Minggu, 02 Desember 2018

Shiver, Membunuh karena Benci dan Dendam




PEMBUNUHAN adalah hasil kerja yang dilakukan seorang pembunuh demi memuaskan ego diri, atau hasrat untuk menuntaskan dendam dan kebencian yang menggumpal karena nyeri jiwani akut tak tertahankan.


JUDUL BUKU                       : Shiver
PENULIS                               : Lisa Jackson
PENERJEMAH                     : Ken Ndaru
PENYUNTING                       : Hilmi Akmal
PENYELARAS AKSARA     : Gita Romadhona
PENERBIT                            : Voila Books (Penerbit Hikmah)
CETAKAN                             : 1, Juli 2007
TEBAL                                  : 622 Halaman
HARGA                                 : Rp35.000,00 (Beli di TB Widya)
ISBN                                      : 978-979-115-001-9

Alasan semacam itu kerap menjadi pembenaran bagi insan tertentu yang dilukai fisik dan psikisnya secara parah oleh orang terdekat. Tidak hanya trauma saja yang didapat, neurosis serta fanatisme buta pun akan mendorong korban kekerasan demikian untuk menyalurkan hasrat membunuhnya dengan alasan-alasan tertentu yang dibenarkan.
Insan tersebut akan menjadi sosok paling berbahaya, apalagi jika dibarengi dengan kecerdasan intelektual tanpa keseimbangan kecerdasan pengelolaan emosi. Bahkan agama menjadi landasan pembenaran sebagai fanatisme buta demi melakukan pembunuhan tanpa merasa berdosa -- karena ia menganggap dirinya sebagai perpanjangan Tangan Tuhan.

Demikianlah, Lisa Jackson mengurai jalan cerita apik sekaligus menegangkan dalam novel tentang pembunuhan berantai yang dilakukan seorang maniak sakit jiwa. Dan rumah sakit jiwa adalah latar belakang utama yang menjadikan kisahan bermula karena ada benang merah antara kematian ibu Abby di masa silam dengan pembunuhan berantai sekarang.
Pembunuh itu rupanya pernah berada di rumah sakit jiwa dan sangat dekat dengan ibu Abby. Khayali akutnya membuat ia balas dendam pada orang-orang yang diincar.

Membicarakan pembunuhan dalam kisah fiksi butuh kepiawaian agar apa yang dideskripsikan bisa sampai pada pembaca. Pun bagaimana mengurai tokoh dan penokohan secara hidup dan meyakinkan. Kilas balik yang terselip dalam novel Shiver membantu pembaca untuk sedikit demi sedikit memahami mengapanya harus terjadi, meski tidak paham apa selanjutnya yang akan terjadi.
Narasi teka-teki adalah daya pikat cerita lewat tokoh-tokoh bergeraknya. Abby Chastain sebagai tokoh utama yang diincar pembunuh, karena sangat mirip mendiang ibunya (yang tewas bunuh diri di rumah sakit jiwa dengan terjun dari jendela kamarnya); mengalami semacam trauma psikis sehingga lupa kejadian sebenarnya. namun tetap dihantui oleh ingatan samar yang hilang-timbul lewat mimpi buruk.
Agar lepas dari mimpi buruk tersebut, ia berniat menjual pondoknya di tengah hutan dan pindah ke daerah lain yang jauh dari semua kenangan silam. Masalah timbul ketika terjadi pembunuhan pada mantan suaminya sehingga sebagai mantan istri ia masuk dalam daftar tersangka yang dicurigai. Lalu kehadiran detektif polisi Reuben Montoya ikut andil dalam hidup Abby, plus guliran cerita.
Yang menarik dari cara Lisa Jackson dalam menarasikan cerita ada pada deskripsinya yang deskriptif. Ia memakai bahasa diaan (orang ketiga tunggal) untuk memudahkan para tokoh berperan dalam cerita sebagai tokoh utama dan dukungan. Pilihan tersebut memudahkan pembaca untuk memasuki alur cerita dan terlibat di dalamnya. Bahkan ikut merasakan nuansa psikologis dalam balutan ketegangan jiwa.

Lelaki itu menyelinap di antara papan-papan yang rusak dan memandangi bangunan tempat semua yang lampau pernah terjadi. Aliran darahnya mendadak dipenuhi tenaga ketika dia berjalan menembus sesemakan yang lebat. (Halaman 31)

Menulis cerita detektif tanpa terjebak pada hal-hal yang tak masuk akal sepertinya sulit. Akan ada upaya untuk tergelincir demi memudahkan jalan cerita sehingga narasi dan pengadegan jadi tak menarik lagi. Namun Shiver dari awal sampai akhir tidaklah demikian. Terlihat betapa Lisa Jackson piawai. Memaksa pembaca dengan suka cita untuk terlibat dalam cerita karena penasaran, alur yang mengalir lancar diiringi ketegangan membuat pembaca berdebar.
Jangan remehkan bahasa dalam novel ini, bahasa yang nyastra dengan rima yang terjaga serta mengalun berat membuat pembaca terbawa untuk merasakan emosi para tokoh dalam novelnya. Dibutuhkan kerja keras dari penerjemah dan penyuntingnya, sehingga novel berbahasa Inggris ini kala diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tetap punya warna jiwa khas Lisa.

