Minggu, 02 Desember 2018

Hidup Selama 43 Tahun


 


MEMBAHAS usia adalah laku kerja yang terasa absurd karena berkaitan dengan hidup; hal apa saja yang telah kita lakukan sepanjang hayat, atau malah belum melakukan sesuatu yang dirasa berfaedah.
Hidup adalah semacam perjalanan waktu yang membawa kita melangkah ke depan, sekaligus meninggalkan jejak masa silam untuk dikenang atau dilupakan. Hidup membawa kita untuk melakukan sesuatu, yang membuat kita bersyukur atau malah menyesalinya. Hidup adalah rangkaian kejadian sesuai siklus rotasi bumi yang turut menggerakkan kita untuk terlibat dalam beragam peristiwa kecil maupun besar. Hidup membuat kita paham makna kebahagiaan dan kepahitan. Hidup adalah penanda bahwa jasad kita masih bernyawa. 


3 November kemarin, usia saya genap 43 tahun. Usia yang tidak muda lagi namun belum tua benar. Kepala 4 adalah fase usia pertengahan menuju masa yang bagi sebagian orang akan dianggap menua.

Syukuri saja karena Allah masih memberi kepercayaan pada saya untuk menjejak angka usia lanjutan yang entah sampai kapan. Jatah usia mulai berkurang seiring bertambahnya tahun-tahun yang telah saya habiskan. Namun ada banyak peristiwa yang telah saya alami, sekaligus permasalahan silih berganti. Pun berkurangnya fungsi organ bagian dalam dan luar.  

Ketika menengok ke belakang, ada banyak hal yang membuat saya terluka serta masih meninggalkan bekas yang tak bisa terhapus begitu saja. Namun hidup bergerak ke depan, waktu tak bisa diputar ulang ke belakang, dan segala sesuatu yang telah lewat biarlah dalam genggaman masa lampau. Masih ada masa mendatang yang kelak jadi silam sesuai perulangan siklus kehidupan.

Bagaimanapun, ada penyesalan dan kekecewaan seiring kebahagiaan dan ketenteraman. Hidup bukanlah sesuatu yang stagnan bagi saya sekarang. Yah, dulu kerap berada dalam posisi sulit serta stagnan, sekarang berkat adanya gawai dan internet di rumah, pergerakan dunia menyertakan saya untuk terlibat di dalamnya -- sebagai pelaku atau pengamat luar.

Jika ada istilah ‘menggenggam dunia’ atau ‘dunia dalam genggaman’, abad sekarang memungkinkan orang biasa untuk merasa demikian. Dengan syarat memiliki kemampuan adaptasi dan komunikasi, serta peralatan yang menunjang demi mobilitas sendiri.


Saya bersyukur jadi generasi X kelahiran tahun 1975, yang masa kecilnya bersentuhan dengan banyak bahan bacaan; suka menonton film sampai wayang orang; mengenal korespondensi surat lewat pos, lalu sur-el (e-mail); mengenal perkembangan chatting dari awal; tahu milis (mailing list) di Yahoo!; mengenal mesin tik dan komputer yang sistem operasinya ribet, sampai punya netbook yang mudah dan praktis; menikmati koran dan majalah sebagai sumber informasi melimpah kala media massa cetak masih berjaya; melihat tren sebagai pergerakan manusia dan budaya dalam balutan konsumerisme; bahwa politik dan dinamikanya mengubah struktur kemasyarakatan dan tata sosial suatu negara; melihat bagaimana bencana serta perang telah menjadikan manusia sebagai korban dan pemeran dalam tragedi kemanusiaan.

Itu hanya sebagian kecil contoh dari apa yang saya pikirkan. Masih banyak lagi hal lainnya yang barangkali terlewat. Sekarang masih November, hal apa saja yang membuat saya bahagia pada tahun 2018 ini? Saya harus menuliskannya untuk mengenang bahwa ada hal baik selain masa sulit. Barangkali akan ada masa sulit lagi yang siap mengadang, entah kapan.


Biarkan saya berbahagia untuk sesuatu yang barangkali bagi orang lain tiada mengesankan atau bukan apa-apa. Sebab, rasa syukur membuat saya tambah bahagia ketika berada dalam momen istimewa.

1. Tulisan Masuk Antologi Bersama ODE TO ROY


Serial “Balada Si Roy” itu istimewa. Saya pembaca generasi pertama kisah petualangan Roy di majalah Hai, lalu novel pinjaman kala usia praremaja. Bagi saya kisah Roy karya Gol A Gong itu turut membentuk karakter bawah sadar serta pengenalan sastra dalam kemasan fiksi populer yang mengasyikkan.

