Jumat, 02 November 2018

Hujan dan Puisi: Momen Puitik Paling Dinanti




HUJAN adalah sumber inspirasi tak bertepi bagi saya untuk meruahkan rasa hingga menjelma puisi. Meski pada akhirnya puisi yang saya tulis dalam suasana hujan gagal merangkai momen puitik.  Hujan pula mengingatkan saya pada peristiwa lampau atau yang barusan terjadi. Hal-hal aktual atau faktual. Singkatnya, hujan seakan membuat saya trance dalam stimung bawah sadar.

 Saya bukan orang yang mahir mengolah kata karena kedalaman pikiran kerap tak diimbangi dengan pengetahuan. Pun filosofi hidup saya yang tecermin dalam puisi menggambarkan bagaimana saya ini. seseorang yang terbiasa berpikir secara sederhana tanpa pemahaman intisari falsafah pemikir besar.

Saya selalu merindukan hujan dengan harapan bisa bersua momen puitik untuk mencipta puisi terbaik. Namun apa, sih, acuan terbaik itu? Hanya terbaik dalam versi saya atau mengikuti orang lain?

Seumur hidup ini, berapa banyak puisi yang telah saya baca dari kanak sampai dewasa. Dan kapan saya menganggap puisi adalah hal serius? Makanan bagi jiwa. 


Saya selalu tanpa sadar butuh membaca puisi. Maka ketika kanak, remaja, sampai dewasa kebutuhan akan puisi berupaya dipenuhi. Dan pemenuhan itu tak selalu dengan cara disengaja, kadang pula tak disengaja yang seakan memang harus tampak wajar adanya.

Ketika menikah perasaan saya terhadap puisi seakan berbeda, saya kurang merenung dibanding masa lajang. Mungkin saya tak punya waktu untuk sungguh-sungguh melakukan kegiatan perenungan yang menghasilkan puisi. Atau jatuh cinta adalah tema besar yang merangsang saya untuk berpuisi?


Dan sekarang saya tidak sedang jatuh cinta pada seseorang seperti dulu lagi, maka saya tidak punya alasan untuk menulis puisi tentang cinta yang berkesan mengumbar hal gombal. Saya telah melabuhkan hati pada suami sampai sekarang. Hanya saja, saya tak bisa mengekspresikan rasa ke dalam puisi tentang suami. Mungkin karena hubungan kami seakan telah menjadi semacam kewajaran sehingga kurang getar-getar asmara selain ketenangan yang mendalam. Jadi saya merasa sulit mengungkapkan.


Namun saya masih mengingat nama lelaki yang pernah singgah mengisi hati. Lelaki yang telah membuat saya jatuh cinta. Lelaki yang membuat saya menulis sekian banyak puisi. Lelaki demikian adalah lelaki yang istimewa karena tak menyodorkan luka bagi perjamuan rasa saya.

 Lelaki yang menjadi subjek cinta platonis jilid lima adalah seseorang yang tanpa disadari sebagai sosok yang membuat saya jatuh cinta secara dewasa. Itu bukan cinta monyet kala remaja. Itu adalah pengantar saya untuk membuka lebih banyak pintu tuju dengan keberanian. Cinta itulah yang mengantarkan saya hingga menjadi seperti sekarang.


Pada hakikatnya puisi memberi saya suasana tersendiri, yang seakan menarik saya ke dalam pusaran dimensi asing lewat kata-kata ajaib nan putik yang bergulir.
Saya suka puisi, dengan membaca atau menulis puisi seakan merupakan jeda dari rutinitas pengap yang memenatkan jiwa.


Dan seorang penyair yang karyanya begitu sangat menggugah saya kala remaja (baru kelas 1 MTs. pada tahun 1992) adalah Acep Zamzam Noor dengan buku kumpulan puisi yang saya lupa judulnya apa. Ada satu puisi yang membuat saya merinding kala itu karena terasa berbeda dengan sekian puisi lain yang sudah dibaca.

Mungkin begini isinya dalam sisa ingatan saya yang sayup: Aku kini doa/ Berbaringlah di sini dan lupakan cakrawala atau (dunia?)….

Kala menulis ini, saya iseng mengetik kata kunci ke dalam mesin pencari dan menemukan video menarik dari Peter Hayat yang melagukan syair “Aku Kini Doa” karya Acep Zamzam Noor. Silakan tonton di sini: https://www.youtube.com/watch?v=BWDp_lAMcMI

 "Aku Kini Doa", Puisi Acep Zamzam Noor, Musikalisasi Puisi oleh Peter Hayat dan Kawan-kawan.

