4 Kesalahan dalam Membangun Blog Baru di Blogspot



SEMUA bermula dari tidak bisanya saya memberi komentar pada kolom komentar blog yang dikunjungi karena selalu berada di luar akun blog padahal tak logout (keluar). Jelas saya bingung adakah kesalahan seting pada dasbor (dashboard) sehingga saya tak bisa berkomentar.

Sudah coba utak-atik namun nihil. Ya, sudah, saya lelah dan khawatir jika mengutak-atik dasbor lebih lanjut lagi maka tampilan blog akan tambah kacau. Sudah googling namun tetap tiada jawaban tepat atas kasus saya.
Jadi saya terpaksa bikin akun gmail baru agar bisa bikin blog baru. Saya tak bisa bikin blog baru di akun gmail yang sama dengan blog lama karena khawatir masalah akan tetap tak bisa teratasi, seakan ada kesalahan seting pada pengaturan dasbor atau gmail saya.
Beberapa hari kemudian saya baru tahu penyebab kasus selalu berada di luar akun blog, semuanya karena perisai Firefox Developer Edition yang memproteksi secara berlebihan pada setiap situs yang diduga tak aman dengan mengaktifkan perisai alias shield yang ada di sudut kiri kolom untuk mengetikkan alamat.
Otomatis perisainya akan menyala ungu tiap saya melakukan kunjungan pada situs bahkan blog yang terduga tak aman. Akibatnya saya selalu berada di luar akun dan tak bisa berkomentar karena peramban Firefox Biru tersebut menamengi aktivitas perambanannya. Tiada pilihan, setelah saya perhatikan cara kerjanya, nonaktifkan saja perisai tersebut. Tiada lagi pemblokiran pada blog yang saya kunjungi, jadi saya bisa berkomentar karena tidak keluar dari akun blog.



Baiklah, bahasan itu akan saya tulis dalam artikel lain secara lebih lengkap. Yang akan saya bahas adalah blog baru. Sudah telanjur bikin blog baru dan saya suka tampilannya karena lebih canggih untuk dibaca di ponsel pintar alias readable for smartphone, maka saya pertahankan saja.
Lagipula, saya rasa harus benahi tampilan blog agar lebih baik dengan cara memindahkan isi blog lama ke dalam blog baru, mempercantiknya dengan foto dan gambar ilustrasi penunjang, juga memilih jenis huruf dan ukuran yang tepat untuk blog agar mudah terindeks oleh mesin pencari.
Namun jelas tak mudah membangun blog itu, dari segi isi sampai tampilan. Saya terpaksa bongkar-pasang lagi karena salah dalam hal pengaturan jenis huruf dan ukurannya. Pokoknya melelahkan dan bikin senewen.

Mari kita lihat apa saja kesalahan saya:

1. Jenis huruf
Sebelumnya saya tak googling agar tahu jenis huruf mana saja yang baik untuk blog. Saya sempat baca tulisan di blog lain bahwa sebaiknya jangan Comic Sans, namun tak dijelaskan mengapa.
Saya mencari lagi di mesin pencari dan dapat jawaban di blog yang khusus untuk tutorial di contohblog. Di sana saya dapat penjelasan lengkap mengenai alasan memilih jenis huruf yang tepat agar lebih mudah terindeks mesin pencari, berkaitan dengan optimalisasi SEO (search engine organize). Jadi, sebaiknya pilih saja yang aman dan lazim dipakai pada beberapa situs besar juga seperti arial, verdana, Georgia, dan satu lagi.



Saya putuskan pilih arial agar aman karena beberapa situs berita populer pun kebanyakan memakai jenis huruf arial. Harus saya akui arial lebih mudah dibaca bagi orang yang punya masalah dengan penglihatan. Daripada comic sans yang meski cantik namun ada kekurangan karena huruf a-nya a tanpa lekukan seperti arial, a-nya seperti ini: a.
Yah, meski tulisan tangan saya juga a-nya seperi comic namun bagi yang punya masalah penglihatan itu bisa disangka o.
Bertambahnya usia berikut segala permasalahan kesehatan seperti mulai berkurangnya kemampuan daya lihat membuat saya harus sadar dan tak egois memilih jenis huruf tidak seperti dulu, asal suka tanpa mempertimbangkan pengunjung yang bertandang.
Bukankah kita membuat blog agar bisa berbagi dan dikunjungi tamu yang ingin beroleh manfaat atau sekadar memuaskan rasa ingin tahunya. Jadi, saya ubah tampilan huruf di blog saya: arial semuanya!

