Senin, 03 Desember 2018

Memasak Jengkol Mudah?



TIDAK semua orang doyan jengkol, namun masyarakat suku Sunda pada umumnya (tidak semua, memang) doyan jengkol. Entah yang mentah atau matang, yang kulitnya masih hijau muda atau sudah cokelat tua, digoreng atau dimasak dengan beragam cara dan bumbu, kering atau berkuah banyak.
Bagaimanapun cara makan dan mengolahnya, jengkol tetaplah makanan sedap dan penambah selera makan. Tak peduli aromanya menyengat serta akan membuat mulut kita bau pula, plus urin pemakan jengkol membuat polusi udara di kamar mandi untuk sementara waktu,
Saya dan keluarga termasuk pemakan jengkol, tidak selalu memang, namun setidaknya setiap tahun ada siklus kami makan jengkol kala harganya murah atau ada acara tertentu atau sedang musimnya.
Jengkol lebih mudah didapat daripada petai, harga jengkol berfluktuasi sesuai ketersediaan dan musim. Ada suatu masa sekilo jengkol mencapai harga 100 ribu rupiah atau di atasnya. Melebihi harga sekilo daging ayam atau sapi. Itu ketika jengkol menjadi komoditas langka karena sedang tidak musim, padahal banyak pelaku usaha warung makan atau sekadar peminatnya yang membutuhkan.
Pak Usep Romli H.M. bahkan menulis artikel bagus di Tribun Jabar mengenai fenomena langkanya jengkol dan harga yang menggila. Toh, ada teman yang tenang-tenang saja tetap membeli jengkol dengan alasan prestise karena harganya sedang meroket.
Siapa bilang jengkol makanan kelas bawah yang tak bergengsi? Jengkol bisa menaikkan gengsi pemakannya atau tuan rumah yang menyediakan jengkol berapa pun harganya -- kala mengundang tamu untuk makan bersama alias ngabotram.
Karena saya kategori kelas bawah yang hanya bisa makan jengkol begitu kisaran harganya wajar atau murah, maka setahun makan jengkolnya tidak terlalu sering. Meskipun sedang murah, saya tak bisa memasak jengkol atau beli semur jengkol di warung setiap hari. Perhatikan kandungan gasnya, he he.
Bagi saya memasak jengkol itu ribet, makanya lebih sering masak cara kering daripada berkuah banyak. Entah itu digoreng garing biasa untuk teman makan sambal, atau diiris tipis lalu digoreng separuh matang untuk ditumis dengan bumbu inti yang pedas.



Saya sulit memasak jengkol dengan cara disemur atau gulai. Butuh panci presto agar rebusan jengkolnya lunak sebelum dimasak dengan bumbu. Panci biasa yang saya punya untuk merebus jengkol mentah dulu. Maka jika memasak jengkol hasil olahannya kurang memuaskan, tak lunak dan bumbu tak meresap.
Berapa kali pun saya praktik memasak jengkol berkuah kental, cita rasa atau kelunakan jengkolnya tetap tak bisa menyamai hasil masakan Bi Ai istri Pak Suhara yang punya warung dekat rumah dan setiap pagi menyediakan gorengan sampai olahan masakan.
Jadi, rahasia masak jengkol yang enak dan antigagal itu bagaimana? Panci presto serta berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk merebusnya terlebih dahulu sebelum diolah jika memakai panci biasa. Sebenarnya ada baiknya juga merebus jengkol dengan abu gosok untuk mengurangi kandungan gasnya. Namun itu bagi yang mau ribet serta punya sediaan abu gosok.
Saya malas jika masak harus ribet gitu karena tak punya abu gosok, sudah lama tak memasak di hawu alias tungku kayu bakar. Lebih dimanjakan kompor gas karena harus mengerjakan hal lain daripada mengutamakan seni masak yang ribet dan segala tata caranya sesuai panduan koki ahli. 

Jadi, kala kemarin dapat sekantung keresek jengkol dari Ipah yang katanya sudah direndam dan sebaiknya direbus dulu, saya merebusnya sampai 2 kali. Air rebusan pertama langsung dibuang, diganti air baru untuk merebus ulang. Entah berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk merebusnya, itu cukup lama namun rupanya tak cukup lama untuk melunakkan jengkol.
Kala jengkol dingin yang telah saya rebus sampai dua kali digeprekkan di atas cobek batu, masih terasa keras. Saya biarkan dulu begitu seluruh jengkol telah digeprek. Besok pagi diolahnya setelah direbus lagi.
Dan direbus sampai 3 kali ternyata tak membuat jengkolnya lunak memuaskan. Barangkali saya harus merebus sampai lama dan memboroskan gas. Pun kala saya memasak dengan bumbu berkuah, hasil jadinya tetap tak mantap. Jadi sedih.
Harus menabung agar bisa beli panci presto, rebus jengkol 15 menit akan cukup lunak dan teksturnya mantap. Sekarang harga panci presto yang bermutu baik mencapai 400 ribu kontan di toko perabotan rumah tangga.
Berjuang dulu agar bisa mengumpulkan tabungan dari honor menulis demi panci presto idaman, pelengkap cara memasak jengkol secara ideal, he he.



