Sabtu, 01 Desember 2018

“Leave No Trace”, Perjalanan Menghindari Keramaian


 

BARANGKALI ada cara hidup pilihan yang tak terbayangkan oleh masyarakat kebanyakan, cara hidup nomaden di alam bebas seperti hutan rimba yang sulit dijangkau manusia. Pilihan semacam itu dilakukan bukan karena aspek mentradisional, melainkan ingin lari dari ingar-bingar peradaban. Menghindari kerumunan manusia, menyepi di alam sunyi yang damai dan menenteramkan dalam kehijauan. Hanya hijau yang mengepung, bukan lagi atmosfer dunia modern. Itulah yang dipaparkan film “Leave No Trace”. Tidak meninggalkan jejak!


Adalah seorang ayah dan anak gadisnya yang remaja (diperankan Ben Foster dan Thomasin Harcourt McKenzie, hidup menetap di hutan, Taman Nasional Forest Park di Portland, Oregon. Cara hidup nomaden seperti orang hutan, alam telah menyediakan semua. Tanaman liar yang bisa dimakan daunnya, jamur liar, bahkan air dari lumut yang diperas. Segala sesuatu seakan serba terbatas, hidup dengan cara petualang alam, bertahan dan melebur bersama kehijauan untuk alasan seperti semacam pelarian namun bukan. Sebab, sesekali mereka turun gunung ke kota, membeli beragam kebutuhan harian sederhana yang benar-benar dibutuhkan, berinteraksi sebentar dengan sesama veteran perang dan para nomaden lain di Forest Park.



Mereka, lebih tepatnya sang ayah, ingin tinggal di hutan; meski hal itu bisa dikategorikan perbuatan ilegal karena menumpang hidup di tanah negara seakan tunawisma itu terlarang.



Sang ayah bukannya tak punya tujuan jika ia memilih cara hidup demikian, yang seakan menghindar dari kontak sosial dan keramaian. Ia mantan tentara yang trauma akibat perang, penyintas PTSD (post traumatic stress disorder) yang ingin berhenti mengonsumsi obat penenang, memilih hidup bebas di alam sebagai semacam cara bertahan, tak lagi bergantung pada obat-obatan yang diresepkan dokter dan psikiater. Masih ada jalan lain untuk terapi. Alamlah yang menyediakan, meski pada saat tertentu ia gelisah dalam tidurnya. Perang telah menimbulkan trauma dan mimpi buruk berkepanjangan, yang bahkan tak sepenuhnya dipahami Tom, putri tunggalnya.



Mereka hidup sehari-hari dengan cara yang bisa dibilang cukup primitif, namun mereka bahagia. Sang ayah mengajarkan banyak hal pada Tom, tentang bagaimana cara hidup di hutan sekaligus menyamarkan jejak agar tak ketahuan. Cara hidup rutinitas harian yang tak membosankan karena selalu ada petualangan. Sampai kemudian mereka ketahuan lantas “dikembalikan” pada keramaian peradaban dengan interaksi sosialnya yang bagi sang ayah dirasa sangat menekan.

BACA JUGA: “Forrest Gump”, Sisi Satir Lari 
Ia tak bahagia meski para petugas dinas sosial sangat baik dan membantu mereka agar bisa hidup “lebih beradab”. Ada pekerjaan dan tempat tinggal yang nyaman, berikut orang-orang di sekitar lingkungan yang tampak hangat dan ramah. Sang ayah tetap merasa terasing di kerumunan. Ia tak butuh itu. Tidak cara hidup ala dunia modern. Tidak juga televisi dan ponsel.



Sebaliknya Tom sangat suka kehidupan demikian, memiliki teman dan kenal banyak orang. Ia tak bermasalah dengan kehidupan sosial, namun terpaksa mengikuti cara hidup ayahnya yang antisosial. Ia merasa tak punya pilihan. Meninggalkan peternakan, mencari hidup baru lagi di hutan wilayah Amerika Utara, dekat Washington.




Ada pondok kayu di sana. Itulah tujuan ayahnya. Pondok cukup besar bagi mereka berdua, namun aman dan memberi kehangatan dari dinginnya hutan atau ganasnya cuaca. Sayangnya hal itu tak berlangsung lama. Sang ayah alami kecelakaan kala hendak turun gunung ke kota terdekat untuk membeli persediaan bahan pangan. Tom yang menemukan ayahnya berhasil beroleh bantuan dari sesama para nomaden.



Ayahnya cedera kepala, kaki, dan dada serta butuh pemulihan di perkampungan para nomaden itu. Mereka seperti hippies, sebenarnya kebanyakan mantan tentara juga, punya cara hidup nyaris serupa dengan ayahnya namun masih bersosialisasi dan membentuk semacam koloni. Di koloni itulah Tom seakan menemukan dunianya agar berhenti hidup cara lama. Ia sungguh sangat butuh bersosialisasi dan lelah berpindah-pindah ke tempat sepi.