2. Ukuran Huruf
Sebelumnya saya memilih ukuran 18, saya pikir itu batas aman agar tak kekecilan atau kebesaran karena ada teman sesama narablog (blogger) yang protes soal ukuran huruf kekecilan dalam tulisan di blog lama saya. Sampai Tiara protes kala membaca blog barunya, ukuran huruf gede banget Dan jarak antarspasi terlalu lebar!



Begitu, ya, saya jadi bingung kala melihat hasil tangkapan layar (screenshoot) dari ponsel Tiara. Saya ubah jadi 16, namun rupanya itu tidak memuaskan Tiara kala membandingkan dengan hasil tangkapan layar dari blog https://leylahana.com; masih tetap besar!



Baiklah, saya tak punya ponsel pintar berupa layar sentuh yang bisa diperbesar atau diperkecil ukurannya, ponsel ANDROMAX PRIME saya yang sederhana punya banyak keterbatasan, jadi saya tak bisa memastikan bagaimana bentuk blog dalam tampilan ponsel pintar karena mengandalkan layar netbook ukuran 10.
Tiara sangat membantu untuk memastikan bahwa bentuk blog saya dari segi isi sampai ukuran dan jenis hurufnya memuaskan pengunjung. Terima kasih, Tiara.
Saya kembali membuka contohblog, mencari artikel panduan untuk ukuran huruf yang tepat. Ternyata 14 adalah ukuran yang dianggap lazim dan berterima secara SEO. Apa boleh buat, saya harus mengedit ulang semua hasil posting-an yang telah telanjur berukuran BESAR ke dalam huruf arial saja dengan ukuran 14 semuanya!



Inilah kesalahan saya, langsung membuat blog tanpa memperhatikan dasar-dasar utama berupa memilih jenis huruf dan ukurannya yang tepat. Dua kesalahan di atas jangan sampai dilakukan narablog pemula kala hendak bikin blog baru. Cukup sayalah yang demikian dan kelimpungan karena mengedit tampilan yang telanjur salah itu makan waktu dan tenaga, sekaligus melelahkan secara psikis. Ada hal penting lain yang terpaksa ditunda demi perbaiki blog.
Pengalaman saya semoga bisa menjadi pelajaran bagi diri sendiri maupun pembaca tulisan ini yang berkunjung. Lebih baik bikin catatan tentang langkah demi langkah kala hendak membuat blog. Kumpulkan dulu panduan agar lebih praktis.

3. Terlalu Banyak Membuat Label
Label adalah semacam kategori bagi tulisan kita agar lebih mudah dicari dan terstruktur. Label juga membantu kita agar lebih memiliki pola pemisahan dari setiap tulisan, sehingga setiap label fokus pada tulisan tertentu, dan pengunjung terbantu untuk mengetahui label mana yang akan dipilih sesuai minat mereka.
Label bahkan membantu agensi atau pemberi job review untuk memastikan kelayakan blog, jika kita memang menerima pekerjaan sebagai conten writer atau pengulas produk maupun jasa, bahkan acara.
Saya membuat kesalahan lagi karena tak melakukan metoda ilmiah sebelum membuat blog baru, terlalu banyak membuat label!
Ada 30 lebih label yang saya sematkan pada setiap tulisan. Cerpen, puisi, esai sastra, bahasa, opini, cerita lucu, dongeng, cerita anak, novelet, makalah, adaptasi drakor, jalan-jalan, kuliner, info keuangan, tentang blog, film, buku, pajang buku, dan lainnya.
Dipikir-pikir kategori sebanyak itu terlalu ribet dan bikin pusing saja, ya? He he. Apalagi setelah saya baca tulisan di blog lain bahwa bikin label sebaiknya 7 saja.