Tentang Pembunuhan dan Siapakah Pelakunya?
Pembunuhan berantai adalah kejahatan serius yang menakutkan, karena pelakunya cenderung sadis serta tanpa ragu memperlakukan korban seakan mainan tak berdaya. Ia beroleh kepuasan dan rasa kuasa tingkat dewa.  

“Aku tahu pasti kau sudah bangun,” kata orang itu, suaranya halus seperti kaca diminyaki. “Bagus. Aku ingin kau tahu apa yang sedang terjadi.” (Halaman 586)

Dalam tataran ini, biasanya pembunuh berantai membuat semacam pola khas untuk menunjukkan laku perbuatannya, pola dari segi ilmu forensik kriminalogi merujuk bagaimana kejiwaan pelaku. Ada ego superioritas bahwa ia ahli dalam hal detail, sekaligus menutupi jejak kejahatannya sehingga sulit dilacak. Begitu rapi dan terencana.
Bahkan pembaca kerap terkecoh dengan gaya bertutur Lisa, cuma bisa menebak-nebak siapa dan yang mana, sampai pada jelang-jelang bab akhir pelaku diungkapkan berikut alasannya mengapa jadi demikian.
Shiver yang jika diindonesiakan berarti ‘serpihan’ adalah semacam narasi luka jiwa seorang anak yang dewasanya menjelma maniak sakit jiwa. Lalu ia mengumpulkan semua serpihan luka itu sebagai alasan balas dendam pada para korban yang disangka banyak orang tak berkaitan, padahal ada benang merah yang menautkan.
Detektif Reuben Montoya dan Abby Chastain sibuk menduga-duga, serta berupaya mengumpulkan serpihan petunjuk dari teka-teki pembunuhan misterius itu. Lalu di tempat semuanya bermulalah, terungkap bagaimana dan mengapa. Namun ada jiwa yang terancam, kakak perempuan Abby yang diculik pembunuh dan Abby sendiri.
Bisakah Montoya menyelamatkan mereka?

Setiap Pola dan Cara Ada Jejaknya

Kasus pembunuhan berantai pertama yang ditangani Detektif Montoya terasa sangat membingungkan karena seakan tak berkaitan, sepasang korban lelaki (mantan suami Abby) dan perempuan muda (mahasiswi universitas) yang tewas di suatu tempat terpencil semula disangka pasangan selingkuh dan hasil perbuatan balas dendam
Bahkan Abby dicurigai sebagai pelaku, sampai Montoya sadar bahwa pembunuh pun mengincar Abby setelah beberapa rangkaian kasus pembunuhan berantai lagi yang tetap tak diketahui siapa pelakunya.
Petunjuk pun  terasa sumir, pelaku sangat cerdik dan licin. Namun pada akhirnya Lisa berpihak pada korban, pelaku jadi ceroboh dan lemah sehingga Montoya dan para korban yang masih hidup melakukan perlawanan.
Apa boleh buat, setiap pengarang berhak untuk menentukan kapan dan bagaimana cara mengakhiri riwayat tokohnya. Novel tebal itu tak membuat pembaca bosan, narasi Lisa tak bertele-tele, alur cerita bergulir cepat, bahasa yang apik dan enak dicerna, dialog yang lugas, juga deskripsi latar yang detail dengan pemaparan bagaimana aroma udara, rasa takut yang mencekam, keringat, darah, air mata, urin, dan serbuk mesiu. Semuanya bercampur sebagai formula kisah thriller.
Dialog dan monolog, tell dan think, analisis kejiwaan, deskripsi, balutan ketegangan, lakuan tokoh, penjabaran suasana, kilas balik yang berulang, laku kerja polisi dan orang radio, serta romansa; diramu Lisa dengan cara khas novelis kelas dunia bekerja sehingga menghasilkan karya best seller.
Kita bisa tiru bagaimana cara menulis yang baik pada Lisa Jackson. Ia total dan konsisten fokus sehingga tak mengecewakan pembaca.
Cipeujeuh, 28 November 2018
#Resensi #Novel #Thrilller #Shiver #LisaJackson #VoilaBooks #PenerbitHikmah #Bestseller #Detektif #ReubenMontoya #2007
~Foto hasil jepretan ponsel ANDROMAX PRIME

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah singgah, silakan tinggalkan jejak komentar sebagai tanda persahabatan agar saya bisa lakukan kunjungan balik. Komentar sebaiknya relevan dengan isi tulisan. Bukan link hidup dan mati, apalagi iklan karena termasuk spam.Terima kasih banyak. Salam. Rohyati Sofjan

Belajar dari Sesama Ibu Rumah Tangga Penulis

MENJADI   ibu rumah tangga dengan profesi penulis sebagai tambahan kegiatan sekaligus sumber nafkah bukanlah perkara mudah, namun bu...