Namun bagaimana dengan ayahnya? Bisakah menikmati cara hidup demikian? Di koloni yang tenang dan tetap dekat dengan alam serta punya cara hidup natural.

Latar Alam yang Menakjubkan



Fokus utama film “Leave No Trace” adalah hutan di taman nasional, hutan lain di dekat peternakan, juga hutan yang didiami koloni nomaden yang berumah di kabin. Hutan-hutan itu mengenalkan kita pada aspek kehidupan lain. Tempat menepi dan menyepi dari ingar-bingar kehidupan modern dengan segala kompleksitasnya.  



Para pemukim di koloni itu punya alasan untuk menjalani cara hidup demikian, ada semacam keakraban, alam pun menyediakan apa yang dibutuhkan, meski interaksi dengan dunia modern tak sepenuhnya ditinggalkan. Mereka menjalani hidup cara natural, namun ayah Tom tetap ingin mengasingkan diri dengan cara ekstrem; menjauh dari keramaian, dan terisolasi. Baginya, lebih baik hidup dengan memiliki pemikiran sendiri.



Leave No Trace” boleh dikata membenturkan realitas modernitas dengan cara hidup di alam bebas dan tak terikat pada aturan formalitas buatan manusia. Sisi lain dari kehidupan yang sebenarnya cukup getir bagi seorang mantan tentara dengan masalah sosial akibat perang. Ada kritik sosial yang disampaikan lewat laku tutur dan tindakan para pemainnya. 



Film itu bagus dari segi alur cerita, penonton akan dibawa mengikuti perjalanan ayah dan anak yang bertualang di hutan. Warna hijau daun sangat dominan dan meneduhkan. Mata kita akan dimanjakan segala sesuatu yang serba hijau dari alam. Teknik sinematografinya benar-benar menakjubkan. Seakan kita turut berada di dalamnya. Merasakan embun, bentuk aneka pakis, serta lumut dan sulur di pepohonan.
Itu mirip film dokumenter alam. Hijau yang lembut dan meneduhkan membawa kita pada dunia lain dari realitas ingar-bingar peradaban. Sesuatu yang sangat natural, hijau impian!



Para pekerja film sukses membawa penonton menjelajahi bagaimanakah hutan dan kehidupan di dalamnya. Sinematografinya luar biasa, disutradarai Michael McDonough. Film ini sangat cocok ditonton para pencinta alam, maupun mereka yang tak menginginkan perang.
Narasi yang dipaparkan seakan bergerak lambat, namun film itu memang menawarkan ketenangan bukan debar ketegangan. Kita akan dibawa menjelajahi sekian tempat setelah mengenal cara hidup nomaden di hutan, Bagaimana cara menyalakan api dengan tungkunya, menyembunyikan barang di hutan, tidur di tenda yang berlubang, menjalani pemeriksaan di kantor dinas sosial, lantas kabur dari kehidupan mapan, kemudian bergerak menjelajahi tempat lain demi kehidupan “terasing”.





Inti dari semua adalah menyangkut pilihan. Mau hidup dengan cara bagaimana asal sesuai. Karena itulah film bagus yang layak ditonton keluarga, berdasarkan novel My Abandonment karya Peter Rock, termasuk kategori go green. Mengajarkan kita mencintai alam, mengenalkan bagaimanakah hutan, juga ajakan antiperang dan menjaga perdamaian.



Palung suka musiknya. Ada banyak nilai lebih dari film hijau bernuansa sastra hijau, musik sebagai ilustrasi pengiring yang membuai.**
Cipeujeuh, 1 Desember 2018

#Film #LeaveNoTrace #Hutan #Hijau #Oregon #PeterRock #BenFoster #ThomasinHartcourtMcKenzie #VeteranPerang #PTSD #Nomaden
~Foto hasil capture  dari film “Leave No Trace

20 komentar:

  1. Seru banget filmnya mba, saya belum pernah nonton.
    Takjub banget ama orang-orang pecinta alam.
    Dan memang ya, alam itu semacam menawarkan semuanya untuk manusia, termasuk pengobatan.
    Baik psikis maupun jasmani :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga nanti Mbak Rey bisa nonton filmnya. Alam adalah hal yang sangat menakjubkan untuk dibahas, apalagi jika jadi latar untuk memaparkan kompleksitas kejiwaan manusia.

