Sabtu, 15 Desember 2018

Dan Sekarang Desember



DESEMBER bukan semata bulan dalam tahun Masehi, ada kenangan tertentu kala musim berubah sesuai rotasi bumi. Kenangan tentang seseorang yang pernah dekat meski sekadar lewat surat, itu pun hanya sebentar. Bagaimanapun, saya pernah memiliki kenangan kala mengenal seseorang dan ada interaksi personal. Zaman itu surat pos masih merupakan penghubung terbaik. Jadi, puisi adalah wakil perasaan tentang kenangan.

“Dan Sekarang Desember” adalah bagian paragraf awal dari surat elektronik saya. Kata-kata yang mengalun hangat, ditulis secara spontan dan meledak-ledak. Tentunya tidak dalam emosi amarah, sekadar luapan rasa yang membuncah.


Jujur, ini termasuk puisi langka. Saya jarang menulis puisi untuk lelaki. Hanya situasi dan momen tertentu yang akan membuat saya demikian.

Selamat menikmati kata yang meluap dari sanubari seorang penyuka puisi.

Salam.
Cipeujeuh, 15 Desember 2018



 

Dan Sekarang Desember

Dan sekarang Desember, jika itu membuatmu senang,
hari-hari yang basah dan berhujan.
Di pegunungan kabut kental menghampar,
menyelubung segala benda dan rupa:
ada batas pandang yang barangkali membuatmu
tak berdaya!

Kehijauan berselimut kelabu yang suram
seolah perdesaan lenyap ditelan kemuraman.
Terkadang angin menjelma badai,
dan diselang-seling petir.
Dunia terasa gemuruh sekaligus dingin.

Ada yang ketakutan, gemetar merutuk musim.
Ada juga yang tersenyum, mensyukuri berkah tetesan air.
Cipeujeuh, 8 Desember 2012

#Puisi #Desember #2012 #Kenangan #Panorama #Hujan #Alam #UjiantoSadewa
~Gambar hasil paint sendiri, foto hasil jepretan kamera ponsel ANDROMAX PRIME

6 komentar:

  1. Rangkaian kata yang membentuk rangkaian kalimat yang indah dan sangat menyentuh hingga bikin makjleb hatiku mengenangkan bahwa saat ini adalah bulan DESEMBER....padahal saya sedang lupa kalau ini teh bulan desember, kirain masih november

    BalasHapus
    Balasan
    1. He he he, Mang Lembu. Barangkali hujan melenakan kita sehingga lupa bahwa bulan telah lewat memasuki bulan selanjutnya. Karena hari dirasa sama, udara dingin dan basah yang menyegarkan.
      Terima kasih sudah berkenan mampir.

      Hapus
  2. Dan sekarang Desember ...
    Ini bulanku ...

    Qiqiqiqi. Keren puisinya, Kak. Sukaaaa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nonamuda lahir pada bulan Desember? Oh, selamat milad meski telat jawab. Maaf, komentar lama yang tertimbun akan dibalas kunbal setelah jawab sebagai semacam absensi soalnya nyelip, hi hi. Terima kasih jika suka.

      Hapus
  3. Puisinya bagus sekali mbak, kalau kita sedang mood2nya membuat tulisan seperti puisi diatas maka hasilnya akan luar biasa.

    Bulan Desember Oh bulan Desember, heheheh....

    BalasHapus
    Balasan
    1. He he he, Kang Nata napa tak bikin puisi di blog sendiri. Pasti hasilnya keren dan ada melodi. Terima kasih, Kang.

      Hapus

Terima kasih sudah singgah, silakan tinggalkan jejak komentar sebagai tanda persahabatan agar saya bisa lakukan kunjungan balik. Komentar sebaiknya relevan dengan isi tulisan. Nama komentator tidak langsung mengarah ke URL pos blog agar tidak menambah beban jumlah link pemilik blog ini. Jangan sertakan link hidup dan mati, apalagi iklan karena termasuk spam.Terima kasih banyak. Salam. @rohyatisofjan

Rindu Pangandaran? Jadikan Traveloka Xperience sebagai Pegangan

Suasana Pantai Barat Pangandaran Menjelang Senja PANGANDARAN adalah rumah ketiga saya, setelah Bandung sebagai tanah kelahiran dan ...