Ah, bicara tentang puisi, saya rasa harus akhiri. Palung sudah pulang sekolah. Saatnya bagi kami untuk ke pasar kecamatan, beli baju lebaran untuk Palung.

Palung adalah puisi nyata dalam hidup saya dan suami.

Kaulah puisi itu, bahwa hadirmu
kunci pembuka pintu menuju bahagia.

Saya berharap selalu bisa menulis puisi kapan saja, tak membutuhkan hujan sebagai mediumnya. Meskipun demikian, saya selalu membutuhkan hujan karena suasananya kerap membawa saya pada muram tak terdefinisikan.

Salam puisi.
  Cipeujeuh, 18 Mei 2018

~Foto hasil capture pakai GOM Player dari drakor “Go Back Couple”~
~Foto Acep Zamzam Noor dari blognya di http://puisi-acepzamzamnoor.blogspot.com/

#Litera #Hujan #Puisi #Cinta #AkuKiniDoa #CintaPlatonis #AcepZamzamNoor

24 komentar:

  1. Kalau disuruh pilih, saya lebih baik membuat pantun daripada puisi, apalagi disuruh membaca puisi hehe... Dulu pernah membuat puisi dan puisi saya dibacakan oleh saudara di acara keluarga besar, mendapat apresiasi senang rasanya. Padahal waktu membuatnya mendadak saat di perjalanan menggunakan mobil menuju acara keluarga besar tersebut. Kebetulan saja kata-katanya keluar begitu saja sambil mengamati lingkungan sekitar. Tapi, sekarang tidak diseriuskan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Membuat pantun itu menyenangkan dan lucu. Saya juga dulu suka pantun karena mudah diingat dan dipelesetkan, sekarang malah lupa pantun sederhana.

      Dapat apresiasi dari keluarga besar itu hebat, loh. Karena tidak semua orang menghargai puisi.

      Hapus
  2. Luar biasa. Jangan menyerah, teruslah berpuisi. Karena puisi adalah semangat hidup dalam khayal dan nyata. Hidup kita adalah puisi yang bisa kita lakoni sesuai skenario yang kita buat sendiri. Semangat terus !!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Bunda. Aih, hidup kita adalah puisi memang benar adanya. 🤗

      Hapus
  3. Luar biasa. Jangan menyerah, teruslah berpuisi. Karena puisi adalah semangat hidup dalam khayal dan nyata. Hidup kita adalah puisi yang bisa kita lakoni sesuai skenario yang kita buat sendiri. Semangat terus !!!

    BalasHapus
  4. Dengan berpuisi katanya bisa mengasah kepekaan nurani dan jiwa ya mbak..sy suka dengerin org bc puisi tp klo sy yg baca puisi ga pede deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dengerin orang baca puisi itu juga bikin hati lebih lembut karena puisi mengantarkan seseorang untuk memasuki ruang kontemplasi lewat kata-kata yang simbolis.

      Hapus
  5. Hiks, klo teteh yg udh ngehasilin buku dibilang tidak pandai mengolah kata, apa kabarnya sayaaaa? Sy mah yakin teh Rohayati gak perlu nunggu hujan jg bisa bikin puisi berbait-bait.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin karena saya malas jika suasana luar tidak mendukung. Tapi harusnya bisa menulis puisi dalam cuaca bagaimana pun.

      Hapus
  6. Bener banget, hujan itu seolah jadi tali untuk mendapatkan inspirasi. Suka jadi lebih gampang gitu bikin kata2 klo lagi hujan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Soalnya suasana yang mendukung bikin kita lebih lancar menuangkan perasaan.

      Hapus
  7. Saya sendiri sebenarnya cukup menyukai puisi. Tetapi saya masih sulit untuk bisa membuat puisi yang bagus. Kesulitan saya adalah masih binggung dalam pemilihan kata yang tepat. Sampai saat ini saya terus belajar membuat puisi yang bagus. Ada beberapa sastrawan yang puisinya saya jadikan rujukan untuk membuat puisi, misalnya eyang Sapardi Djoko Damono. Puisi beliau sangat bagus, pemilihan katanya sungguh indah dan memikat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau untuk memilih kata yang tepat dan menggetarkan menurut saya harus sering menulis dan membaca puisi serta jangan ditunda.

      Saya selalu butuh baca buku puisi agar bisa dapatkan sentuhan untuk merupakan perasaan menjadi rangkaian kata yang bermakna dan menggetarkan jiwa saya.

