Rabu, 05 Desember 2018

Ada Alasan Mengapa Mamah-mamah 40 Tahunan Tak Kuat Begadang



USIA adalah batasan kita dalam melakukan sesuatu. Entah apakah akan memulai awal yang baik atau awal yang bisa jadi semacam petualangan baru. Semakin bertambah usia, semakin terbuka kemungkinan untuk melakukan banyak hal, namun bisa juga merupakan batasan untuk melakukan banyak hal. 

Batasan demikian disebut limit dalam bahasa Inggrisnya. Yah, saya malah ingat iklan produk dengan jargon “No limit!”

Kita mampu melakukan banyak hal namun hal tersebut akan membentur dinding batas. Dinding itu bisa jadi berupa tembok batu tebal, tinggi pula untuk kita lompati atau terlalu berat untuk didobrak pakai pemalu batu sekalipun.

Pun usia. Ia mengenal batas sebagai penanda masa siklus waktu. Apakah kala kau dalam rahim ibumu, lalu lahir sebagai bayi, tumbuh menjelma kanak-kanak, berkembang sebagai remaja, mencapai masa dewasa, lalu menua sesuai bergulirnya hari yang ditentukan rotasi bumi terhadap matahari. Lantas kau kembali pada ketiadaan berupa kematian.



Saya ingin bahas mengenal batasan kapasitas kala usia bertambah. Kita mengenal falsafah bahwa kehidupan dimulai pada usia 40 tahun. Pada usia demikian semestinya menjadi batas bagi kita untuk mengenal dan mendalami hal-hal yang berkaitan dengan norma dan agama. Batas untuk berhenti berbuat maksiat dalam beragam bentuknya: lisan, tulisan, niatan. dan tindakan!

Bahkan batasan itu tidak mencakup hal besar semata, hal-hal kecil pun akan kita alami. Semisal kekuatan atau daya tahan tubuh yang berkurang, selain elastisitas kulit yang tak lagi mengencang.

Tubuh akan mengenal siklus untuk lebih sering beristirahat kala fisik terasa rapuh dan mudah lelah. Karena itu tak bijak memforsir diri dalam bekerja; kala usia diibaratkan bukit yang menanjak maka akan menurun pula prima kita mendakinya.



Pada usia 20 dan 30-an, saya masih mampu begadang, kerja sampai malam; menuliskan banyak hal atau malah sekadar menonton anime One Piece maupun drakor untuk menuntaskan rasa penasaran.

Namun pada usia 40-an, pelan namun pasti saya merasakan perubahan berkaitan dengan daya tahan, bahkan massa tulang. Sekarang tubuh mengenal batasan. Limit untuk berhenti dan jangan memforsir diri.

Kau akan mudah lelah dan mengantuk kala jam tidur menuntut istirahat dari segala aktivitas yang membuat badanmu remuk. Maka, beristirahatlah. Pulihkan dirimu agar kembali segar dalam segi fisik dan psikis. Tidur bisa sebagai pilihan. Asal jam tidurnya jangan terlalu lama. Bangunlah kala jam biologis atau kumandang azan memanggilmu agar lepas dari buaian mimpi dan segera kembali pada dunia nyata.

Mewujudkan kerja nyata!

Saya sadar dengan bertambahnya usia seperti sekarang ini, 42 tahun, berarti jatah hidup di dunia kian berkurang. Sekaligus akan alami menopause alias masa berhentinya siklus haid sebagai penanda tidak subur lagi dan tak bisa hamil.

Yah, saat ini saya masih alami menstruasi namun terpaksa di-KB usai melahirkan Palung dengan bedah caesar 8 tahun silam demi alasan medis dan finansial. 5 tahun IUD, 3 bulan suntik, lalu sampai sekarang memilih pil KB sebagai alat kontrasepsi yang aman dan nyaman. Soalnya IUD tak nyaman dan suntik sekali saja membuat saya kapok, mengingatkan pada masa-masa di rumah sakit.