Sungguh mengharukan kala tulisan saya dimuat dalam buku Ode to Roy, Kisah Para Pembaca Balada Si Roy (Penerbit Epigraf, Bandung). Saya merasa telah terlibat dalam suatu perulangan momen untuk dikenang. Dan ODE TO ROY adalah buku pertama saya untuk tahun 2018.

Saya memang belum punya buku solo karena harus berjuang agar lebih produktif, namun buku antologi bersama jadi pemacu semangat saya. Kisah teman-teman pembaca Balada Si Roy yang termuat dalam antologinya menginspirasi saya. Ada banyak segi hidup yang menarik kala kita terinspirasi oleh sesuatu atau sosok tertentu. Dan Roy adalah tokoh rekaan Gol A Gong yang bukan sekadar rekaan, Roy membuat pembacanya terlibat serta dimotivasi.

Terima kasih, Kang Gol A Gong, saya bersyukur mengenal Roy!


2. Resensi dan Esai tentang Buku Catatan Pulang Angga Wijaya Dimuat Koran Terbitan Bali


Saya harus berterima kasih pada Bli Angga Wijaya yang telah memberi kepercayaan untuk mengulas buku puisinya. Catatan Pulang mendorong saya untuk produktif, menulis pembahasan buku yang sama dengan cara dan isi yang berbeda. Resensi adalah ulasan singkat atas suatu buku, dan esai adalah bahasan tambahan. Keduanya saya tulis dengan serius dan dengan nuansa sastra.

Pemuatan resensi “Angga Wijaya, Puisi, dan Skizofrenia” di harian Denpasar Post, Ahad, 11 Maret 2018, seakan penanda kembalinya saya setelah sekian tahun vakum menulis.

Lalu, esai “Puisi Medium Refleksi dan Terapi” yang dimuat di harian Pos Bali (sayangnya tak punya foto pemuatan), melegakan saya karena ada ruang untuk menampung karya. Sudah lama saya jarang menulis puisi, dan membahas puisi membantu saya untuk mengasah rasa bahasa lagi.

Semuanya juga berkat bantuan Bli Angga Wijaya agar karya saya turut mendokumentasikan perjalanan bukunya. Bukankah menyenangkan mengulas karya teman itu? Bahwa karya menunjukkan keberadaan seseorang ada jejaknya.


3. Pemuatan Cerpen di Majalah Faktual

 
Sebenarnya majalah itu turut dikelola penyair Faisal ER di Madura. Meski saya tak beroleh bukti cetakan karena kami jauh, senang rasanya cerpen “Nyai Jablay Paling Dicari!” beroleh tempat pemuatan. Tidak sia-sialah. Untuk menambah rekam jejak media yang memuat karya, he he.

4. Beroleh Kepercayaan untuk Mengedit dan Mengulas Buku Perempuan dan Literasi Karya Anna Farida

 
Saya dihubungi Bu Anna Farida lewat pesan di inbok Facebook, apakah berkenan mengoreksi kesalahan cetak alias typo dalam buku Perempuan dan Literasi karyanya yang diterbitkan Bitread. Tentu saya senang sekali meski mengoreksinya melelahkan karena rupanya buku itu tidak melalui proses penyuntingan ketat sebelum terbit.

Label indie dan dicetak secara POD (pre order distribution) membuat buku bagus itu beroleh kelemahan editing, namun sistem POD membantu penerbit dan penulis untuk mengoreksi bukunya sambil jalan karena dicetak begitu beroleh pesanan.

Beroleh buku gratis memang menyenangkan, namun tujuan saya untuk membantu sekaligus mempromosikan bukunya dengan ulasan. Semacam resensi yang sayangnya gagal tayang di media mana pun meski sudah saya tawarkan ke mana-mana. Blog pribadi adalah perhentian terakhir agar ulasan buku bagus itu tetap beroleh tempat dan dikenalkan pada khalayak. Dan syukurnya malah dimuat www.janang.id di Rubrik Katabaka pada bulan November.

(Catatan tambahan 19 April 2019: ternyata Janang baru saja expired domainnya, berarti suadah tiada lagi. Saya baru tahu setelah mencari broken link, bikin 2 pos yang menulis soal alamat Janang jadi rusak dan harus diperbaiki. Sayang memang Janang telah tumbang sebagai media abal-abal karena masalah pendanaan. Sulitnya digitalisasi media secara kontinyu karena butuh dana besar, SDM andal, dan konsistensi. Juga, jangan lupakan strategi agar medianya ramai. Ini pos pertama yang saya edit soal Janang.)