      Hapus
  8. Saat Mbak Rohyati masuk MTs, saya lulus SMA 😁

    Btw, saya tertarik dengan ini, Mbak:
    Mungkin karena hubungan kami seakan telah menjadi semacam kewajaran sehingga kurang getar-getar asmara selain ketenangan yang mendalam

    Nah, saya pengen baca puisi tentang "ketenangan mendalam" dari Mbak Rohyati. Mungkin perlu dicari benang merahnya kali ya. Bagaimana dulu membuat puisi asmara. Rasa yang mirip-mirip itu ada kan ya ...

    Kalau Mbak Rohyati sudah lama senang puisi, saya percaya bisa bikin lagi. Dan entah kenapa kok pengen sekali baca puisi buatan Mbak.

    Soalnya saya hanya pengagum orang bisa bikin puisi. 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya berhenti sekolah setamat SD selama 3 tahun. Kalau tidak berhenti pasti sudah masuk SMA. He he.

      Duh, ketenangan mendalam, ingin sekali saya tuliskan puisinya. Terima kasih sudah menyemangati. Saya malu karena masih merasa hanya bermain kata

      Hapus
  9. saya juga duka dengan hujan teteh, meski saya alergi air hujan kalau udah kedinginan bisa menggigil, pasti kalau hujan depan jendela akan menikmatinya, dan kemudian akan tercipta deretan puisi indah mengenang banyak hal, termasuk berpuisi untuk lelakiku yang selalu ada buat aku dalam suka dna duka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Teh Mei tidak pajang puisinya di blog atau media sosial? Saya pengen baca.

      Hapus
  10. Kalau sama Jeung Rohyati, semua bisa jadi puisi ya, dunia indah penuh kata bermakna.. entah kenapa sekarang masih buntu untuk nulis puisi lagi, mungkin karena terlalu sibuk, atau memang belum ada ide aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak semua hal bisa jadi puisi. Masalahnya puisi kerap datang pada saat saya mengerjakan sesuatu tanpa berpikir. Seakan itulah jeda agar saya berpuisi namun tidak bisa segera meninggalkan pekerjaan. Mencuci piring dan pakaian malah membuat saya memikirkan kata-kata puitik daripada memasak. Da memasak mah harus fokus mikir langkah demi langkah agar masakan tepat hasilnya.
      Jeng Wise barangkali menjadikan masak sebagai pengganti puisi, Hi hi.

      Hapus
  11. saya suka sekali dengan suasana hujan teteh, kalau ada puisi tentang hujan saya suka. ternyata untuk orang tua anak adalah puisi mereka ya teh, semoga Palung sehat sukses dan selalu bahagia dan menjadi kebanggaan teteh dan suami

    BalasHapus
  12. menulis puisi itu sulit bagi saya, walaupun banyak yang bilang puisi itu rangakaian kata bebas, tetap sulit bagi saya, harus berpikir keras itu menuliskan puisi yang indah, salut dnegan orang-orang yang dapat menulis puisi dnegan apik

    BalasHapus
  13. Berbicara puisi memang banyak hal yang bisa diungkapkan, namun tidak semua juga bisa mengungkapkan dengan puisi. Selain membutuhkan kejelian, pendalaman makna dari setiap kata, puisi erat kaitannya dengan suasana hati pembuatnya.

    BalasHapus
  14. Puisi itu memang sesuai dengan pengalaman hati, jadi pastinya pengalaman hidup sangat bwrpengaruh pada perjalanan seseorang dalam menikmati puisi

    BalasHapus
  15. Hujan adalah salah satu waktu terbaik untuk berdoa minta apa saja kepada Allah. Disaat hujan turun berharap tidak menyebabkan banjir

    BalasHapus

Terima kasih sudah singgah, silakan tinggalkan jejak komentar sebagai tanda persahabatan agar saya bisa lakukan kunjungan balik. Komentar sebaiknya relevan dengan isi tulisan. Nama komentator tidak langsung mengarah ke URL pos blog agar tidak menambah beban jumlah link pemilik blog ini. Jangan sertakan link hidup dan mati, apalagi iklan karena termasuk spam.Terima kasih banyak. Salam. @rohyatisofjan

Rengganing dan Camilan Tradisional Garut

Ini disebut rengganing, ya. Beda dengan rangginang. Gak tahu juga mengapa nama keduanya agak mirip. Entah pula siapa yang duluan ada. Ran...