Kamis, 20 Desember 2018

Bintang untuk Bintang




BINTANG ingin menanam bintang di langit-langit kamar. Setiap malam ia suka membuka jendela kamarnya hanya untuk menyaksikan kerlap-kerlip gemintang di angkasa yang berpendaran.

Ia selalu terpesona pada panorama malam yang dihamparkan Tuhan. Bagi Bintang, bintang itu keajaiban yang menerangi kelam, sayang hanya pada malam saja ia bisa menyaksikan gemintang.

Namun malam tak selalu membolehkan bintang bersinar. Ada kabut awan hitam yang pada saat tertentu menyelubungi kilau bintang hingga tak terlihat dari bumi, seolah malam adalah kanvas hitam semata. Kalau sudah demikian, Bintang suka merasa kesepian.

Suatu malam, ketika bintang menghilang, Bintang yang habis membuka jendela kamar menghampiri Ibu yang sedang menyulam di ruang tengah. “Bu, bisakah kita menanam bintang di langit-langit kamar Bintang, agar Bintang bisa selalu menyaksikan bintang kala rebahan?”

Ibu tertegun, ia menghentikan pekerjaannya, dipandanginya anak semata wayang yang baru masuk TK. Ibu ingin tertawa, namun demi melihat keseriusan Bintang, Ibu tidak tega.

Seisi rumah sudah tahu kesukaan Bintang pada bintang. Ibu, Bapak, termasuk Kang Aris dan Teh Rima sopir dan pembantu di rumah mereka. Ibu tersenyum dan membelai rambut Bintang, “Akan kita usahakan.”

“Benar, Bu?”

Ibu mengangguk, “Nanti Ibu akan bicara dulu dengan Bapak soal bintang. Pergilah tidur, jangan lupa sikat gigi dan berdoa.” Ibu mencium lembut pipi Bintang yang ranum. Dan berdiri untuk mengantar anaknya ke kamar tdur.

Bintang memeluk Ibu, “Terima kasih, Bu. Tadi Bintang sudah sikat gigi.” Ia melompat ke atas ranjang. Dan Ibu menyelimuti Bintang.


BAGI  Ibu, memenuhi keinginan anaknya bukanlah hal yang sulit, sesuatu yang mustahil bisa mungkin. Malam itu Ibu menghentikan kegiatan menyulamnya, dan menggantinya dengan menyulam manik-manik bintang untuk Bintang.

Ibu ingin Bintang senang. Ibu akan bilang pada Bapak nantinya agar membuat kerajinan berbentuk bintang, lalu diberi lampu kecil untuk dipasang di atas langit-langit kamar. Malam kian larut, Ibu masih asyik menyulam bintang....

SETELAH berhari-hari, akhirnya tugas menyulam selesai. Prakarya Bapak yang sederhana dan memanfaatkan barang bekas yang ada, plus rangkaian elektronik untuk menyalakan bintang pun telah diujicoba Bapak.

Ibu, dengan dibantu Kang Aris dan Teh Rima, sibuk memasang bintang ketika Bintang sedang mengaji di masjid bareng anak-anak tetangga.

Dan setelah makan malam, ketika Bintang masuk kamar karena kelelahan, lampu kamar padam, namun Bintang terpesona karena tepat di atas langit-langit kamarnya ia melihat rangkaian bintang menyala terang didampingi manik-manik cantik berbentuk bintang.

Ibu dan Bapak masuk kamar, tersenyum melihat putra mereka melongo takjub. “Bintang suka?” tanya ibu lembut.

Bintang menoleh dan mengangguk. Ia menghambur ke arah kedua orang tuanya dan memeluk mereka. “Terima kasih, Ibu dan Bapak. Bintang suka.”

MAKA setiap malam, jika bintang tak bersinar di luar, Bintang tak perlu merasa khawatir atau kecewa. Ia akan menyalakan lampu bintang-bintang kecilnya, agar kerlipnya menyala terang di antara manik-manik bintang buatan Ibu tersayang.***

#Sudah dimuat di Majalah Imut
#Cernak #Bintang #MajalahImut
~Foto hasil jepretan ponsel ANDROMAX PRIME  


3 komentar:

  1. Bintang untuk bintang, bintangnya mau dapat berapa bintang ? ayoo ngomong dengan Oom... ntar dikasih bintang 4 yach... plus es krim, hehehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. He nhe, Nanti Bintang bilang ingin lebih banyak bintangnya, apa Om Nata tetap akan ngasih es krim?

      Hapus
  2. Hahaha.. Bintang senang yaaa dapat banyak hiasan bintang di kamarnya, hiasan bintang itu cantik seperti bintang-bintang di langit.
    Dan bintang-bintang di langitpun ikut tersenyum melihat hiasan bintang-bintang itu.
    Bintang mengabadikan hiasan bintang dan bintang-bintang di langit ke dalam sebuah lukisan.

    Lukisan Bintang tentang hiasan bintang dan bintang-bintang di langit bagus sekali.
    Dan Bintang mendapat 5 bintang atas karya bintang-bintang tersebut.

    ya ampuunn mbaaa, banyak ya bintangnya, gak mau kalah saya ama kang Nata hahahaha

    BalasHapus

Terima kasih sudah singgah, silakan tinggalkan jejak komentar sebagai tanda persahabatan agar saya bisa lakukan kunjungan balik. Komentar sebaiknya relevan dengan isi tulisan. Nama komentator tidak langsung mengarah ke URL pos blog agar tidak menambah beban jumlah link pemilik blog ini. Jangan sertakan link hidup dan mati, apalagi iklan karena termasuk spam.Terima kasih banyak. Salam. @rohyatisofjan

Rindu Pangandaran? Jadikan Traveloka Xperience sebagai Pegangan

Suasana Pantai Barat Pangandaran Menjelang Senja PANGANDARAN adalah rumah ketiga saya, setelah Bandung sebagai tanah kelahiran dan ...