5. Dapat Hadiah Giveaway dari Blog Akarui Cha berupa Novel Arteri(o) Karya SJ Munkian



Jadi GA Hunter alias pemburu giveaway itu menyenangkan. Empat tahun silam, pada awal sampai pertengahan tahun 2014, saya kerap ikut lomba menulis blog dan giveaway, selalu ikut hal demikian setiap bulannya. Hadiahnya lumayan jika menang, kebanyakan buku dan hal lainnya, Kalah tak masalah asal sudah ikutan.

Baca novel tebal karya Kang Sangaji itu membawa saya menjelajahi dunia fantasi menakjubkan dalam balutan bahasa yang cenderung sastra. Diterbitkan Bitread, dan sayangnya tidak melalui proses penyuntingan yang ketat sehingga kesalahan typo bertebaran lebih parah daripada buku Bu Anna Farida.

Saya sampai menandainya dengan Stabilo. Semoga ke depannya dalam cetakan ulang tiada lagi kesalahan demikian. Bukunya bagus dan saya suka, sayang ulasannya belum selesai, ditunda melulu. Manajemen diri saya payah, jika sedang mengerjakan suatu hal malah melompat pada hal lain padahal belum selesai.

Semakin usia bertambah, semakin sadar bahwa waktu kian terbatas, padahal kemampuan dan stamina telah berkurang. Apalagi butuh tambahan sarana baru yang lebih baik karena netbook Acer ini sudah uzur serta harus dipakai bergantian dengan anak dan suami yang ingin menonton film sebagai hiburan.

6. Dapat Hadiah Buku Aksi Massa Karya Tan Malaka dari Giveaway Penerbit Narasi


Sebenarnya saya tak suka baca buku politik, apalagi bahasan Tan Malaka itu berat. Bukunya disimpan dulu, tak dibaca, segel plastiknya saja belum dibuka. Kapan-kapan saya baca begitu segala urusan lain telah kelar, ada banyak hal tertunda yang belum saya selesaikan.

Saya butuh waktu tenang untuk membaca Aksi Massa, buku ringan lain bisa selesai baca dalam sekali duduk secara sebentar. Namun saya belum siap bersentuhan pemikiran dengan penulis yang cenderung sosialis ini. Bukunya bisa menambah wawasan saya tentang sejarah politik dan perilaku manusia.

7. Mengenal Platform Social Blogging Lantas Hengkang


Saya pikir menyenangkan berada dalam jejaring media sosial yang berbeda daripada Facebook atau Twitter, social blogging adalah ranah baru. Kemudian saya tak nyaman begitu melihat bagaimana polah sebagian orang di dalamnya yang ramai-ramai malah melakukan penjatuhan karakter pada bulan Ramadan.

Tempat semacam itu adalah sesuatu yang sebaiknya saya tinggalkan. Dan mungkin Allah menutup pintu itu agar saya bisa memilih pintu lain. Pintu yang lebih baik, bukan pintu palsu.

Kasus tersebut memberi pelajaran besar pada saya, bahwa ungkapan ‘netizen mahabenar’, ada benarnya juga. Kumpulan massa akan mendorong perilaku tertentu untuk menunjukkan watak asli tersembunyinya. Toh, orang bisa bersembunyi di balik anonimitas, namun tak bisa bersembunyi dari yaumil hisab.

8. Esai Saya Masuk Kolom WISATA BAHASA Koran Pikiran Rakyat

 
Rupanya inilah pintu baru saya. Setelah saya bertekad untuk kembali mengurus blog pribadi yang terbengkalai dan rajin menulis esai bahasa, Pikiran Rakyat memuat “Kata Ulang Milenial” pada Ahad, 2 September 2018.

Berkat pemuatan itulah saya memasuki ruang lingkup pergaulan baru yang sedunia di WAG (WhatsApp Group) Klinik Bahasa. Saya bersyukur bisa berinteraksi dan terlibat diskusi dengan sesama peminat bahasa. Kebanyakan mereka adalah linguis, guru, dosen, pekerja media, dari institusi Badan Bahasa, sampai aneka profesi lain.


 Berada dalam WAG Klinik Bahasa mendorong saya lebih produktif menulis esai bahasa. Interaksi positif membawa manfaat bagi rangsangan ide dan bertambahnya wawasan secara bertahap. Karena itulah saya senang esai bahasa ‘Likuefaksi” dimuat Pikiran Rakyat pada Ahad, 28 Oktober 2018. Itu hari Sumpah Pemuda!