Yah, 7 label memang bisa membuat kategori yang akan tampil di atas halaman muka blog lebih jelas di layar komputer, tidak terpotong dengan lainnya. Apalagi di layar ponsel hanya akan tampil 2 kategori saja dari label berupa beranda dan lainnya.
Saya sempat kelimpungan bagaimana cara membuat kategori yang bisa dropdown seperti di blog lain, ternyata panduan yang saya baca tidak bisa diterapkan pada blog saya, entah karena template-nya tak memungkinkan atau cara yang saya lakukan salah.
Namun yang jelas tema yang saya pilih merupakan hal baru dan telah menyediakan dropdown secara otomatis jika kita membuat lebih dari 7 label, maka kelebihan itu di bagian ujung akhir akan menjadi lainnya; dan jika diketuk maka akan muncul secara dropdown beberapa label di bawahnya berikut tautan yang selabel jika kita memilih salah satu label untuk dilihat.
Baiklah, saya merasa nyaman dengan tema baru dari blogspot ini. Saya tak perlu ribet lagi setelah sebelumnya meribetkan diri karena tidak tahu. Saya menciutkan label menjadi beberapa saja. Tidak sampai puluhan lagi. Dan lagi-lagi makan waktu untuk mengedit semua label menjadi beberapa label pilihan. 
Tulisan ini sudah lebih dari 1.000 kata, bahasan label akan saya tulis di artikel lain.

4. Asal Pilih Gambar dan Foto sebagai Ilustrasi
Halo, saya telah belajar dari kesalahan di blog lama yang kerap tanpa ilustrasi gambar maupun foto, maka saya berupaya memilih foto atau gambar untuk mempercantik tulisan. Kebanyakan foto pribadi, atau hasil capture dari film pakai GOM Player. Kadang juga saya bikin tulisan dari paint.
Yah, kemampuan desain grafis saya terbatas, tak bisa menggambar dan tak punya aplikasi untuk membantu membuat ilustrasi. Dulu ada aplikasi photoshop, sayang hilang kala komputer rusak dan diservis. Kala komputer saya masih Windows XP, ada aplikasi untuk membuat gambar atau memilih dari tampilan yang sudah ada. Saya bodoh menginstal ke Windows 7 sehingga beberapa aplikasi bawaan dari pabrik yang canggih ikut hilang, termasuk ACER EYE CRYSTAL WEBCAM yang tajam resolusinya.



Sekarang saya hanya bisa memaksimalkan apa yang ada, hasil foto sendiri yang resolusinya kurang tajam karena kamera ponselnya terbatas serta tak memiliki flash bawaan; memilih capture dari film tertentu; membuat gambar yang kebanyakan tulisan dengan paint; meminjam foto karya teman atau ilustrasi dengan cara mencantumkan sumber; dan mengambil foto atau poster film dari situs lain dengan mencantumkan sumber pula.
Saya tak mau mengambil foto dari situs lain secara sembarangan. Bagaimana jika sumbernya dilindungi hak cipta dan tidak untuk disebarluaskan? Atau termasuk berbayar? Lebih aman kita yang mengupayakan fotonya sendiri.
Demikianlah kesalahan saya. Sampai jumpa pada tulisan berikutnya. Semoga tulisan ini berfaedah. Terima kasih sudah baca dan singgah.
Salam.
Cipeujeuh, 24 November 2018
#Blog #CaraMembangunBlog #KesalahanBlogger #JenisHurufBlog #MemilihUkuranHuruf #LabelJanganBanyak #Blogspot
~Foto hasil jepretan ponsel ANDROMAX PRIME, gambar hasil paint sendiri~
~Foto desain judul blog dan tangkapan layar ponsel dari Mutiara Aryani~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Penulis Sekaligus Narablog? Pasti Bisa!

Tahun 2018, Tahun Terbaik Saya dengan Blog

Mau Menulis Apa Hari Ini?