucapkan suatu kata.

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah singgah, silakan tinggalkan jejak komentar sebagai tanda persahabatan agar saya bisa lakukan kunjungan balik. Salam.

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Penulis Sekaligus Narablog? Pasti Bisa!

Tahun 2018, Tahun Terbaik Saya dengan Blog

Mau Menulis Apa Hari Ini?