Boleh dikata, pintu dunia saya terpentang untuk dijelajahi secara intens. Maka karya lain pun bertambah, juga ruang pemuatan tidak hanya pada satu media saja. Saya bersyukur bisa kenal Pak Tendy K. Somantri yang selalu mengenalkan sekian banyak pintu untuk saya ketuk dan masuki. Berkat Pak Tendy, saya bisa kenal Pak Imam J.P. yang menyarankan agar admin WAG Klinik Bahasa mengizinkan saya memasuki pintunya.

Klinik Bahasa adalah pengganti forum diskusi di milis guyubbahasa Forum Bahasa Media Massa (FBMM) bagi saya. Ponsel android membuat ruang lingkup pergaulan saya tak terbatas lagi.

9. Sebelumnya Koran Riau Pos pun Membukakan Pintu Bahasa


Pada tahun 2014 saya sudah tertarik pada kolom ALINEA di harian Riau Pos. Epaper-nya saya simpan di folder khusus. Sayang memang saya terpaksa terhenti internetan di rumah karena hantaman masalah pribadi yang berat dan membuat depresi selama nyaris 4 tahun silam.

 Meski terlambat, kembalinya saya membuahkan hasil. Esai “Bahasa Indonesia dan Tunarungu” dimuat di kolom ALINEA Riau Pos pada Ahad, 15 Juli 2018. Alhamdulillah.

Pemuatan kolom ALINEA merupakan kerja sama Riau Pos dengan Balai Bahasa Provinsi Riau. Honornya, insya Allah, ditransfer 6 bulan setelah pemuatan, Desember depan, karena sistem pembayarannya per semester.

Redaktur bahasa selalu memberi tahu jika tulisannya hendak dimuat, pun soal honor kapan pembayarannya. Saya senang karena redaktur transparan. Langsung mengabarkan.

10. Masih Ada Ruang Bahasa di Harian Rakyat Sultra

 
Meski korannya tergolong baru, Rakyat Sultra sudah menyediakan ruang untuk puisi, cerpen, artikel sastra dan bahasa (bergantian), berikut info mengenai kosakata bahasa Indonesia pada hari Senin setiap pekannya. Bekerja sama dengan Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara.

Saya pernah kirim puisi, cerpen, dan esai bahasa dengan tenggat pemuatan 8 minggu (2 bulan). Tidak terlalu sering, namun berupaya rutin menulis dan kirim ke mana-mana, makanya kerap kekurangan stok jadi tak selalu bisa “menghujani” media tujuan dengan lebih banyak tulisan.

Alhamdulillah, media yang memiliki grup Rubrik Bahasa, Sastra, dan Budaya di Facebook sebagai pengabar pemuatan dan memajang lembar budayanya, memuat esai bahasa saya yang berjudul “Memahami Penulisan Tawa” pada Selasa, 30 Oktober 2018. Itu hari milad Palung!

Sebenarnya dapat editing serius, berupa perbaikan tanda baca, kata hubung, dan penghilangan kata yang tak perlu, serta menambahkan kata yang lebih menjelaskan. Terasa sekali redakturnya yang orang bahasa serius menangani rubrik tersebut. Sehingga perbaikan pada tulisan saya menjadikan lebih layak dan apik.

Saya senang dan malu karena dapat perhatian khusus, menyadarkan saya agar lebih giat lagi belajar dan memperhatikan kaidah penulisan. Untuk mahir butuh proses dan upaya terus-menerus, juga menjaga bacaan agar tak terbawa arus yang bisa mencemari keajekan pola bahasa bawah sadar.

11. Dapat Hadiah Buku Anak dari Giveaway Lia Herliana dan Penerbit Tiga Ananda

 
Jangan mengira saya selalu menang jika ikut giveaway atau kuis apa pun di media sosial. Lebih banyak kalahnya daripada menang, kok. Bukan jalan rezeki jika kalah, namun tak menyerah untuk mencoba lagi kala ada peluang. Rezeki itu harus diperjuangkan dengan ikhtiar dan doa. Sebuah cara standar.


Saya suka tulisan Teh Lia Herliana, makanya bahagia kala nama saya menyertai 5 nama pemenang lain. Alhamdulillah, dapat kado buku untuk milad 9 tahun Palung. Picbook yang mengajarkan anak agar bisa membangun karakter lebih baik.


Sebagai rasa terima kasih, saya menulis ulasannya di blog. Prinsip saya, hargailah pemberi hadiah buku dengan menuliskan ulasan, minimal di blog pribadi jika tak dimuat media mana pun. Memang saya belum bisa menulis ulasan semua buku hadiah yang sudah diterima, butuh waktu dan fokus, namun saya punya niat baik.