Tadi pagi saya memasak jengkol kuah pakai bumbu balado siap saji merek DapurRKita. Abaikan susunan hurufnya, itu sesuai dengan merek. Sebenarnya saya cuma ingin berimprovisasi saja, sediaan bawang merah dan putih terbatas. Biasa beli satuan seharga gopek alias 500 rupiah di warung, jadi bumbu siap sajinya yang cuma 1.500 rupiah sekadar pelengkap rasa agar saya tak terlalu menambahkan banyak bawang.
Mari kita simak langkahnya:
Bahan: 

~ 1 piring jengkol rebus lunak yang sudah digeprek


~ 1 sacet bumbu balado DapuRKita ukuran 10 gram


~ 3 siung bawang merah
~ 1 atau 2 siung bawang putih
~ 2 butir kemiri
~ 3 batang cabai keriting merah segar
~ 1 buah tomat merah segar
~ 1 sendok gula pasir


~ garam dan Royco rasa sapi sesuai selera


~ 2 lembar daun salam
~ 2 gelas air atau lebihkan jika ingin lebih banyak kuahnya
~ minyak goreng untuk menumis bumbu halus secukupnya.

Cara Memasak:


1. Ulek sampai halus kemiri, cabai merah, bawang merah, bawang putih, tomat, dan garam secukupnya.


2. Tumis bumbu halus sampai layu, kemudian masukkan daun salam hingga harum.


3. Masukkan air lalu tambahkan satu sacet bumbu balado, biarkan sebentar sampai mendidih.


4. Masukkan jengkol ke dalam wajan, aduk-aduk sebentar hingga bercampur rata, tambahkan gula pasir kemudian tutup wajannya. Biarkan selama beberapa saat sampai mendidih untuk diaduk-aduk lagi.
 5. Tutup wajan dan kecilkan api, masak hingga jengkol lunak dan kuah mengental.
6. Angkat dan hidangkan.



Sebenarnya hasil masakan saya tak terlalu memuaskan dari segi rasa dan tekstur, saya kerap tak pas dalam hal takaran bumbu. Bumbu kurang banyak atau air untuk kuah tak pas. Saya tak tahu jenis masakan yang dibuat dengan bumbu balado itu apakah termasuk semur atau gulai. Yang jelas bukan balado doang karena beroleh tambahan bumbu berupa kemiri dan cabai merah, sekaligus daun salam dan penyedap rasa sapi untuk penguat rasa.

Saya memang jarang praktik masak jengkol bumbu kuah kental. Tingkat kegagalannya besar. Jika ingin rasa yang pas harus mengintip resep dan cara masak, entah di Cookpad atau Youtube. Namun yang paling dibutuhkan adalah peralatan yang menunjang demi memasak jengkol.
Uf, saya lupa wajan hitam besarnya bisa multifungsi, memasak atau merebus secara cepat panas. Seharusnya kemarin saya rebus jengkol pakai wajan Maspion agar lunakan dikit, karena terlalu sayang jika memasak jengkol secara lama di wajan sampai kuah kentalnya berkurang. Kuah adalah penambah rasa masakan.
Baiklah, ini catatan bagi saya yang selalu merasa gagal di dapur. Memasak jengkol dengan cara mengiris tipis dan digoreng separuh matang namun berasa pulen kayak kentang, lalu menumisnya dengan bumbu pedas lebih mudah dan praktis, namun itu tak akan meningkatkan keahlian masak saya yang selalu gagal mengolah masakan berkuah kental.
Salam.
Cipeujeuh, 24 November 2018
#Jengkol #Kuliner #CaraMasak #DapurKita
~Foto hasil jepretan ponsel ANDROMAX PRIME~

1 komentar:

  1. Saya lupa, udah pernah makan jengkol nggak ya?
    Kalau pete sih udah, dan baru sekarang-sekarang ini berani nyoba, ternyata enak yaa, meski pipis jadi bau banget hahaha.

    Saya nggak bisa sih masak pete, yang jago tuh pak suami, bisa enak kriuk-kriuk gitu.
    Nanti ah minta dimasakin jengkol kayak gini, kayaknya enak nih, macam kacang gitu ya mba?

    BalasHapus

Terima kasih sudah singgah, silakan tinggalkan jejak komentar sebagai tanda persahabatan agar saya bisa lakukan kunjungan balik. Komentar sebaiknya relevan dengan isi tulisan. Nama komentator tidak langsung mengarah ke URL pos blog agar tidak menambah beban jumlah link pemilik blog ini. Jangan sertakan link hidup dan mati, apalagi iklan karena termasuk spam.Terima kasih banyak. Salam. @rohyatisofjan

Rindu Pangandaran? Jadikan Traveloka Xperience sebagai Pegangan

Suasana Pantai Barat Pangandaran Menjelang Senja PANGANDARAN adalah rumah ketiga saya, setelah Bandung sebagai tanah kelahiran dan ...