Jumat, 02 November 2018

Tuan Tukang Suruh




SORE sebelum azan ashar berkumandang dari masjid RT 06, Tuan Tukang Suruh mengendarai motor matic-nya melintasi gang panjang yang masuk wilayah RT 07. daerah kekuasaan yang diketuainya, bagian paling barat dari RT-RT sebelumnya, berhenti di depan rumah warga lalu memarkir motor di bawah pohon mangga.

Tujuan utama Tuan Tukang Suruh bukanlah rumah di depan pohon mangga melainkan lebih ke belakang dari rumah itu, di bagian paling bawah. Ia berjalan melewati jalan setapak sempit yang hanya muat dilewati satu orang, jalan yang sama sekali belum tersentuh beton seperti gang yang barusan dilintasi dengan motornya.

Sendiri dan terpencil dari rumah warga lain dan dikelilingi ladang adalah rumah milik Kacung. Dan tujuan utama Tuan Tukang Suruh untuk menemui empunya rumah.  Kacung yang sedang sibuk membuat atap untuk pekarangan samping rumahnya terganggu dengan kedatangan Tuan Tukang Suruh. Ia bosan berurusan dengan Tuan Tukang Suruh karena sudah pasti akan disuruh-suruh seperti yang kerap dialaminya, dan tanpa bayaran uang.

Kacung heran, apakah ia tak punya martabat sehingga Tuan Tukang Suruh lebih merasa bermartabat dengan memperlakukan orang lain seenaknya. Ia memang hanya kacung bagi orang lain. Bekerja sebagai buruh tani atau bangunan bagi pemilik kebun, sawah, atau rumah yang akan dibangun. Ia bekerja demi upah tak seberapa untuk penyambung hidup keluarganya. 

Prinsip Kacung, kerja apa saja asal halal. Karena itulah Kacung rela membarter keringatnya dengan lembaran rupiah. Setengah hari kerja di kebun atau sawah orang tanpa dikasih makan beroleh upah standar kampung 35 ribu, dan 30 ribu jika dengan makan. Karena itulah hidupnya pas-pasan sebab mengolah sawah atau kebun hanya pekerjaan musiman.

Beruntung bagi Kacung,  Mang Dul tukang tepercaya di kampung karena hasil kerjanya rapi dan cekatan, mengajak Kacung kerja jadi laden alias asisten tukang. Kerjanya memang sampai sore, bisa jam 5 pulangnya, namun upahnya lumayan. 65 ribu tanpa makan atau 60 ribu jika dengan makan. Dan itu beroleh tambahan rokok, kopi, sampai camilan sebagaimana kerja di kebun atau sawah juga.

Kerja jadi kuli bangunan lebih baik daripada sawah atau kebun, setidaknya Kacung dan orang yang senasib dengannya bisa menyambung kerja tiap hari sampai proyek selesai. Itu berarti bisa mengumpulkan lembaran rupiah lebih banyak. Syukur-syukur bisa ditabung sisanya.

Yah, Kacung tahu mestinya menabung sebagai awal bukan dari apa yang tersisa. Namun kebutuhan primer lebih mendesak. Setiap istrinya menyisihkan sebagian dari upah ke dalam celengan kaleng yang bisa dikunci sebelum dibelanjakan, biasanya sepuluh  ribuan atau dua puluh ribuan, kerap pula ia terpaksa mengambil tabungan tersebut untuk keperluan mendesak jika Kacung menganggur.

Mereka mengandalkan tabungan anak tunggalnya di sekolah sebagai tabungan rutin yang tidak untuk diambil. Cuma 2 ribu tiap hari, kadang juga 5 ribu. Dan belum mencapai jumlah 100 ribu.

Barangkali bagi insan lain yang senasib dengan Kacung, keringat kuli sangat besar artinya demi penyambung hidup keluarga. Kacung bisa mandiri  dengan cara menggantungkan hidup pada orang yang membutuhkan tenaganya. Itu kehidupan yang bermartabat meski berurusan dengan tanah, lumpur, semen, pasir, sampai pupuk kandang yang diangkutnya di atas punggung.