Kala masih lajang di Bandung, saya sampai heran dengan teman chatting di mIRc di Yogya karena doi kuat begadang. Kerja di warnet membuatnya kerap kebagian tugas malam sampai pagi. Jelas saya yang kerja dari pagi sampai malam setiap hari tanpa libur kala tanggal merah di toko kecil tak akan kuat menjalani siklus kerja demikian.Saya masih gadis muda yang butuh bobo cantik agar esok paginya bisa kembali segar kala bekerja.

 Dan teman-teman di komunitas Mnemonic Geng Mnuliz, yang bermarkas di toko buku Wabule (Warung Buku Lesehan), Bandung, kerap kumpul-kumpul dengan sesama teman penulis lain, sampai subuh mengobrolnya.  Kuat, ya, begadangnya. Maklum anak muda pencinta baca dan tulis kalau kumpul-kumpul pasti banyak hal yang ingin dibahas.

Saya mah tak pernah ikutan acara begadang demikian.Mana tahan!

Dan sekarang, saya lebih nyaman menulis sampai di bawah jam tengah malam. Kalau sampai lewat tengah malam tetap begadang rasanya tak nyaman. Kadang saya terjaga pada jam sekian dini hari lalu kembali bekerja.

Kondisi fisik dan psikis akan memengaruhi hasil tulisan kita. Jika suasana hati suntuk dan lelah, maka tulisan kita seakan tak bertenaga.

Kala menulis, ada banyak hal yang tanpa sadar kita salurkan ke dalam tulisan sehingga pembaca ikut merasakan. Kalau tulisannya loyo bisa jadi yang menulis lagi suntuk dan kelelahan.

Saya akan memilih berhenti kala kantuk menyerang; untuk menghindarkan pembaca dari rasa bosan yang tak sengaja saya salurkan ke dalam tulisan.

Tulisan adalah wakil dari perasaan dan pemikiran seseorang.
Cipeujeuh, 13 Mei 2018
#Sehat #Usia #40Tahun #Perempuan #Siklus #Begadang #Menulis
~Gambar hasil dari Paint sendiri~

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                

2 komentar:

  1. Benar banget mba, saya juga udah ga kuat begadang, eh tepatnya ga kuat kurang tidur, padahal masih 30 plus plus haha.
    Begadang sih masih kuat, ga kerasa ngantuk sampai pagi, tapi setelah pagi, kepala migren dan butuh waktu istrahat lama sampai migrennya hilang.

    makanya sekurang-kurangnya waktu tidur, saya selalu usaha cukupin di waktu siang :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Butuh waktu lama agar sadar ada yang berubah dalam tubuh, dulu mah tak sadar. Baru sadar setelah kepala 4. Sekarang mah kalau begadang bisa mual, tubuh butuh istirahat, kepala butuh asupan oksigen, makanya mual.
      Begadangnya juga terpaksa demi sinyal. Sekarang baiknya jangan ngoyo. Isi paket data kala hari cerah, agar tak perlu berurusan dengan gawai yang saling ngambek gara-gara sinyal luplap sampai saling memutuskan hubungan hotspot, he he.
      Sekarang lagi cerah sore ini, netbook 9 tahun dan ponsel 9 bulanan akur kerja sama kalau cuaca cerah da sinyal tak raib.

      Hapus

Terima kasih sudah singgah, silakan tinggalkan jejak komentar sebagai tanda persahabatan agar saya bisa lakukan kunjungan balik. Komentar sebaiknya relevan dengan isi tulisan. Bukan link hidup dan mati, apalagi iklan karena termasuk spam.Terima kasih banyak. Salam. Rohyati Sofjan

Belajar dari Sesama Ibu Rumah Tangga Penulis

MENJADI   ibu rumah tangga dengan profesi penulis sebagai tambahan kegiatan sekaligus sumber nafkah bukanlah perkara mudah, namun bu...