13. Turut Berperan dalam Buku Bergerak Tak Berasap
Meski bukunya belum saya terima, saya bersyukur beroleh buku kedua tahun ini. Kumpulan kisah bersama tentang Walk to School dan Bike to Work agar tak menambah polusi udara di Kota Bandung.

Para kontributor menuliskan pengalamannya soal berangkat kerja dan sekolah dengan bersepeda atau jalan kaki santai. Bagi saya bukunya mengesankan karena memberi ruang untuk mendedahkan ide dan kenangan, sekaligus harapan tentang masa depan Bandung secara ideal. Bandung adalah kota kelahiran saya!

Semoga saja di masa mendatang ada lebih banyak proyek penulisan buku yang bisa saya ikuti.

14. Membangun Blog Baru di Blogspot

Untuk beberapa alasan saya membuat blog baru. Bersyukur karena telah beroleh cukup trafik meski usianya masih belasan hari. Saya ingin blog ini lebih baik, sekaligus awal kebangkitan saya agar selalu produktif.

Blog membantu saya untuk menyediakan ruang tak terbatas yang lebih bebas dan personal. Tempat penampungan karya secara mandiri. Bagi saya blog adalah semacam arsip penyimpanan, ruang dokumentasi pribadi untuk Palung baca kala mamahnya telah tiada.

Harapan saya, semoga bisa menjadikan blog sebagai sarana mencari rezeki dengan cara memasang iklan dari Adsense dan lainnya, juga beroleh job review dari perusahaan atau agensi yang membutuhkan jasa saya.

15.  Beroleh Banyak Ucapan Selamat dari Teman-teman

Saya lebih aktif di Facebook daripada akun media sosial lain. Pun jumlah teman saya lebih banyak di Facebook, popularitas suatu media akan menentukan jumlah pengguna. Ada banyak fitur yang memudahkan interaksi, termasuk siapa saja yang sedang berulang tahun.

Senang rasanya dapat ucapan selamat ulang tahun dari orang-orang yang saya kenal lewat dunia maya dan nyata. Mereka membuat saya bersemangat dan menghargai arti silaturahmi.

Saya tahu teman adalah sosok yang bisa datang lalu pergi, namun interaksi yang terjadi membuat saya tak merasa sendiri. Dunia ini akan indah jika diisi dengan hubungan baik antarsesama, amat merugilah bagi mereka yang suka berselisih dengan sesamanya.

Terima kasih sudah membaca tulisan panjang ini, dan bertahan menuntaskannya sampai tamat. Ini lebih dari 2 ribu kata. Saya terbawa begitu saja untuk keasyikan menulis. Fase hidup seseorang akan melalui banyak pengalaman tak terduga. Demikianlah hidup saya selama 43 tahun ini. Yah, saya tak bisa membalikkannya agar tampak masih muda dan berusia 34, he he.

Salam,
Cipeujeuh, 25-26 November 2018
#Usia #43Tahun #November #2018 #BerkahHidup
~Foto hasil jepretan kamera ponsel sendiri, plus dari Angga Wijaya, Pak Imam JP, Pak Irul S. Budiarto, Faisal ER, dan Mutiara Aryani

1 komentar:

  1. Awwww..awww..awww...
    Terinspirasi banget dengan banyaknya prestasi mba Rohyati di dunia menulis.

    betewe mbaaa, saya juga pernah ngetik di mesin tik.
    Sering bahkan.

    Dulu, selepas lulus STM saya nganggur setahun karena adik saya meninggal dan mama saya sendirian jika saya langsung kuliah.
    Karena saya maunya kuliah di kota lain.

    Jadinya bosan banget nganggur di rumah, mama saya akhirnya membawa mesin tik dari kantornya, dan tiap hari saya sibukngetik mulu.

    Sayang, kertas2 ketikan tersebut dibakar oleh kakak saya.

    Dan karena mesin tik itu, sampai sekarang saya kayak kagok aja gitu ngetik di laptop, selalu kasar, kasian laptopnya hahaha

    Lah kan mesin tik itu harus dipencet yang keras kan ya :D

    BalasHapus

Terima kasih sudah singgah, silakan tinggalkan jejak komentar sebagai tanda persahabatan agar saya bisa lakukan kunjungan balik. Komentar sebaiknya relevan dengan isi tulisan. Nama komentator tidak langsung mengarah ke URL pos blog agar tidak menambah beban jumlah link pemilik blog ini. Jangan sertakan link hidup dan mati, apalagi iklan karena termasuk spam.Terima kasih banyak. Salam. @rohyatisofjan

Cara Perpanjang Domain di Niagahoster

PADA t anggal 22 Desember 2018 saya memutuskan beli domain TLD ( top level domain ), itu pun setelah dikompori Kang Nata pemilik blo...