Dan jika ia membandingkan hidupnya dengan Tuan Tukang Suruh, apakah dianggap tidak bermartabat karena lebih miskin daripada Tuan Tukang Suruh. Ia memang hanya Kacung, tak punya tanah-kebun-sawah-apalagi barang berharga lainnya.

Rumah pun menumpang sementara di atas tanah carik. Hanya rumah panggung sederhana yang dipindahkan dari tanah yang mestinya hak istri Kacung namun malah dijual mertua Kacung secara semena-mena karena beliau terlilit utang bodoh pada sekian bank dan  lintah darat, lalu ingin mengadu nasib di kota sendirian tanpa peduli anak cucunya berbekal uang penjual tanah. Sekarang wanita itu barusan meninggal secara tragis, dimakan keserakahan dan ambisinya yang tak berujung pangkal.

Kacung menghentikan kerja memperbaiki atap, ikut duduk di bale-bale meski enggan. Menyimak ucapan Tuan Tukang Suruh yang menyuruhnya ke rumah nanti lepas magrib.

Omat!” katanya. Selalu saja kata omat yang berarti kata halus untuk mendesak malah disalahgunakan untuk mengintimidasi dalam artian memaksa orang yang tak berkenan. Omat yang sering digunakan dalam nasihat kebaikan orang Sunda telah digeserkan maknanya jika dipakai Tuan Tukang Suruh untuk menyuruh orang lain seperti Kacung.

Tak jelas apa yang dimaui Tuan Tukang Suruh, Kacung enggan menanyakan lebih lanjut karena ia malas utuk memenuhi permintaan atau lebih tepatnya suruhan Tuan Tukang Suruh nanti.

Karena itulah lepas magrib ia tidak datang, tidak juga hari-hari lainnya. Kacung sudah muak. Ia bukan korban satu-satunya Tuan Tukang Suruh. Sebelumnya ada Pak Pii yang pernah disuruh-suruh seenaknya juga. Dan sebagaimana Pak Pii, Kacung pun mengalami nasib menggantung dengan upah 200 ribu yang sampai kini belum dibayarnya. Itu upah dari anak Tuan Tukang Suruh kala Kacung kerja jadi laden Tuan Tukang Suruh untuk bikin rumah anaknya.

Jika Pak Pii harus makan hati karena upahnya lama sekali dibayar, Kacung tidak jelas apakah akan dibayar. Tuan Tukang Suruh selalu beralasan belum ditransfer anaknya, atau anaknya belum datang bawa uang. Itu kerja dari bulan puasa. Sekarang sudah dua bulan ia tetap belum dapat bayaran. Entah apakah uang dari anaknya dipakai Tuan Tukang Suruh dulu, atau Tuan Tukang Suruh ngeyel mengerjai Kacung karena mulai tidak “patuh”.

Dulu Kacung patuh, disuruh-suruh karena merasa bergantung pada Tuan Tukang Suruh. Namun akal sehatnya berontak, ia merasa tak berfaedah gaul dengan insan macam demikian. Berlagak bossy, meninggikan diri, tidak menghargai. Apakah Tuan Tukang Suruh merasa sebagai “raja kecil” di wilayahnya? Hanya karena pernah memberi kerja pada Kacung dengan bayaran uang secara benar bukan berarti selanjutnya boleh berlaku tak benar.

Menyuruh Kacung datang kapan saja, malam-malam padahal capai habis kerja jadi kuli di tempat lain, lalu Kacung yang malang disuruh memijat Tuan Tukang Suruh yang pegal atau apa saja, tanpa bayaran uang pula. Kacung kesal. Tiap disuruh memijat Abah Ail atau cucu lelakinya atau siapa saja, Kacung selalu dapat bayaran memadai. Bisa 15 sampai 30 ribu. Jangan harap beroleh upah dari Tuan Tukang Suruh.  Apa kopi, rokok dan camilan cukup? Kacung tak bisa bawa pulang uang untuk jajan anaknya yang baru kelas 2 Madrasah Ibtidaiyah, setara SD.