      Hapus
    2. Hahhahaha, nanti deh mba, jangan sampai tergoda sekarang, masih banyak deadline yang kudu dikerjakan.
      jeleknya saya tuh, kalau udah nonton, sulit berhenti, jadinya banyak hal gak keurus :D

      Saya hobi banget nonton emang, pokoknya baca, nulis, nonton dan nyanyi, hobi saya banget hahahaha

      Hapus
  2. Wah ini film beberapa tahun lalu ya? Kami yang suka mendaki gunung jadi banyak bangga wawasan nonton film ini. Bukan ke masalah sosialitanya tetapi lebih fokus ke alam. Jadi berasa mendengarkan kisah dongeng ya kalau di jaman sekarang masih ada sistem hidup nomaden seperti itu.

    BalasHapus
  3. Aku suka nonton film yang memiliki pemandangan alam indah dan menonjolkannya dengan baik. Belum pernah nonton pilem ini dan penasaran mau nonton ah :)

    BalasHapus
  4. wah film lama ya mba, suka dengan alur ceritanya apalagi diambil dari novel emang suka bagus ceritanya :) jadi penasaran pengen nonton nih udah lama banget aku ga nonton film sejak punya baby bala bala haha

    BalasHapus
  5. Wah..ikut penasaran dgn ending film ini mba..hehe.. Dan pasti menyenangkan sekali ikut menikmati alam liar meski hanya lewat pemandangannya ya..

    BalasHapus
  6. Kok aku jadi penasaran dengan akhir ceritanya, menarik banget sih. Aku suka film dengan genre mirip dokumenter gini, apalagi setting di hutan yang fokusnya pepohonan lebat. Coba deh gogling dan donlot film nya dulu

    BalasHapus
  7. Aku pikir film dokumenter betulan. Sampai mikir, gimana nge-charge kameranya kalau di alam, walau ada sih powerbank tenaga surya. Maklum, nggak hapal wajah artis dengan sekilas pandang aja. Hihi.

    BalasHapus
  8. Film yang menarik, bahwa ada realitas dmn manusia punya kebutuhan untuk mundur dari "semaraknya" dunia apalagi skrg dunia digital

    BalasHapus
  9. Aku sukaaa dengan film yang sinematografinya melenakan mba.. jadi selain cerita, banyak yang bisa dinikmati

    BalasHapus
  10. Wah asyik juga nih filmnya terutama jd pengen liat langsung kehidupan aehari hari di hutan...ga ada inet ga membosankan kah..hehe..

    BalasHapus
  11. Duuh, gak kebayang ada anak remaja yang masih juga bisa hidup dengan cara seperti itu, kerenlah dia.
    Hutannya kelihatan banget ya suasana ademnya, pasti dingin tuh yaaa.

    BalasHapus
  12. Tapi aku kasian sama Tom jadinya, kyk kepaksa gtu tinggal dan hidup kyk gtu, pdhl yang "sakit" kan ayahnya, mestinya anaknya berhak hidup lbh bebas lg ya.
    Terlepas dr itu kyknya film ini bagus jg bikin kita jd kenal hutan lbh deket ya mbak...

    BalasHapus
  13. Belum pernah nonton dan jadi pengen saksikan sendiri keindahan alam yang digambarkan di film ini. Pas buat petualang.

    BalasHapus
  14. MashaAllah bunda.. seperti aku sekarang butuh perjalanan ini deh hehe.. badan sudah pegal pegal ini.. ingin menikmasi kesejukan alam yang indah nan sunyi.. hutan memang bikin damai di hati ya bun.. bikin paru paru sehat juga

    BalasHapus
  15. Subhanallah, aku baca dari awal hingga akhir dan skrang pengen nonton film ini mbaaa. Pesannya dapet banget.

    BalasHapus
  16. wih keren juga ya cara hidup yang dipilihnya, kalau misalkan ini kejadian sama saya, gak akan sanggup mungkin saya hahaha teteap semua ada plus minusnya dan semua pilihan. seru banget ya ini

    BalasHapus
  17. Kereen.
    Kereen.
    Aku bisa membayangkan orang-orang sibuk di perkotaan vs orang yang sibuk dengan sebenar-benarnya kesibukan.

    Penasaran yaa...
    Ada petualangan apalagi esok...?
    Pasti ngerasa gitu deeh...

    BalasHapus
  18. jadi penasaran ama filmnya, bisa nih jadi list buat nonton saat weekend

    BalasHapus

Terima kasih sudah singgah, silakan tinggalkan jejak komentar sebagai tanda persahabatan agar saya bisa lakukan kunjungan balik. Komentar sebaiknya relevan dengan isi tulisan. Nama komentator tidak langsung mengarah ke URL pos blog agar tidak menambah beban jumlah link pemilik blog ini. Jangan sertakan link hidup dan mati, apalagi iklan karena termasuk spam.Terima kasih banyak. Salam. @rohyatisofjan

Rindu Pangandaran? Jadikan Traveloka Xperience sebagai Pegangan

Suasana Pantai Barat Pangandaran Menjelang Senja PANGANDARAN adalah rumah ketiga saya, setelah Bandung sebagai tanah kelahiran dan ...