Reputasi Tuan Tukang Suruh di kampung memang tidak baik. Lelaki jelang 50 tahun itu kerjanya saja tidak jelas apa. Sesekali ngojek, entah dapat uang dari mana. Kiriman dari anak-anaknya di lain kota? Kacung tidak tahu. Dia hanya bingung dengan nasibnya. Ia lelaki rumahan yang bertanggung jawab, sayang istri dan anak karena mereka hanya bertiga dan tak bisa mengandalkan sesiapa.

Memang ada Uwak Heni di kota yang kadang membantu mereka. Sepupu istrinya itu tiap jelang lebaran selalu transfer uang barang 100 sampai 200 ribu untuk anak Kacung.Pernah juga menggunakan tenaga Kacung untuk merenovasi rumah. Dan orang semacam Uwak Heni serta suaminya adalah tipikal bos yang baik.

Bagi Kacung, ia kenyang berurusan dengan tipe bos kurang atau tidak baik. Ia bersyukur masih banyak bos baik bahkan superbaik -- karena bisa kasbon dan kerap memberi beras atau bahan makanan lainnya untuk Kacung. Baginya Tuan Tukang Suruh adalah bos yang mesti dihindarinya.

Istri Kacung lega suaminya tidak bergaul lagi dengan Tuan Tukang Suruh, takut terpengaruh. Ia hanya khawatir dengan reputasi lelaki tersebut yang konon gemar minum miras dan main cewek.

Sekarang Kacung memilih mengabdi pada Mang Dul, lelaki itu bos yang baik. Kacung hanya berharap bisa menimba ilmu pertukangan pada paman istrinya. Dan jika sedang tidak ada proyek dengan Mang Dul, Kacung jualan sarung tangan kaus murah-meriah, 2 ribu rupiah per pasang. Keliling sampai kampung terjauh, nun di seberang kampung istrinya di bukit lain, bahkan menyeberang sampai desa di kecamatan lain. Melewati kampung demi kampung sampai pematang sawah demi menyambung hidup bahwa sebagai lelaki ia lebih bermartabat daripada lelaki yang kerap menyuruh-nyuruh dengan seenaknya.***
Cipeujeuh, 11 September 2017

#Cerpen #KisahKampung #SubUrban #Kuli #Petani #Laden #InsanBakhil
~Foto hasil jepretan kamera ponsel ANDROMAX PRIME~




1 komentar:

  1. Mbaaaa.. baca ini saya jadi teringat 4 tahun lalu pernah kerja di sebuah kontraktor yang spesial membangun rumah mewah.

    Saya dipercaya oleh pak boss sehingga diminta mengurusin hampir semua kerjaan termasuk gaji pekerja proyek.

    Dulu seingat saya upah asisten tukang tuh sekitar 65-75 ribu deh.
    Dan saya ingat betul salah satu alasan saya keluar (selain anak) karena saya gak kuat liat pak boss terkesan semena-mena ama pekerja.

    Meskipun sebenarnya pak boss gitu karena sering juga ditipu.
    Jadinya dia seringnya jadi gak percayaan dan hitung-hitungan ama pekerja.

    Yang pusing saya, bingung mau memihak yang mana.
    Sementara saya tahu betul kalau pekerja itu amat sangat butuh upahnya yang gak seberapa, namun kadang juga ditahan ama si pak boss

    BalasHapus

Terima kasih sudah singgah, silakan tinggalkan jejak komentar sebagai tanda persahabatan agar saya bisa lakukan kunjungan balik. Komentar sebaiknya relevan dengan isi tulisan. Bukan link hidup dan mati, apalagi iklan karena termasuk spam.Terima kasih banyak. Salam. Rohyati Sofjan

99.Co Indonesia, Prortal Jual Beli Properti Abad 21

HALANGAN terbesar selama ini dalam mencari atau menjual properti adalah keterbatasan informasi. Tidak heran, jual beli properti bukan...